Rekor Terburuk Sejak 1986! Yen Jepang Hancur Lebur ke Titik Terendah
Selasa, 30 Juni 2026 - 20:01 WIB
Jurang Suku Bunga: Taktik Carry Trade Kuras Yen
Hancurnya nilai tukar Yen disebabkan oleh kebijakan moneter yang bertolak belakang antara Bank Sentral AS (The Fed) dan Bank Sentral Jepang (BOJ). Meskipun BOJ baru-baru ini sudah menaikkan suku bunga mereka secara bertahap, angka tersebut masih terlampau jauh di bawah suku bunga AS.Lebih buruknya lagi, kondisi ekonomi AS yang masih overheating dan angka inflasi yang membubung tinggi membuat 9 dari 19 pembuat kebijakan di The Fed kini memproyeksikan kenaikan suku bunga lanjutan pada akhir tahun 2026.
Baca Juga: Iran Bebas Produksi, Jual, dan Kirim Minyak Mentah, Bayar Pakai Dolar AS
Jurang perbedaan suku bunga (yield gap) yang sangat lebar ini memicu maraknya aksi para investor raksasa untuk melakukan Carry Trade, dimana investor meminjam uang dengan bunga sangat murah dalam bentuk Yen Jepang. Lalu dana pinjaman ini langsung dijual dan dialihkan untuk diinvestasikan pada aset-aset bermata uang dolar AS yang memberikan imbal hasil (bunga) jauh lebih tinggi.
Aksi lepas yen secara masif inilah yang membuat mata uang Negeri Sakura tersebut terus hanyut melawan arus. Padahal, pada periode April dan Mei lalu, Kementerian Keuangan Jepang tercatat sudah membakar dana fantastis sebesar 11,7 triliun yen (setara Rp1.170 triliun lebih) hanya untuk mengintervensi pasar dan menyelamatkan Yen. Namun efek suntikan dana raksasa tersebut kini menguap tidak berbekas dalam hitungan minggu.
Sinyal Intervensi Jilid Dua Jepang?
Merespons situasi darurat ini, Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama langsung mengeluarkan pernyataan resmi di hadapan media. Katayama menegaskan, bahwa pemerintah Jepang berada dalam posisi siaga penuh dan siap mengambil tindakan yang diperlukan untuk meredam spekulasi liar di pasar valas.Lihat Juga :