Tak Hanya Pukul Rusia, Sanksi Barat Bikin Ekonomi Global Ikut Merana
Jum'at, 11 Maret 2022 - 05:00 WIB
Rusia adalah pengekspor utama sejumlah komoditas yang sangat penting bagi ekonomi global. Harga untuk komoditas-komiditas ini juga telah melonjak, mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun dan mengganggu pertumbuhan ekonomi global.
Melonjaknya harga logam telah memukul produsen mobil dengan keras, karena pasokan Rusia terancam. Aluminium dan paladium keduanya mencapai rekor tertinggi pada hari Senin sementara, pada hari Selasa, nikel, yang juga dibutuhkan untuk baja tahan karat, melewati level USD100.000 per ton untuk pertama kalinya.
Harga batu bara melonjak ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, melebihi USD400 per ton minggu ini karena beberapa negara Eropa ingin melarang pasokan Rusia. Harga logam tanah jarang, yang telah melonjak sejak paruh kedua tahun 2021 di tengah kekhawatiran ketidakpastian pasokan dan permintaan yang kuat, juga meningkat.
7. Isolasi Rusia rugikan bisnis Eropa
Rusia telah menikmati hubungan ekonomi yang erat dengan negara-negara Eropa, sehingga sanksi perdagangan dan keuangan apa pun kemungkinan akan merugikan kedua belah pihak. Tetapi, hilangnya pasar Rusia, dengan populasi lebih dari 144 juta orang, merupakan pukulan besar bagi bisnis Eropa.
Selama tahun 2021, volume perdagangan antara Rusia dan negara-negara Uni Eropa meningkat tercatat 42,7% secara tahunan menjadi lebih dari €247 miliar. Rusia adalah mitra terbesar kelima untuk ekspor barang UE (4,1%) dan mitra terbesar ketiga untuk impor barang UE (7,5%).
Baca Juga: Menegangkan, Tiga Senjata Putin Balas Gempuran AS dan Eropa
Lalu, siapa yang paling terdampak akibat pukulan balik sanksi bagi Rusia? Secara umum, analis mengatakan bahwa negara-negara Eropa dan bisnisnyalah yang akan menanggung akibat terbesar dari sanksi Barat terhadap Rusia. Terlebih jika Rusia kemudian benar-benar berpaling dari Eropa ke negara-negara "sahabat" seperti China.
Gedung Putih baru-baru ini mengatakan bahwa perdagangan China dengan Rusia tidak cukup untuk mengimbangi dampak sanksi AS dan Eropa terhadap Moskow. Namun, perdagangan antara kedua negara telah berkembang pesat meskipun ada peristiwa di Ukraina.
Menurut data bea cukai China yang dirilis pada hari Senin (7/3), omzet perdagangan antara kedua negara meningkat hampir 39% dalam dua bulan pertama tahun ini dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, melebihi USD26 miliar. Moskow dan Beijing juga diketahui memiliki tujuan ambisius untuk meningkatkan kerja sama ekonomi bilateral hingga USD200 miliar pada tahun 2024.
Melonjaknya harga logam telah memukul produsen mobil dengan keras, karena pasokan Rusia terancam. Aluminium dan paladium keduanya mencapai rekor tertinggi pada hari Senin sementara, pada hari Selasa, nikel, yang juga dibutuhkan untuk baja tahan karat, melewati level USD100.000 per ton untuk pertama kalinya.
Harga batu bara melonjak ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, melebihi USD400 per ton minggu ini karena beberapa negara Eropa ingin melarang pasokan Rusia. Harga logam tanah jarang, yang telah melonjak sejak paruh kedua tahun 2021 di tengah kekhawatiran ketidakpastian pasokan dan permintaan yang kuat, juga meningkat.
7. Isolasi Rusia rugikan bisnis Eropa
Rusia telah menikmati hubungan ekonomi yang erat dengan negara-negara Eropa, sehingga sanksi perdagangan dan keuangan apa pun kemungkinan akan merugikan kedua belah pihak. Tetapi, hilangnya pasar Rusia, dengan populasi lebih dari 144 juta orang, merupakan pukulan besar bagi bisnis Eropa.
Selama tahun 2021, volume perdagangan antara Rusia dan negara-negara Uni Eropa meningkat tercatat 42,7% secara tahunan menjadi lebih dari €247 miliar. Rusia adalah mitra terbesar kelima untuk ekspor barang UE (4,1%) dan mitra terbesar ketiga untuk impor barang UE (7,5%).
Baca Juga: Menegangkan, Tiga Senjata Putin Balas Gempuran AS dan Eropa
Lalu, siapa yang paling terdampak akibat pukulan balik sanksi bagi Rusia? Secara umum, analis mengatakan bahwa negara-negara Eropa dan bisnisnyalah yang akan menanggung akibat terbesar dari sanksi Barat terhadap Rusia. Terlebih jika Rusia kemudian benar-benar berpaling dari Eropa ke negara-negara "sahabat" seperti China.
Gedung Putih baru-baru ini mengatakan bahwa perdagangan China dengan Rusia tidak cukup untuk mengimbangi dampak sanksi AS dan Eropa terhadap Moskow. Namun, perdagangan antara kedua negara telah berkembang pesat meskipun ada peristiwa di Ukraina.
Menurut data bea cukai China yang dirilis pada hari Senin (7/3), omzet perdagangan antara kedua negara meningkat hampir 39% dalam dua bulan pertama tahun ini dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, melebihi USD26 miliar. Moskow dan Beijing juga diketahui memiliki tujuan ambisius untuk meningkatkan kerja sama ekonomi bilateral hingga USD200 miliar pada tahun 2024.
(fai)
Lihat Juga :