Menakar Potensi Petani Swadaya dalam Peta Perkebunan Sawit RI
Selasa, 26 Oktober 2021 - 10:11 WIB
Petani swadaya memiliki posisi strategis di peta perkebunan sawit Indonesia. Sederet persoalan perlu segera dibenahi untuk memaksimalkan perannya. Foto/Dok
JAKARTA - Indonesia merupakan produsen crude palm oil (CPO) terbesar di dunia. Sebanyak 41% lahan perkebunan sawit di Tanah Air dikelola oleh petani swadaya yang tersebar di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan Papua Barat.
Jumlah ini menjadikan petani swadaya memiliki posisi strategis dalam menjamin pasokan minyak sawit Indonesia secara berkelanjutan. Namun, terdapat pekerjaan rumah yang perlu segera dibenahi untuk memaksimalkan peran petani swadaya.
Direktur Penghimpunan Dana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Ir. Sunari dalam webinar bertajuk Sustainable Oil Palm Plantation for Independent Smallholders menyebutkan sederet persoalan.
Baca Juga: Kompak, RI-Malaysia Gencarkan Kampanye Positif Sawit di Eropa
Mulai dari produktivitas yang rendah, keterampilan bertani yang perlu ditingkatkan, kualitas benih kurang baik, juga sarana dan prasarana yang masih minim.
“Untuk itu, kami mendorong peremajaan sawit untuk kebun dengan usia pohon yang sudah tidak produktif dan memberikan bibit sawit berkualitas untuk meningkatkan mutu dan produktivitas,” papar Sunari.
Jumlah ini menjadikan petani swadaya memiliki posisi strategis dalam menjamin pasokan minyak sawit Indonesia secara berkelanjutan. Namun, terdapat pekerjaan rumah yang perlu segera dibenahi untuk memaksimalkan peran petani swadaya.
Direktur Penghimpunan Dana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Ir. Sunari dalam webinar bertajuk Sustainable Oil Palm Plantation for Independent Smallholders menyebutkan sederet persoalan.
Baca Juga: Kompak, RI-Malaysia Gencarkan Kampanye Positif Sawit di Eropa
Mulai dari produktivitas yang rendah, keterampilan bertani yang perlu ditingkatkan, kualitas benih kurang baik, juga sarana dan prasarana yang masih minim.
“Untuk itu, kami mendorong peremajaan sawit untuk kebun dengan usia pohon yang sudah tidak produktif dan memberikan bibit sawit berkualitas untuk meningkatkan mutu dan produktivitas,” papar Sunari.
Lihat Juga :