Neraca Dagang Surplus, Terselamatkan Penurunan Impor
Selasa, 16 Februari 2021 - 06:57 WIB
Sementara itu, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik, Kementerian Pertanian (Kementan), Kuntoro Boga Andri menjelaskan peningkatan secara spartan ekspor sektor pertanian dan berkontribusi besar terhadap perekonomian makro merupakan capaian yang diraih dari hasil kerja dan program yang bagus. Tidak hanya fokus pada produksi, Kementan di bawah komando Syahrul Yasin Limpo memacu hingga aspek hilir agar terjadi kenaikan ekspor pertanian,
“Kementan memiliki program jangka panjang Gerakan Tiga Kali Ekspor (Geratieks), sebagai upaya percepatan pertumbuhan ekonomi nasional. Program ini untuk mengakomodir semua kepentingan para pelaku pembangunan pertanian dari hulu sampai hilir. Program ini dirancang untuk menggerakan roda ekonomi nasional, mulai dari sisi produksi sampai proses pengolahan,” kata Kuntoro.
Baca Juga: BPS Catat Ekspor Pertanian Januari 2021 Naik 13,91%
Selain itu, Kementan pun memiliki program yang tujuan utamanya menggairahkan komoditas ekspor dan peningkatan kesejahteraan petani yakni mensinergikan hulu dengan hilir salah satunya melalui pengembangan korporasi berbasis komoditi tanaman pangan, hortikultura dan komoditas strategis ekspor lainnya. Di sisi lain, peningkatan ekspor pun terpacu dengan tersedianya kemudahan pelayanan.
“Pencapaian peningkatan ekspor tentunya dari banyaknya perubahan dan adanya program terobosan yang implementatif dan inovatif sehingga membangun sektor pertanian yang maju, mandiri dan modern. Artinya penggunaan teknologi modern menjadi kunci dan adanya kemudahan serta sinergitas pemerintah dengan pelaku usaha, petani dan perintah terbangun dengan baik,” jelas Kuntoro.
Pengamat ekonomi dari Indef Bhima Yudhistira menilai kinerja ekspor Indonesia di bulan Januari sejatinya ini kembali melorot. Bahkan untuk pasar China. Karena terjadi penurunan ekspor tujuan China sebesar -8,1% dibanding bulan Desember 2020.
Sementara penetrasi ekspor untuk tujuan Amerika Serikat (AS) yang harusnya bisa dioptimalkan ternyata juga harus turun -10,3%. “Ini berarti upaya penetrasi ekspor memanfaatkan pemulihan ekonomi global belum maksimal,” kata Bhima saat dihubungi MNC Portal kemarin.
Dia mengatakan pencapaian surplus lebih tertolong penurunan tajam impor. Karena penurunan impor untuk barang konsumsi sebesar -17% dan impor barang modal -21,2% dibanding posisi Desember 2020. “Justru ini menunjukkan kontraksi permintaan domestik akibat adanya PPKM,” lanjutnya. (rina anggraeni/hafid fuad)
“Kementan memiliki program jangka panjang Gerakan Tiga Kali Ekspor (Geratieks), sebagai upaya percepatan pertumbuhan ekonomi nasional. Program ini untuk mengakomodir semua kepentingan para pelaku pembangunan pertanian dari hulu sampai hilir. Program ini dirancang untuk menggerakan roda ekonomi nasional, mulai dari sisi produksi sampai proses pengolahan,” kata Kuntoro.
Baca Juga: BPS Catat Ekspor Pertanian Januari 2021 Naik 13,91%
Selain itu, Kementan pun memiliki program yang tujuan utamanya menggairahkan komoditas ekspor dan peningkatan kesejahteraan petani yakni mensinergikan hulu dengan hilir salah satunya melalui pengembangan korporasi berbasis komoditi tanaman pangan, hortikultura dan komoditas strategis ekspor lainnya. Di sisi lain, peningkatan ekspor pun terpacu dengan tersedianya kemudahan pelayanan.
“Pencapaian peningkatan ekspor tentunya dari banyaknya perubahan dan adanya program terobosan yang implementatif dan inovatif sehingga membangun sektor pertanian yang maju, mandiri dan modern. Artinya penggunaan teknologi modern menjadi kunci dan adanya kemudahan serta sinergitas pemerintah dengan pelaku usaha, petani dan perintah terbangun dengan baik,” jelas Kuntoro.
Pengamat ekonomi dari Indef Bhima Yudhistira menilai kinerja ekspor Indonesia di bulan Januari sejatinya ini kembali melorot. Bahkan untuk pasar China. Karena terjadi penurunan ekspor tujuan China sebesar -8,1% dibanding bulan Desember 2020.
Sementara penetrasi ekspor untuk tujuan Amerika Serikat (AS) yang harusnya bisa dioptimalkan ternyata juga harus turun -10,3%. “Ini berarti upaya penetrasi ekspor memanfaatkan pemulihan ekonomi global belum maksimal,” kata Bhima saat dihubungi MNC Portal kemarin.
Dia mengatakan pencapaian surplus lebih tertolong penurunan tajam impor. Karena penurunan impor untuk barang konsumsi sebesar -17% dan impor barang modal -21,2% dibanding posisi Desember 2020. “Justru ini menunjukkan kontraksi permintaan domestik akibat adanya PPKM,” lanjutnya. (rina anggraeni/hafid fuad)
(her)
Lihat Juga :