Ekonomi China Digebuk Praktik Shadow Banking yang Nilainya Rp45.000 Triliun, Begini Penjelasannya!
Sabtu, 19 Agustus 2023 - 15:02 WIB
loading...
A
A
A
LGFV ini kemudian muncul versi swastanya juga, karena developer partikelir juga berekspansi besar-besaran. Dari mana pemda-pemda di China punya dana untuk membayar?
"Ini masalahnya, tidak semua proyek pemerintah itu menguntungkan, kadang ada yang politis, over budget, mercusuar, atau tidak dibutuhkan sehingga pemda jual tanah dengan harga tinggi dan naikkan pajak properti yg membuat harganya makin mahal," katanya.
Mengapa sekarang shadow banking bermasala? Lock down yang terlalu lama, perlambatan ekonomi Eropa dan Amerika Serikat, perang dagang, menyebabkan daya beli menurun dan harga properti turun 10-20an%. Kemudian perusahaan properti terbesar di sana sudah bermasalah selama bertahun-tahun.
Baca juga: 5 Alasan Kuat Ahok Sebut Mobil Listrik Bukan Solusi untuk Kurangi Polusi
"Shadow banking di satu sisi membantu mempercepat pembangunan, tapi di sisi lain menyulitkan pengawasan. Untuk sektor properti, hal ini kurang sehat karena bisa memicu bubble harga properti yang berlebihan karena tidak diawasi, juga rentan jadi investasi bodong," tandas Rudiyanto.
"Ini masalahnya, tidak semua proyek pemerintah itu menguntungkan, kadang ada yang politis, over budget, mercusuar, atau tidak dibutuhkan sehingga pemda jual tanah dengan harga tinggi dan naikkan pajak properti yg membuat harganya makin mahal," katanya.
Mengapa sekarang shadow banking bermasala? Lock down yang terlalu lama, perlambatan ekonomi Eropa dan Amerika Serikat, perang dagang, menyebabkan daya beli menurun dan harga properti turun 10-20an%. Kemudian perusahaan properti terbesar di sana sudah bermasalah selama bertahun-tahun.
Baca juga: 5 Alasan Kuat Ahok Sebut Mobil Listrik Bukan Solusi untuk Kurangi Polusi
"Shadow banking di satu sisi membantu mempercepat pembangunan, tapi di sisi lain menyulitkan pengawasan. Untuk sektor properti, hal ini kurang sehat karena bisa memicu bubble harga properti yang berlebihan karena tidak diawasi, juga rentan jadi investasi bodong," tandas Rudiyanto.
(uka)
Lihat Juga :