Industri Pariwisata Bali Siap Jalani New Normal Pariwisata
Jum'at, 05 Juni 2020 - 08:34 WIB
Pelaku industri pariwisata Bali menyatakan kesiapannya untuk menjalani tatanan kenormalan baru pariwisata. Foto/Dok Kemenparekraf
JAKARTA - Pelaku industri pariwisata di Bali yang tergabung dalam Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies (Asita) Bali menyatakan kesiapannya untuk menjalani tatanan kenormalan baru atau new normal pariwisata. New normal di sektor pariwisata akan lebih mengedepankan protokol kebersihan, kesehatan, dan keamanan sebagai kebutuhan utama wisatawan.
Ketua Pasar ASEAN dari Asita Bali Febrina Budiman mengatakan, ada 400 tour operator dan travel agent yang sudah menyatakan siap untuk menyambut kenormalan baru pariwisata.
"Kami sangat optimistis bahwa kami bisa 'berteman' dengan Covid-19 atau dengan kata lain kita harus bisa berteman meski kita tidak bisa berteman selamanya," kata Febrina dalam "International Webinar Tourism in Indonesia” yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf), Kamis (4/6/2020). (Baca Juga : 72% Wisatawan Indonesia Pilih Opsi Berkelanjutan Ketika Berwisata Kembali Di Masa Depan )
Optimisme pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif di Bali bukan tanpa alasan. Dimulai dari situasi yang sangat berat akibat COVID-19 ketika pemerintah menutup akses pintu masuk internasional, khususnya dari China pada Februari 2020.
Memasuki Maret 2020, pemerintah kemudian memutuskan untuk menutup semua penerbangan internasional yang berarti wisatawan dari berbagai market potensial juga terhenti.
Namun, keberhasilan pemerintah daerah bersama komunitas lokal dalam mengendalikan COVID-19 membuat industri optimistis menatap fase baru pariwisata Bali.
Ketua Pasar ASEAN dari Asita Bali Febrina Budiman mengatakan, ada 400 tour operator dan travel agent yang sudah menyatakan siap untuk menyambut kenormalan baru pariwisata.
"Kami sangat optimistis bahwa kami bisa 'berteman' dengan Covid-19 atau dengan kata lain kita harus bisa berteman meski kita tidak bisa berteman selamanya," kata Febrina dalam "International Webinar Tourism in Indonesia” yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf), Kamis (4/6/2020). (Baca Juga : 72% Wisatawan Indonesia Pilih Opsi Berkelanjutan Ketika Berwisata Kembali Di Masa Depan )
Optimisme pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif di Bali bukan tanpa alasan. Dimulai dari situasi yang sangat berat akibat COVID-19 ketika pemerintah menutup akses pintu masuk internasional, khususnya dari China pada Februari 2020.
Memasuki Maret 2020, pemerintah kemudian memutuskan untuk menutup semua penerbangan internasional yang berarti wisatawan dari berbagai market potensial juga terhenti.
Namun, keberhasilan pemerintah daerah bersama komunitas lokal dalam mengendalikan COVID-19 membuat industri optimistis menatap fase baru pariwisata Bali.
Lihat Juga :