Target Energi Bersih, Masih Jauh Kabel dari Pembangkit
Senin, 28 September 2020 - 22:04 WIB
"Kendalanya memang harga EBT kita masih tinggi. Pasar EBT di Indonesia masih kecil jadi belum masuk ke skala keekonomian," ungkapnya.
Sutijastoto melanjutkan, harga pembelian tenaga listrik dari PLT EBT belum mencerminkan nilai keekonomian yang wajar sehingga tidak kompetitif. "Untuk itu perlu kita dorong sehingga market berkembang. Begitu market berkembang maka akan kompetitif dan harga turun sehingga affordability jadi lebih baik," imbuhanya. ( Baca juga:Deretan Pejabat Indonesia yang Meninggal Dunia akibat Covid-19 )
Kendala lainnya seperti keterbatasan infrastruktur jaringan transmisi dan distribusi listrik PLN sehingga masih mengandalkan teknologi impor. Di sisi lain, keterbatasan akses pada pendanaan yang murah juga masih terbatas.
"Makanya kita sedang mengupayakan untuk bisa akses ke pendanaan yang murah. Kemudian keterbatasan sumber daya manusia (SDM) ini sangat memengaruhi. Dalam pelaksanaan proyek-proyek ini pengendaliannya lebih pada ke pihak ketiga sehingga cost-nya jadi lebih tinggi," jelas Sutijastoto.
Sutijastoto melanjutkan, harga pembelian tenaga listrik dari PLT EBT belum mencerminkan nilai keekonomian yang wajar sehingga tidak kompetitif. "Untuk itu perlu kita dorong sehingga market berkembang. Begitu market berkembang maka akan kompetitif dan harga turun sehingga affordability jadi lebih baik," imbuhanya. ( Baca juga:Deretan Pejabat Indonesia yang Meninggal Dunia akibat Covid-19 )
Kendala lainnya seperti keterbatasan infrastruktur jaringan transmisi dan distribusi listrik PLN sehingga masih mengandalkan teknologi impor. Di sisi lain, keterbatasan akses pada pendanaan yang murah juga masih terbatas.
"Makanya kita sedang mengupayakan untuk bisa akses ke pendanaan yang murah. Kemudian keterbatasan sumber daya manusia (SDM) ini sangat memengaruhi. Dalam pelaksanaan proyek-proyek ini pengendaliannya lebih pada ke pihak ketiga sehingga cost-nya jadi lebih tinggi," jelas Sutijastoto.
(uka)
Lihat Juga :