Negara-negara Kaya Minyak Seharusnya Bayar Pajak Iklim, Nilainya Capai Rp383,6 Triliun
Senin, 25 September 2023 - 21:01 WIB
loading...
A
A
A
Dia menyerukan, penghasil emisi terbesar di dunia agar menyetujui pakta solidaritas iklim untuk mengurangi emisi dan mendukung negara-negara berkembang.
Sedangkan Brown mengutarakan, rencananya tersebut akan mencegah kebuntuan dan potensi kebuntuan pada COP28 di Uni Emirat Arab (UEA) - salah satu produsen minyak terkaya yang diidentifikasi.
Dia mengatakan "negara-negara petro" telah meraup "keuntungan yang hampir tak terbayangkan" dari kenaikan harga minyak dalam beberapa tahun terakhir, dengan lima orang terkaya - termasuk juga Kuwait - menggandakan pendapatan minyak mereka pada tahun 2022.
Mengutip angka dari Asosiasi Energi Internasional (IEA), dia mengatakan, pendapatan minyak dan gas global telah melonjak dari USD1,5 triliun sebelum pandemi Covid-19 menjadi USD4 triliun yang belum pernah terjadi sebelumnya.
"Untuk menempatkan angka-angka luar biasa ini ke dalam konteks, USD4 triliun adalah 20 kali lipat dari seluruh anggaran bantuan global. Ini adalah pendapatan yang sangat besar sehingga melebihi seluruh PDB Inggris," katanya.
"Negara-negara produsen ini benar-benar tidak melakukan apa pun untuk mendapatkan rejeki nomplok yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ini merupakan salah satu transfer kekayaan terbesar yang pernah ada dari negara-negara miskin ke negara-negara kaya," sambungnya.
Sedangkan Brown mengutarakan, rencananya tersebut akan mencegah kebuntuan dan potensi kebuntuan pada COP28 di Uni Emirat Arab (UEA) - salah satu produsen minyak terkaya yang diidentifikasi.
Dia mengatakan "negara-negara petro" telah meraup "keuntungan yang hampir tak terbayangkan" dari kenaikan harga minyak dalam beberapa tahun terakhir, dengan lima orang terkaya - termasuk juga Kuwait - menggandakan pendapatan minyak mereka pada tahun 2022.
Mengutip angka dari Asosiasi Energi Internasional (IEA), dia mengatakan, pendapatan minyak dan gas global telah melonjak dari USD1,5 triliun sebelum pandemi Covid-19 menjadi USD4 triliun yang belum pernah terjadi sebelumnya.
"Untuk menempatkan angka-angka luar biasa ini ke dalam konteks, USD4 triliun adalah 20 kali lipat dari seluruh anggaran bantuan global. Ini adalah pendapatan yang sangat besar sehingga melebihi seluruh PDB Inggris," katanya.
"Negara-negara produsen ini benar-benar tidak melakukan apa pun untuk mendapatkan rejeki nomplok yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ini merupakan salah satu transfer kekayaan terbesar yang pernah ada dari negara-negara miskin ke negara-negara kaya," sambungnya.
Lihat Juga :