Peluang Media Mainstream dari Boikot Iklan di Media Sosial

Kamis, 02 Juli 2020 - 08:31 WIB
Kondisi ini menurut Ketua Umum Perhumas Agung Laksamana harus dimanfaatkan oleh media mainstream seperti koran dan televisi. Selama ini kekuatan sosial media seperti Facebook, menurutnya, ialah keakuratan data konsumen. Namun, ternyata Facebook juga memiliki kelemahan menjaga konten yang beredar di dalamnya.

"Media mainstream punya keunggulan untuk menyampaikan konten yang positif dan menginspirasi. Terutama di tengah masyarakat jenuh dengan konten yang berhubungan dengan Covid-19. Namun, harus ada penyampaian yang lebih kreatif, seperti webinar ataupun aktivitas berbasis online lainnya," ujar Agung di Jakarta kemarin.

Lebih lanjut, dia juga mengingatkan media mainstream agar memperhatikan kebutuhan brand yang berbeda seusai sektor. Misalnya saat ini brand sektor asuransi yang lebih agresif dibandingkan bisnis lainnya. Karena itu, media mainstream harus terus menjaga relasi hingga nanti pertumbuhannya kembali normal. "Bisnis lagi sepi tentu ikut menekan kemampuan iklan mereka. Tapi relasi harus terus dijaga karena saat situasi pulih tren iklan juga ikut berlari kencang," jelasnya. (Baca juga: Putin Desak Turki dan Iran Dorong Dialog di Suriah)

Dia menyarankan, kunci yang berkembang saat ini adalah Adopt, Adapt, dan Adept. Istilah Adopt berarti mengadopsi lingkungan baru yang saat ini disebut new normal. Lalu, Adapt artinya beradaptasi menemukan strategi dan jalur baru setelah mengadopsi lingkungan yang baru. Fase akhir adalah Adept, yang berarti sukses menguasai dan bahkan mampu berselancar di atas ombak kondisi new normal tersebut.

"Banyak tren yang belum lama viral, lalu sekarang hilang. Misalnya acara midnight sale atau buy one get one. Jadi, kita harus lebih kreatif membaca kebutuhan setiap sektor," katanya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!