Garuda Indonesia Optimis Operasional Pulih Bertahap di Semester II/2021
Selasa, 31 Agustus 2021 - 15:38 WIB
Penerbangan berjadwal yang masih merupakan menyumbang terbesar bagi pendapatan perseroan yakni sebesar USD556,53 juta, turun jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar USD750,25 juta.
Sementara, penerbangan tidak terjadwal mencatatkan pendapatan sebesar USD41,63 juta, lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang sebesar USD21,54 juta. Namun, pendapatan lainnya tercatat hanya USD98,63 juta atau lebih rendah dari sebelumnya yang mencapai USD145,47 juta.
Tantangan kinerja usaha yang terefleksikan melalui penurunan pendapatan usaha tersebut tidak terlepas dari trafik penumpang yang menurun signifikan imbas kebijakan pembatasan mobilitas masyarakat ditengah peningkatan positive rate kasus Covid-19 di Indonesia, khususnya dengan kemunculan varian baru Covid-19, yang mengharuskan adanya pengetatan kebijakan mobilitas masyarakat dalam penanganan pandemi.
Garuda Indonesia akan terus mengoptimalkan potensi pangsa pasar charter, baik untuk layanan penumpang maupun kargo. Khusus untuk angkutan logistik, Perusahaan juga telah mencatat adanya tren kenaikan jumlah kargo yang diangkut di setiap penerbangan sepanjang Semester I/2021, dimana Garuda Indonesia secara Group turut berhasil mencatatkan jumlah angkutan kargo sebesar 152,300 ribu ton tumbuh sebesar 37,56 % dibandingkan periode yang sama di tahun 2020 sebesar 110,715 ribu ton.
Di tengah masih belum pulihnya kinerja bisnis penerbangan nasional imbas menurunnya permintaan terhadap penerbangan angkutan penumpang, Garuda menurutnya akan terus melakukan berbagai langkah strategis guna meningkatkan pendapatan usaha. Diantaranya melalui optimalisasi ancillary revenue dimana Perseroan secara aktif menjalin kemitraan dengan berbagai pihak eksternal dalam rangka memaksimalkan potensi pendapatan di luar core business Perseroan.
"Garuda Indonesia optimistis trafik penerbangan dalam negeri dan tingkat keterisian penumpang pesawat akan berangsur pulih seperti periode sebelum penerapan kebijakan PPKM seiring dengan adanya penurunan positivity rate kasus Covid-19 pada tingkat nasional," imbuhnya.
Sementara, penerbangan tidak terjadwal mencatatkan pendapatan sebesar USD41,63 juta, lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang sebesar USD21,54 juta. Namun, pendapatan lainnya tercatat hanya USD98,63 juta atau lebih rendah dari sebelumnya yang mencapai USD145,47 juta.
Tantangan kinerja usaha yang terefleksikan melalui penurunan pendapatan usaha tersebut tidak terlepas dari trafik penumpang yang menurun signifikan imbas kebijakan pembatasan mobilitas masyarakat ditengah peningkatan positive rate kasus Covid-19 di Indonesia, khususnya dengan kemunculan varian baru Covid-19, yang mengharuskan adanya pengetatan kebijakan mobilitas masyarakat dalam penanganan pandemi.
Garuda Indonesia akan terus mengoptimalkan potensi pangsa pasar charter, baik untuk layanan penumpang maupun kargo. Khusus untuk angkutan logistik, Perusahaan juga telah mencatat adanya tren kenaikan jumlah kargo yang diangkut di setiap penerbangan sepanjang Semester I/2021, dimana Garuda Indonesia secara Group turut berhasil mencatatkan jumlah angkutan kargo sebesar 152,300 ribu ton tumbuh sebesar 37,56 % dibandingkan periode yang sama di tahun 2020 sebesar 110,715 ribu ton.
Di tengah masih belum pulihnya kinerja bisnis penerbangan nasional imbas menurunnya permintaan terhadap penerbangan angkutan penumpang, Garuda menurutnya akan terus melakukan berbagai langkah strategis guna meningkatkan pendapatan usaha. Diantaranya melalui optimalisasi ancillary revenue dimana Perseroan secara aktif menjalin kemitraan dengan berbagai pihak eksternal dalam rangka memaksimalkan potensi pendapatan di luar core business Perseroan.
"Garuda Indonesia optimistis trafik penerbangan dalam negeri dan tingkat keterisian penumpang pesawat akan berangsur pulih seperti periode sebelum penerapan kebijakan PPKM seiring dengan adanya penurunan positivity rate kasus Covid-19 pada tingkat nasional," imbuhnya.
Lihat Juga :