Ini Plus Minus RUU Infrastruktur AS Bagi Ekonomi Indonesia
Sabtu, 06 November 2021 - 20:50 WIB
"Dampaknya akan mix ya. Implikasi dari besarnya anggaran infrastruktur AS akan memicu penerbitan surat utang pemerintah AS secara besar besaran. Kondisi ini bisa menyedot likuiditas dari negara berkembang kembali ke AS. Hampir bersamaan terjadi tapering off," kata Bhima saat dihubungi MNC Portal Indonesia (MPI), Sabtu (6/11/2021) sore.
Baca juga: Kongres AS Setujui RUU Infrastruktur Senilai Rp14,4 Kuadriliun
Dia juga mengingatkan bahwa nilai tukar rupiah bakal bisa melemah karena keluarnya modal asing. Namun, Bhima menilai ada peluang bagi Indonesia untuk menggenjot pembangunan yang ramah lingkungan sejalan dengan komitmen pembangunan infrastruktur AS yang sebagian besarnya mengarah pada 'pembangunan hijau' atau energi terbarukan.
Terkait potensi tambang, Bhima mencermati ada keuntungan dari para pemasok bahan baku konstruksi khususnya pemain-pemain ekspor. Dirinya melihat ada peluang dari emiten produsen nikel dan besi baja menyusul kebutuhan infrastruktur di Negeri Paman Sam.
"Di sisi lain investor tengah berburu saham-saham di negara pemasok bahan baku konstruksi seperti Indonesia. Saham berbasis nikel mungkin makin diincar investor sebagai komponen penting dari baterai. Begitu juga dengan saham produsen besi baja bisa terdorong meningkat karena AS jadi tujuan ekspor besi baja yang potensial selama ini," tuturnya.
Baca juga: Kongres AS Setujui RUU Infrastruktur Senilai Rp14,4 Kuadriliun
Dia juga mengingatkan bahwa nilai tukar rupiah bakal bisa melemah karena keluarnya modal asing. Namun, Bhima menilai ada peluang bagi Indonesia untuk menggenjot pembangunan yang ramah lingkungan sejalan dengan komitmen pembangunan infrastruktur AS yang sebagian besarnya mengarah pada 'pembangunan hijau' atau energi terbarukan.
Terkait potensi tambang, Bhima mencermati ada keuntungan dari para pemasok bahan baku konstruksi khususnya pemain-pemain ekspor. Dirinya melihat ada peluang dari emiten produsen nikel dan besi baja menyusul kebutuhan infrastruktur di Negeri Paman Sam.
"Di sisi lain investor tengah berburu saham-saham di negara pemasok bahan baku konstruksi seperti Indonesia. Saham berbasis nikel mungkin makin diincar investor sebagai komponen penting dari baterai. Begitu juga dengan saham produsen besi baja bisa terdorong meningkat karena AS jadi tujuan ekspor besi baja yang potensial selama ini," tuturnya.
Lihat Juga :