Angkasa Pura II Ekspansi ke Sektor Energi Baru Terbarukan
Jum'at, 23 Oktober 2020 - 02:00 WIB
“Kami memohon bantuan dari Ditjen EBTKE untuk membuat konsep energy management dalam rangka mewujudkan green airport di bandara PT Angkasa Pura II. Untuk pilot project akan dilakukan di Bandara Banyuwangi, Jawa Timur, karena di sana pembangunannya sudah mengadopsi ke arah green airport.”
PT Angkasa Pura II menargetkan dalam dua tahun penggunaan EBT pada bandara kelolaannya bisa mencapai 10% dalam dua tahun mendatang. Saat ini suplai listrik ke Bandara Soekarno-Hatta saja bisa sebesar 65 megawatt. “Dan pada 2 tahun mendatang kami menargetkan suplai dari EBT bisa menggantikan 6,5 megawatt suplai tersebut,” pungkas Muhammad Awaluddin.
Baca Juga: Angkasa Pura II Siapkan Layanan VIP bagi Pekerja Migran Indonesia
Adapun saat ini di kawasan Bandara Soekarno-Hatta sudah dilakukan pemanfaatan EBT. menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di atap gedung Airport Operation Control Center (AOCC) dengan kapasitas maksimal 241 kWp. PLTS tersebut menjadi pintu masuk bagi energi baru terbarukan untuk digunakan lebih maksimal di bandara-bandara PT Angkasa Pura II.
Dirjen EBTKE Kementerian ESDM FX Sutijastoto mengatakan, MoU ini akan menjadi penting karena secara global sudah terjadi transformasi energi, perubahan dari energi fosil ke energi baru terbarukan. “Kita harapkan realisasi transformasi perubahan itu bisa berjalan optimal,” pungkasnya
PT Angkasa Pura II menargetkan dalam dua tahun penggunaan EBT pada bandara kelolaannya bisa mencapai 10% dalam dua tahun mendatang. Saat ini suplai listrik ke Bandara Soekarno-Hatta saja bisa sebesar 65 megawatt. “Dan pada 2 tahun mendatang kami menargetkan suplai dari EBT bisa menggantikan 6,5 megawatt suplai tersebut,” pungkas Muhammad Awaluddin.
Baca Juga: Angkasa Pura II Siapkan Layanan VIP bagi Pekerja Migran Indonesia
Adapun saat ini di kawasan Bandara Soekarno-Hatta sudah dilakukan pemanfaatan EBT. menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di atap gedung Airport Operation Control Center (AOCC) dengan kapasitas maksimal 241 kWp. PLTS tersebut menjadi pintu masuk bagi energi baru terbarukan untuk digunakan lebih maksimal di bandara-bandara PT Angkasa Pura II.
Dirjen EBTKE Kementerian ESDM FX Sutijastoto mengatakan, MoU ini akan menjadi penting karena secara global sudah terjadi transformasi energi, perubahan dari energi fosil ke energi baru terbarukan. “Kita harapkan realisasi transformasi perubahan itu bisa berjalan optimal,” pungkasnya
(nng)
Lihat Juga :