Pakar Ketenagalistrikan Ungkap Tantangan Proyek Kabel Laut Australia-Singapura

Jum'at, 15 Oktober 2021 - 11:08 WIB
Tantangan lainnya, lanjut dia, konstruksi kabel bahaw laut tak boleh ada sambungan. Kabel dari pabrik harus langsung dibawa dan digelar di kapal. "Bagaimana kira-kira cari solusi agar kabel sepanjang 4.200 km tidak ada sambungan di dalam air? Apakah pasokan akan aman, karena itu rawan terkena jangkar, juga sabotase," tuturnya.

Baca Juga: Media Asing Sorot Suara Azan di Jakarta, Begini Aturan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid

Lebih lanjut, berdasarkan hitung-hitungannya, Herman Darnel memperkirakan tarif listrik PLTS yang akan dikirimkan melalui kabel bawah laut ke Singapura bisa di atas USD25 sen per kWh. Rinciannya adalah untuk kabel bawah laut sepanjang 4.200 km ada biaya tambahan USD14 sen per kWh. Sementara harga listrik dari PLTS sekitar USD4 sen hingga USD8 sen per kWh. Kemudian, ada pula biaya battery storage dan biaya lainnya.

"Jadi, tarif listrik tenaga surya yang dikirim dari Australia ke Singapura itu bisa mencapai USD28 sen per kWh (Sekitar Rp4.060 per kWh). Sebagai pembanding, tarif dasar listrik di Indonesia di kisaran Rp1.400 per kWh," katanya.

Artinya, selain persiapan dari sisi manufaktur, pengangkutan kabel sepanjang 4.200 km dari pabrikan menuju ke laut, penggelaran kabel di bawah laut, potensi sabotase, kehilangan daya, risiko terkena jangkar kapal, dan potensi-potensi gangguan lainnya, semua ini tentu akan kian menambah biaya investasinya.
(fai)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!