Harga Minyak di Atas USD70/Barel, Segini Rugi Pertamina Jualan Pertamax dan Pertalite
Senin, 19 Juli 2021 - 13:13 WIB
Dengan tingginya harga minyak dunia saat ini, Pertamina dipastikan sudah menelan kerugian dalam penjualan BBM nonsubsidinya. Foto/Ilustrasi
JAKARTA - Harga minyak dunia belakangan ini terus merangkak naik hingga sempat menyentuh angka tertinggi di level USD77,16/barel di awal bulan Juli untuk minyak berjangka jenis Brent. Sejak itu, harga minyak mentah pun tak pernah beranjak jauh dari level USD70/barel.
Kenaikan harga minyak juga terjadi pada harga MOPS ataupun Argus yang merupakan harga acuan dalam menentukan harga bahan bakar minyak (BBM) yang beredar di Tanah Air, sesuai dengan Kepmen ESDM No 62/2020 tentang Formula Harga Dasar Dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakar Minyak Umum Jenis Bensin dan Minyak Solar Yang Disalurkan Melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Dan/Atau Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan.
Baca Juga: Harga BBM Bakal Naik Saat Harga Minyak Dunia Terus Menguat?, Pertamina Bilang Begini
Hal itu membuat PT Pertamina (Persero) harus menelan kerugian dalam penjualan bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidinya, karena harga jual yang tak kunjung disesuaikan dengan kenaikan harga minyak dunia. Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan memperhitungkan, BUMN migas tersebut merugi Rp2.100-3.350 untuk penjualan BBM jenis Pertamax dan Pertalite per liternya.
Kenaikan harga minyak juga terjadi pada harga MOPS ataupun Argus yang merupakan harga acuan dalam menentukan harga bahan bakar minyak (BBM) yang beredar di Tanah Air, sesuai dengan Kepmen ESDM No 62/2020 tentang Formula Harga Dasar Dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakar Minyak Umum Jenis Bensin dan Minyak Solar Yang Disalurkan Melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Dan/Atau Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan.
Baca Juga: Harga BBM Bakal Naik Saat Harga Minyak Dunia Terus Menguat?, Pertamina Bilang Begini
Hal itu membuat PT Pertamina (Persero) harus menelan kerugian dalam penjualan bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidinya, karena harga jual yang tak kunjung disesuaikan dengan kenaikan harga minyak dunia. Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan memperhitungkan, BUMN migas tersebut merugi Rp2.100-3.350 untuk penjualan BBM jenis Pertamax dan Pertalite per liternya.
Lihat Juga :