Janji Manis Ledakan Ekonomi Piala Dunia 2026, Awas! Tensi Geopolitik Bisa Bikin Zonk
Kamis, 11 Juni 2026 - 20:51 WIB
“Pemesanan mulai meningkat karena waktu tunggu lebih pendek jika orang datang secara domestik. Maskapai sepertinya berjalan lancar, tapi saya pikir pasar yang bisa dijangkau dengan mobil juga akan sangat besar di sini,” kata Allison O’Connor, wakil presiden komunikasi di Asosiasi Perjalanan Amerika Serikat.
Namun keluhan terbesar terletak pada sistem dynamic pricing (harga dinamis) yang diterapkan oleh FIFA. Strategi yang dikecam asosiasi suporter sebagai "pemerasan dan pengkhianatan monumental" ini membuat harga tiket melambung ke angka yang tidak masuk akal.
Presiden FIFA Gianni Infantino membela strategi tersebut di Konferensi Milken Institute awal tahun ini. “Kita berada di pasar di mana hiburan paling berkembang di dunia, jadi kita harus menerapkan tarif pasar,” katanya waktu itu.
Berdasarkan pantauan di situs resmi FIFA dan Ticketmaster, tiket untuk kelas paling bawah (nosebleed section) di Dallas saja sudah dibanderol di atas USD800 (Rp14,2 juta dengan kurs Rp17,822) per lembar. Lebih gila lagi, tiket untuk laga final pada 19 Juli mendatang di MetLife Stadium dijual mulai dari USD9.200 (Rp163 juta) hingga bisa menyentuh angka fantastis USD43.553.
Saking parahnya eksploitasi harga ini, Jaksa Agung New York, Letitia James, dan Jaksa Agung New Jersey secara resmi meluncurkan penyelidikan hukum dan melayangkan panggilan pengadilan (subpoena) kepada pihak FIFA atas dugaan manipulasi harga tiket yang mencekik warga lokal.
Beragam kompensasi lokal diberikan, mulai dari nobar gratisan bagi warga yang tidak mampu membeli tiket stadion. Beberapa pemerintah kota bahkan melakukan langkah darurat demi meredam gejolak sosial.
Contohnya New York dengan menyediakan lotre 1.000 tiket murah seharga USD50 (bukan untuk laga final) serta mengadakan acara nonton bareng (watch party) gratis untuk 50.000 orang di Central Park. Beda lagi dengan Atlanta, dimana ada organisasi nonprofit membuat turnamen tandingan bernama "The People's Cup" agar warga miskin tetap bisa merasakan atmosfer sepak bola.
Di sisi lain, beberapa kota mencoba menghibur diri dengan memanfaatkan momentum Piala Dunia untuk mempercepat proyek infrastruktur jangka panjang yang selama ini terbengkalai. Houston sukses meluncurkan Green Corridor berupa jalur sepeda dan perluasan trem bawah tanah.
Sementara Kansas City menyewa 215 bus tambahan guna meningkatkan akses transportasi publik, meskipun langkah ini sempat memicu kontroversi lokal.
Harta Tiket Mahal Bikin Dompet Bolong
Tumpuan beralih ke penonton domestik ketika warga lokal AS yang menguasai 70% pemesanan tiket pesawat diharapkan mampu menjadi penyelamat. Namun warga lokal sendiri saat ini sedang tercekik oleh stagnasi lapangan kerja dan inflasi barang pokok, termasuk harga bensin yang melesat ke USD4,16 per galon akibat imbas konflik geopolitik AS-Israel dengan Iran.Namun keluhan terbesar terletak pada sistem dynamic pricing (harga dinamis) yang diterapkan oleh FIFA. Strategi yang dikecam asosiasi suporter sebagai "pemerasan dan pengkhianatan monumental" ini membuat harga tiket melambung ke angka yang tidak masuk akal.
Presiden FIFA Gianni Infantino membela strategi tersebut di Konferensi Milken Institute awal tahun ini. “Kita berada di pasar di mana hiburan paling berkembang di dunia, jadi kita harus menerapkan tarif pasar,” katanya waktu itu.
Berdasarkan pantauan di situs resmi FIFA dan Ticketmaster, tiket untuk kelas paling bawah (nosebleed section) di Dallas saja sudah dibanderol di atas USD800 (Rp14,2 juta dengan kurs Rp17,822) per lembar. Lebih gila lagi, tiket untuk laga final pada 19 Juli mendatang di MetLife Stadium dijual mulai dari USD9.200 (Rp163 juta) hingga bisa menyentuh angka fantastis USD43.553.
Saking parahnya eksploitasi harga ini, Jaksa Agung New York, Letitia James, dan Jaksa Agung New Jersey secara resmi meluncurkan penyelidikan hukum dan melayangkan panggilan pengadilan (subpoena) kepada pihak FIFA atas dugaan manipulasi harga tiket yang mencekik warga lokal.
Beragam kompensasi lokal diberikan, mulai dari nobar gratisan bagi warga yang tidak mampu membeli tiket stadion. Beberapa pemerintah kota bahkan melakukan langkah darurat demi meredam gejolak sosial.
Contohnya New York dengan menyediakan lotre 1.000 tiket murah seharga USD50 (bukan untuk laga final) serta mengadakan acara nonton bareng (watch party) gratis untuk 50.000 orang di Central Park. Beda lagi dengan Atlanta, dimana ada organisasi nonprofit membuat turnamen tandingan bernama "The People's Cup" agar warga miskin tetap bisa merasakan atmosfer sepak bola.
Di sisi lain, beberapa kota mencoba menghibur diri dengan memanfaatkan momentum Piala Dunia untuk mempercepat proyek infrastruktur jangka panjang yang selama ini terbengkalai. Houston sukses meluncurkan Green Corridor berupa jalur sepeda dan perluasan trem bawah tanah.
Sementara Kansas City menyewa 215 bus tambahan guna meningkatkan akses transportasi publik, meskipun langkah ini sempat memicu kontroversi lokal.
(akr)
Lihat Juga :