Di Tengah Ekonomi Lesu, BUMN Malah Rame-Rame Cari Utangan
Jum'at, 15 Mei 2020 - 14:41 WIB
Kedua, Seri B sebesar Rp99,15 juta dengan tingkat bunga 8,25% dan tenor lima tahun. Ketiga, Seri C sebesar Rp312,18 miliar dengan tingkat bunga 8,55% dan tenor tujuh tahun. Serta Seri D sebesar Rp1,009 triliun dengan tingkat bunga 9,1%.
Sebelumnya, pada Januarai 2020 PLN sudah menerbitkan surat utang dan berhasil menghimpun dana sebesar Rp 4,91 triliun. Ada dua surat berharga yang diterbitkan BUMN ini. Obligasi Berkelanjutan III tahap IV dengan nilai Rp 4,8 triliun dan Sukuk Ijarah berkelanjutan III thap IV dengan nilai Rp 115,5 miliar. Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini mengatakan memang saat ini PLN membutuhkan banyak dana. Baca juga: Ini Dia BUMN yang Gagal Bayar, Saatnya Bisnis Perusahaan Negara Dirombak Besar-Besaran
Rata-rata kebutuhan investasi PLN mencapai Rp 100 triliun per tahun. Oleh karena itu, kebutuhan investasi perusahaan hingga 2024 diperkirakan mencapai sekitar Rp 400 triliun. Tahun ini saja, kata Zulkifli, perseroan menganggarkan dana investasi sebesar Rp 90 triliun.
Dana itu bakal dialokasikan untuk belanja modal pembangunan infrastruktur transmisi distribusi serta sejumlah pembangkit listrik. " Jadi kami memang cari alternatif untuk pembiayaan investasi PLN," ujarnya. Sebagai perbandingan tahun lalu, PLN juga menganggarkan belanja modal sebesar Rp 90 triliun. Dana tersebut dialokasikan untuk pembangunan transmisi, gardu induk, dan pembangkit listrik.
Toto Pranoto, Associate Director BUMN Research Group (BRG) mengatakan, obligasi yang diterbitkan BUMN akhir-akhir ini memiliki banyak tujuan. Tergantung kebutuhan masing-masing perusahaan BUMN. Seperti misalnya untuk memperkuat strukrur modal seperti yang terjadi di Bank Mandiri dan BNI) .
Untuk Inalum dan Hutama Karya beda lagi tujuannya, yakni memperkuat modal kerja. Menyoroti keberhasilan Inalum yang mampu meraup dana US$2,5 miliar dari menerbitkan obligasi, Toto mengatakan, sekitar US$ 1 miliar akan digunakan untuk menutup hutang jatuh tempo perusahaan. Sisanya digunakan untuk investasi dan modal kerja. Seperti menyelesaikan proyek smelter di Mempawah . “Tenor obligasi yang panjang , 10 tahun dan 30 tahun akan sangat membantu arus cash flow perusahaan saat pembayarannya nanti,”ujar Toto kepada SINDOnews .
BUMN memang harus menerbitkan global bonds jika ingin mendapatkan pendaan yang besar. Sebab, pasar di dalam negeri tak akan mampu memberikan dana se besar itu. Toto pun mengingatkan kepada BUMN yang akan menerbitkan obligasi, apalagi global bonds, harus benar-benar bisa menjaga kriteria kesehatan keuangan perusahaan. Misalnya saja, ratio debt to equity mesti ada dalam batas yang relatif aman.
Tak kalah pentingnya adalah soal pengawasan. Toto berharap, publik harus mengawasi dengan ketat BUMN yang menerbitkan surat hutang dalam jumlah besar. Tujuanya agar dana dari hutang itu memang digunakan untuk alokasi yang tepat.
Sebelumnya, pada Januarai 2020 PLN sudah menerbitkan surat utang dan berhasil menghimpun dana sebesar Rp 4,91 triliun. Ada dua surat berharga yang diterbitkan BUMN ini. Obligasi Berkelanjutan III tahap IV dengan nilai Rp 4,8 triliun dan Sukuk Ijarah berkelanjutan III thap IV dengan nilai Rp 115,5 miliar. Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini mengatakan memang saat ini PLN membutuhkan banyak dana. Baca juga: Ini Dia BUMN yang Gagal Bayar, Saatnya Bisnis Perusahaan Negara Dirombak Besar-Besaran
Rata-rata kebutuhan investasi PLN mencapai Rp 100 triliun per tahun. Oleh karena itu, kebutuhan investasi perusahaan hingga 2024 diperkirakan mencapai sekitar Rp 400 triliun. Tahun ini saja, kata Zulkifli, perseroan menganggarkan dana investasi sebesar Rp 90 triliun.
Dana itu bakal dialokasikan untuk belanja modal pembangunan infrastruktur transmisi distribusi serta sejumlah pembangkit listrik. " Jadi kami memang cari alternatif untuk pembiayaan investasi PLN," ujarnya. Sebagai perbandingan tahun lalu, PLN juga menganggarkan belanja modal sebesar Rp 90 triliun. Dana tersebut dialokasikan untuk pembangunan transmisi, gardu induk, dan pembangkit listrik.
Toto Pranoto, Associate Director BUMN Research Group (BRG) mengatakan, obligasi yang diterbitkan BUMN akhir-akhir ini memiliki banyak tujuan. Tergantung kebutuhan masing-masing perusahaan BUMN. Seperti misalnya untuk memperkuat strukrur modal seperti yang terjadi di Bank Mandiri dan BNI) .
Untuk Inalum dan Hutama Karya beda lagi tujuannya, yakni memperkuat modal kerja. Menyoroti keberhasilan Inalum yang mampu meraup dana US$2,5 miliar dari menerbitkan obligasi, Toto mengatakan, sekitar US$ 1 miliar akan digunakan untuk menutup hutang jatuh tempo perusahaan. Sisanya digunakan untuk investasi dan modal kerja. Seperti menyelesaikan proyek smelter di Mempawah . “Tenor obligasi yang panjang , 10 tahun dan 30 tahun akan sangat membantu arus cash flow perusahaan saat pembayarannya nanti,”ujar Toto kepada SINDOnews .
BUMN memang harus menerbitkan global bonds jika ingin mendapatkan pendaan yang besar. Sebab, pasar di dalam negeri tak akan mampu memberikan dana se besar itu. Toto pun mengingatkan kepada BUMN yang akan menerbitkan obligasi, apalagi global bonds, harus benar-benar bisa menjaga kriteria kesehatan keuangan perusahaan. Misalnya saja, ratio debt to equity mesti ada dalam batas yang relatif aman.
Tak kalah pentingnya adalah soal pengawasan. Toto berharap, publik harus mengawasi dengan ketat BUMN yang menerbitkan surat hutang dalam jumlah besar. Tujuanya agar dana dari hutang itu memang digunakan untuk alokasi yang tepat.
(eko)
Lihat Juga :