Kini Giliran Pengusaha Bus AKAP 'Ngegas' Terancam Bangkrut

loading...
Kini Giliran Pengusaha Bus AKAP Ngegas Terancam Bangkrut
Foto/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Pemerintah memang dinilai berhasil memindahkan orang dari angkutan umum ke angkutan pribadi pada Idul Adha 2020. Keberhasilan itu terlihat saat kepadatan arus masuk jalan tol dari Jakarta dan sebaliknya.

Kondisi itu disayangkan pengusaha otobus, Kurnia Lesani Adnan, yang mengatakan pihaknya berharap pemerintah tidak hanya fokus ke angkutan pribadi saja. Sebab, pekerjaan rumah yang besar ada pada menggairahkan masyarakat naik angkutan umum.

“Ya kalau berkaca dari Idu Adha kemarin pemerintah sukses memindahkan orang dari angkutan umum ke angkutan pribadi. Nah kami di angkutan bus antar kota antar-provinsi (AKAP)memang ada peningkatan armada operasi 30-50%, dengan okupansi 50-70% tapi tidak ada lonjakan seperti Idul Adha tahun sebelumnya,” ujar Kurnia yang juga Ketua Umum Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) dihubungi di Jakarta, Selasa (4/8/2020).

Dia menjelaskan dari total 100% bus yang disiapkan, hanya 30% hingga 50% bis yang beroperasi. “Tapi setelah Idul Adha selesai turun kini terjun bebas,” ucapnya.



Dia berharap pemerintah bisa turun tangan mengantisipasi gairah masyarakat naik angkutan bus yang menurun di masa pandemi. Di sisi lain, adanya stimulus belum mampu menyentuh sektor ini secara keseluruhan.

“Stimulus tidak sampai. Kalau bicara stimulus dari peraturan OJK misalnya, kami belum merasakan,” ujar dia. (Baca juga:Hari Pertama Penerapan Ganjil Genap, Ada Ratusan Kendaraan Melanggar)

Kurnia juga menyesalkan semakin meningkatnya masyarakat yang menggunakan angkutan pribadi di jalan raya menuju luar kota. Kondisi juga dikhawatirkan makin menjamurnya angkutan-angkutan ilegal berupa angkutan pribadi pelat hitam yang disewakan.



Penggunaan angkutan sewa pelat hitam dinilainya akan merugikan negara sebab angkutan-angkutan tersebut tidak memiliki izin dari regulator. “Pada akhirnya makin terbengkalai. Sementara angkutan pelat hitam juga sulit ditindak oleh petugas lalu lintas,” ungkapnya.

Dia menambahkan, pihaknya menjamin penggunaan angkutan bus sesuai protokol kesehatan yang tegas diterapkan di lapangan, bisa berjalan seiring dengan dibukanya sektor ekonomi sebagaimana didengungkan pemerintah.

“Yang kita khawatirkan sekarang ini stigma masyarakat bahwa menggunakan bus itu rentan (terpapar Covid-19) sudah semakin melekat. Pada akhirnya pelan-pelan bisa mematikan sektor ini,” pungkasnya.
(uka)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top