Smart City Strategi Mengatasi Permasalahan Kota

Jum'at, 05 Maret 2021 - 22:22 WIB
Foto/Ilustrasi/SINDOnews
JAKARTA - CEO PT Qlue Performa Indonesia Rama Raditya mengatakan, urbanisasi menjadi salah satu masalah global. Tahun 2050 diprediksi 70% populasi dunia ini akan pindah ke kota dan kondisi tersebut menyebabkan kota akan menjadi semakin sempit. Oleh sebab itu monitoring sangat dibutuhkan.

“Jadi kota semakin sempit, dan dibutuhkan banyak sekali monitoring atau tools yang digunakan kota tersebut. Pemilik kota ya untuk bisa memastikan bahwa warganya itu tetap aman, tetap mendapatkan security and safety, air bersih, dsb yang bisa memastikan bahwa warganya tetap aman dan nyaman,” katanya saat dihubungi MNC Portal Indonesia hari ini (5/3) di Jakarta. ( Baca juga:Sri Mulyani Berharap DIB Mendukung LPI )



Berkaca dari kondisi di Indonesia, semakin banyak orang yang tinggal di kota maka semakin banyak masalah yang timbul. Oleh karena itu, menurut Rama, dibutuhkan tools untuk mengatur permasalahan yang ada. Berangkat dari kondisi tersebut, smart city dibutuhkan untuk meminimalisasi permasalahan ini.

“Benang merahnya itu smart city adalah kota yang semuanya kolaboratif. Jadi warga, industri, atau misalnya perusahaan-perusahaan dari UMKM sampai enterprise, dan government itu kolaboratif. Kolaboratifnya untuk bisa maju bersama ke visi dari kota tersebut dengan pemanfaatan infrastruktur dan teknologi. Jadi lebih kolaborasi antar-si stake holder ke dalam kota tersebut gitu,” ujar Rama.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!