Sejarah dan Pendiri Federal Reserve, Bank Sentral di Amerika Serikat

Sabtu, 11 Juni 2022 - 10:37 WIB
Pada 1835 hingga 1913, Amerika Serikat tidak memiliki bank sentral. Pencetakan uang pun dilakukan oleh pemerintah dengan sebutan U.S. Notes. Saat itu, banyak rakyat Amerika Serikat yang memang tidak mau memiliki bank sentral. Mereka lebih memilih pendekatan antar negara bagian yang terdesentralisasi untuk kebijakan moneter.

Baca juga : Tiga Bank Rusia Acuhkan Sanksi dari Amerika Serikat

Selama masa ini Amerika Serikat justru mengalami gangguan ekonomi berupa bank panic, kekeringan likuiditas, dan kegagalan bank-bank. Ketidakstabilan ini yang menyebabkan lambatnya pertumbuhan berbagai industri terutama pertanian dan manufaktur.

Namun masa ini justru membuat perekonomian Amerika Serikat menjadi seimbang karena peningkatan hutan menjadi tidak terlalu tinggi. Neraca perdagangan juga surplus sehingga dapat membeli banyak modal dari luar negeri. Hal ini membuat Amerika menjadi negara paling kaya.

Amerika Serikat juga pernah mengalami masa deflasi dimana harga harga lebih stabil dan bahkan turun. Akibatnya masyarakat banyak menabung, tingginya tabungan masyarakat digunakan untuk membangun industri domestik lebih baik sehingga membuat ekonomi lebih produktif dan membuat harga barang menjadi lebih murah.

Supaya suplai uang menjadi lebih mudah, banyak pihak yang meminta agar bank sentral dibentuk kembali. Sehingga dapat meminimalisir terjadinya krisis ekonomi.

Terjadinya krisis panik pada tahun 1907 membuat publik Amerika Serikat semakin yakin akan dibentuknya kembali bank sentral demi kestabilan ekonomi supaya peristiwa serupa tidak terulang lagi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!