Tiga Langkah Mudah Memastikan Transaksi Online Aman dan Nyaman
Minggu, 09 Mei 2021 - 21:52 WIB
Menyoal ini, Pengamat Sekuriti dan Finansial Vaksincom, Alfons Tanujaya menyampaikan ulasan. Di era digital, transaksi via aplikasi tak terhindarkan karena membuat hidup jadi lebih efisien. Terkait keamanan akun aplikasi, ada tiga pihak yang patut disorot. Pertama, penyedia aplikasi. Mereka wajib mengamankan data. Data adalah amanat bukan berkat. Amanat harus dijaga sebaik-baiknya.
Kedua, pemerintah. Mereka harus menerapkan satu standar dalam mengelola sekaligus mengamankan data. “Saat ini menurut saya belum ada badan khusus yang mengelola data pribadi untuk kemudian menjadi ‘wasit.’ Ia punya kewenangan untuk menerapkan sanksi jika terjadi pelanggaran. Tata kelolanya menggunakan ISO: 270001 agar lebih terstruktur dan jelas,” urai Alfons, dalam interviu virtual, pada Jumat (7/5/2021).
Ketiga pengguna. Mereka yang terpenting karena kerap jadi korban dengan kerugian terbesar. Nama akun dan kata sandi kerap bocor. Riwayat transaksi dan data penting lainnya lantas dipublikasikan pihak yang tak bertanggung jawab. Karenanya, Alfons mengingatkan inisiatif mengamankan data diri juga perlu tumbuh dari pihak konsumen. Itu bisa dimulai dengan mengindahkan dua hal sebelum mengunduh aplikasi layanan ke gadget.
Pertama, pilih aplikasi yang punya layanan bagus dan menerapkan setidaknya two factors authentication (autentikasi dua faktor). “Jangan merasa aman dengan user name dan password saja. Autentikasi dua faktor adalah perlindungan standar yang memberi keamanan tambahan andai nama pengguna dan kata sandi bocor. Kedua, perhatikan rekam jejak aplikasi tersebut,” Alfons menyarankan. Setelahnya, ia membagikan tiga tips agar Anda dapat bertransaksi dengan aman dan nyaman lewat aplikasi.
Pertama, pastikan aplikasi ini memiliki setidaknya autentikasi dua faktor. Dengan ini, data Anda menjadi lebih sulit diretas. “Mengapa penting melindungi data diri? Di era digital, data diri yang tersimpan di jalur digital lebih berharga daripada minyak bumi. Akses ini mudah dicuri jika hanya mengandalkan user name dan password,” cetus Alfons.
Kedua, pemerintah. Mereka harus menerapkan satu standar dalam mengelola sekaligus mengamankan data. “Saat ini menurut saya belum ada badan khusus yang mengelola data pribadi untuk kemudian menjadi ‘wasit.’ Ia punya kewenangan untuk menerapkan sanksi jika terjadi pelanggaran. Tata kelolanya menggunakan ISO: 270001 agar lebih terstruktur dan jelas,” urai Alfons, dalam interviu virtual, pada Jumat (7/5/2021).
Ketiga pengguna. Mereka yang terpenting karena kerap jadi korban dengan kerugian terbesar. Nama akun dan kata sandi kerap bocor. Riwayat transaksi dan data penting lainnya lantas dipublikasikan pihak yang tak bertanggung jawab. Karenanya, Alfons mengingatkan inisiatif mengamankan data diri juga perlu tumbuh dari pihak konsumen. Itu bisa dimulai dengan mengindahkan dua hal sebelum mengunduh aplikasi layanan ke gadget.
Pertama, pilih aplikasi yang punya layanan bagus dan menerapkan setidaknya two factors authentication (autentikasi dua faktor). “Jangan merasa aman dengan user name dan password saja. Autentikasi dua faktor adalah perlindungan standar yang memberi keamanan tambahan andai nama pengguna dan kata sandi bocor. Kedua, perhatikan rekam jejak aplikasi tersebut,” Alfons menyarankan. Setelahnya, ia membagikan tiga tips agar Anda dapat bertransaksi dengan aman dan nyaman lewat aplikasi.
Pertama, pastikan aplikasi ini memiliki setidaknya autentikasi dua faktor. Dengan ini, data Anda menjadi lebih sulit diretas. “Mengapa penting melindungi data diri? Di era digital, data diri yang tersimpan di jalur digital lebih berharga daripada minyak bumi. Akses ini mudah dicuri jika hanya mengandalkan user name dan password,” cetus Alfons.
Lihat Juga :