Erick Thohir Ungkap Ada 4 Emiten BUMN Megap-megap, Siapa Saja?
Kamis, 04 Februari 2021 - 16:43 WIB
Baca Juga: Menteri Erick Janjikan 12 Perusahaan BUMN Segera IPO
Kementerian BUMN pun meminta dukungan sejumlah otoritas terkait, seperti BEI dan juga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam membawa BUMN go publik dan go global sesuai dengan target kementerian. "Insya Allah dengan kerja keras kami dan dukungan dari OJK, bursa dan seluruh penganut kebijakan ini, bisa kita jalankan sesuai dengan target yang kita canangkan. Dan Insya Allah perusahaan-perusahaan yang kita akan listing juga perusahaan-perusahaan yang baik serta punya strategi jangka panjang," katanya.
Mantan Bos Inter Milan itu menuturkan, ada beberapa perseroan negara yang sudah memiliki rencana bisnis jangka panjang yang cukup jelas. Seperti PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI. BSI sendiri sudah berstatus sebagai perusahaan BUMN terbuka dan tercatat sebagai emiten di Bursa Efek Indonesia dengan kode BRIS. Adapun Komposisi pemegang saham Bank Syariah Indonesia terdiri dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) 50,95 persen, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BNI) 24,91 persen, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) 17,29 persen, DPLK BRI, Saham Syariah 2 persen dan publik 4,4 persen.
Baca Juga: Dear Warga Cuan, BEI Resmi Kelompokan Emiten Jadi 12 Sektor Market
Optimisme di sektor keuangan syariah dan rencana bisnis Bank Syariah Indonesia dibuktikan dengan melesatnya harga saham perusahaan. Harga saham BRIS pada saat melantai di BEI sebesar Rp510, sedangkan per 3 Februari 2021 harga saham BRIS mencapai Rp2.750 per lembar saham. Artinya, harga saham ini naik sekitar 5 kali lipat dibandingkan dengan posisi saat IPO. Selain itu, market capital BRIS pada saat IPO sebesar Rp4,96 triliun. Per 3 Februari 2021, market capital BRIS naik puluhan kali lipat mencapai Rp112,84 triliun. Di sektor lain, prospek bisnis BUMN yang tidak kalah menjanjikan adalah industri telekomunikasi digital hingga industri EV Battery yang tengah digenjot pemerintah.
Kementerian BUMN pun meminta dukungan sejumlah otoritas terkait, seperti BEI dan juga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam membawa BUMN go publik dan go global sesuai dengan target kementerian. "Insya Allah dengan kerja keras kami dan dukungan dari OJK, bursa dan seluruh penganut kebijakan ini, bisa kita jalankan sesuai dengan target yang kita canangkan. Dan Insya Allah perusahaan-perusahaan yang kita akan listing juga perusahaan-perusahaan yang baik serta punya strategi jangka panjang," katanya.
Mantan Bos Inter Milan itu menuturkan, ada beberapa perseroan negara yang sudah memiliki rencana bisnis jangka panjang yang cukup jelas. Seperti PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI. BSI sendiri sudah berstatus sebagai perusahaan BUMN terbuka dan tercatat sebagai emiten di Bursa Efek Indonesia dengan kode BRIS. Adapun Komposisi pemegang saham Bank Syariah Indonesia terdiri dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) 50,95 persen, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BNI) 24,91 persen, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) 17,29 persen, DPLK BRI, Saham Syariah 2 persen dan publik 4,4 persen.
Baca Juga: Dear Warga Cuan, BEI Resmi Kelompokan Emiten Jadi 12 Sektor Market
Optimisme di sektor keuangan syariah dan rencana bisnis Bank Syariah Indonesia dibuktikan dengan melesatnya harga saham perusahaan. Harga saham BRIS pada saat melantai di BEI sebesar Rp510, sedangkan per 3 Februari 2021 harga saham BRIS mencapai Rp2.750 per lembar saham. Artinya, harga saham ini naik sekitar 5 kali lipat dibandingkan dengan posisi saat IPO. Selain itu, market capital BRIS pada saat IPO sebesar Rp4,96 triliun. Per 3 Februari 2021, market capital BRIS naik puluhan kali lipat mencapai Rp112,84 triliun. Di sektor lain, prospek bisnis BUMN yang tidak kalah menjanjikan adalah industri telekomunikasi digital hingga industri EV Battery yang tengah digenjot pemerintah.
(nng)
Lihat Juga :