Colombo Port City: Dubai Baru Sri Lanka atau Kawasan Utang Milik China?
Rabu, 07 Juni 2023 - 06:30 WIB
loading...
A
A
A
Port City bertujuan untuk menggaet perusahaan multinasional dan investor yang sudah berbasis di India, yang bisa mengurangi investasi dan peluang kerja di sana. Tetapi ada yang mengatakan bahwa Sri Lanka perlu mengkhawatirkan terbangunnya Colombo Port City.
Pada 2020, Laos menghindari kebangkrutan hanya dengan menjual sebagian dari jaringan energinya kepada Tiongkok untuk membantu mendanai pembangunan jalur kereta yang menghubungkan kedua negara. Seperti halnya Hambantota, apakah Colombo Port City pada akhirnya akan menjadi kawasan utang milik China?
"Pada saat ini, dengan cara pemerintah ini telah menyetujui Chuna. Tiongkok telah menguasai seluruhnya di Port City," kata anggota parlemen oposisi Rajitha Senaratne. "Suatu hari nanti, sebenarnya Sri Lanka tidak akan memiliki proyek ini," tandasnya.
Baca Juga: Pasang Jebakan Utang, Begini Cara China Sita Aset Pelabuhan Sri Lanka
Akademisi Tiongkok, Zhou Bo, tidak setuju, dia mengatakan tujuannya adalah agar kedua negara saling menguntungkan.
"Inisiatif jalur ini bukanlah amal. Kami juga ingin saling menguntungkan. Itu berarti kami juga ingin investasi kami memiliki pengembalian ekonomi," kata Zhou, mantan kolonel senior Tentara Pembebasan Rakyat yang sekarang berada di Universitas Tsinghua di Beijing. "China tidak berniat menjebak negara mana pun dalam utang," katanya.
Pejabat Sri Lanka mengambil sikap yang sama. "Seluruh area berada di bawah kendali berdaulat Sri Lanka. Hak untuk patroli, kepolisian, imigrasi, dan tugas keamanan nasional ada di tangan pemerintah Sri Lanka," kata Saliya Wickramasuriya dari Komisi Ekonomi Colombo Port City.
Namun, Sri Lanka, yang saat ini menghadapi krisis ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya, memiliki pilihan terbatas. Pandemi Covid-19 telah menghancurkan sektor pariwisata yang menguntungkan dan mengurangi kesempatan kerja di luar negeri, sehingga cadangan devisa asing merosot.
Utang luar negeri negara tersebut telah melonjak menjadi lebih dari USD45 miliar dan berutang sekitar USD8 miliar kepada China. Di tengah permohonan bantuan keuangan, minggu lalu Sri Lanka meminta Menteri Luar Negeri China yang berkunjung, Wang Yi, untuk merestrukturisasi pembayaran utang kepada Beijing.
Tetapi dengan penurunan peringkat berulang oleh lembaga peringkat internasional, peluang Colombo untuk mengajukan pinjaman lebih lanjut kepada investor internasional terlihat tipis. Hanya China yang memiliki ambisi jangka panjang dan kantong yang dalam. Tetapi bisa jadi ada syarat tertentu.
Sejumlah orang percaya bahwa kota seperti Hong Kong di Sri Lanka akan membantu China mengencangkan cengkeramannya di Asia dalam beberapa tahun ke depan.
Pada 2020, Laos menghindari kebangkrutan hanya dengan menjual sebagian dari jaringan energinya kepada Tiongkok untuk membantu mendanai pembangunan jalur kereta yang menghubungkan kedua negara. Seperti halnya Hambantota, apakah Colombo Port City pada akhirnya akan menjadi kawasan utang milik China?
"Pada saat ini, dengan cara pemerintah ini telah menyetujui Chuna. Tiongkok telah menguasai seluruhnya di Port City," kata anggota parlemen oposisi Rajitha Senaratne. "Suatu hari nanti, sebenarnya Sri Lanka tidak akan memiliki proyek ini," tandasnya.
Baca Juga: Pasang Jebakan Utang, Begini Cara China Sita Aset Pelabuhan Sri Lanka
Akademisi Tiongkok, Zhou Bo, tidak setuju, dia mengatakan tujuannya adalah agar kedua negara saling menguntungkan.
"Inisiatif jalur ini bukanlah amal. Kami juga ingin saling menguntungkan. Itu berarti kami juga ingin investasi kami memiliki pengembalian ekonomi," kata Zhou, mantan kolonel senior Tentara Pembebasan Rakyat yang sekarang berada di Universitas Tsinghua di Beijing. "China tidak berniat menjebak negara mana pun dalam utang," katanya.
Pejabat Sri Lanka mengambil sikap yang sama. "Seluruh area berada di bawah kendali berdaulat Sri Lanka. Hak untuk patroli, kepolisian, imigrasi, dan tugas keamanan nasional ada di tangan pemerintah Sri Lanka," kata Saliya Wickramasuriya dari Komisi Ekonomi Colombo Port City.
Namun, Sri Lanka, yang saat ini menghadapi krisis ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya, memiliki pilihan terbatas. Pandemi Covid-19 telah menghancurkan sektor pariwisata yang menguntungkan dan mengurangi kesempatan kerja di luar negeri, sehingga cadangan devisa asing merosot.
Utang luar negeri negara tersebut telah melonjak menjadi lebih dari USD45 miliar dan berutang sekitar USD8 miliar kepada China. Di tengah permohonan bantuan keuangan, minggu lalu Sri Lanka meminta Menteri Luar Negeri China yang berkunjung, Wang Yi, untuk merestrukturisasi pembayaran utang kepada Beijing.
Tetapi dengan penurunan peringkat berulang oleh lembaga peringkat internasional, peluang Colombo untuk mengajukan pinjaman lebih lanjut kepada investor internasional terlihat tipis. Hanya China yang memiliki ambisi jangka panjang dan kantong yang dalam. Tetapi bisa jadi ada syarat tertentu.
Sejumlah orang percaya bahwa kota seperti Hong Kong di Sri Lanka akan membantu China mengencangkan cengkeramannya di Asia dalam beberapa tahun ke depan.
(nng)
Lihat Juga :