Pakar Ketenagalistrikan Ungkap Tantangan Proyek Kabel Laut Australia-Singapura
Jum'at, 15 Oktober 2021 - 11:08 WIB
Herman mengungkapkan, sampai saat ini, kabel listrik bawah laut High Voltage Direct Current (HVDC) terpanjang di dunia adalah North Sea Link yang menghubungkan Inggris-Norwegia sepanjang 720 km. Dengan panjang nyaris 6 kali dari North Sea Link, kabel listrik bawah laut Australia-Singapura jelas butuh kerja dan investasi luar biasa.
Sebagai acuan, Herman merujuk pada kajian "Estimasi Biaya Listrik PLTS Sumba dengan Transmisi HVDC 3 GW Sumba–Paiton", dimana berdasarkan kajian itu jalur HVDC dari Sumba, NTT ke Paiton, Jawa Timur, untuk kapasitas listrik energi surya sebesar 3 GW dengan kabel bawah laut kira-kira sepanjang 760 km, dibutuhkan biaya USD42,15 miliar atau sekitar Rp611 triliun.
"Kajian ini menjelaskan bahwa proyek transmisi bawah laut yang membentang dari Australia ke Singapura untuk mengirimkan listrik dari tenaga surya dipastikan menelan investasi yang tidak kecil," ujar Direktur Transmisi & Distrbusi PLN periode 2003-2008 itu, Jumat (15/10/2021).
Herman menyampaikan pula bahwa karakteristik kabel bawah laut itu berisiko tinggi. Dia mencontohkan, jika misalnya rusak akibat terkena jangkar, maka tidak hanya kerugian kabel, tetapi penyediaan listrik skala besar pun akan terganggu. Selain itu, kata dia, masih banyak potensi gangguan lainnya yang perlu dipertimbangkan.
Dia menceritakan, Malaysia pada 2008 ingin membangun kabel bawah laut untuk mengalirkan listrik dari PLTA Serawak ke Semenanjung sepanjang 800 km. Namun, setelah mempertimbangkan risiko dan biayanya, Malaysia menunda rencana tersebut. "Kabel bawah laut bisa saja dibangun, tetapi hanya sebagai daya cadangan, bukan sebagai suplai utama," tandasnya.
Sebagai acuan, Herman merujuk pada kajian "Estimasi Biaya Listrik PLTS Sumba dengan Transmisi HVDC 3 GW Sumba–Paiton", dimana berdasarkan kajian itu jalur HVDC dari Sumba, NTT ke Paiton, Jawa Timur, untuk kapasitas listrik energi surya sebesar 3 GW dengan kabel bawah laut kira-kira sepanjang 760 km, dibutuhkan biaya USD42,15 miliar atau sekitar Rp611 triliun.
"Kajian ini menjelaskan bahwa proyek transmisi bawah laut yang membentang dari Australia ke Singapura untuk mengirimkan listrik dari tenaga surya dipastikan menelan investasi yang tidak kecil," ujar Direktur Transmisi & Distrbusi PLN periode 2003-2008 itu, Jumat (15/10/2021).
Herman menyampaikan pula bahwa karakteristik kabel bawah laut itu berisiko tinggi. Dia mencontohkan, jika misalnya rusak akibat terkena jangkar, maka tidak hanya kerugian kabel, tetapi penyediaan listrik skala besar pun akan terganggu. Selain itu, kata dia, masih banyak potensi gangguan lainnya yang perlu dipertimbangkan.
Dia menceritakan, Malaysia pada 2008 ingin membangun kabel bawah laut untuk mengalirkan listrik dari PLTA Serawak ke Semenanjung sepanjang 800 km. Namun, setelah mempertimbangkan risiko dan biayanya, Malaysia menunda rencana tersebut. "Kabel bawah laut bisa saja dibangun, tetapi hanya sebagai daya cadangan, bukan sebagai suplai utama," tandasnya.
Lihat Juga :