Sistem Bayar Pajak Masih Rumit, Ganjar: Mengapa Tidak Dipermudah

Kamis, 26 Oktober 2023 - 16:45 WIB
loading...
Sistem Bayar Pajak Masih...
Calon Presiden Ganjar Pranowo beranggapan sistem pembayaran pajak masih rumit sehingga perlu dipermudah. FOTO/dok.SINDOnews
A A A
JAKARTA - Calon Presiden Ganjar Pranowo menilai bahwa masyarakat masih enggan bayar pajak . Pria berambut putih tersebut menilai bahwa masalahnya adalah sistem pembayaran yang rumit.

Hal ini diutarakannya dalam acara ‘11th US-Indonesia Investment Summit Mapping the Legacy’ di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Selasa (24/10/2023)

"Orang-orang mau bayar pajak kadang-kadang sulit, takut, dan semuanya menjadi rumit, kenapa tidak dipermudah," tegasnya di sela-sela acara.

Ganjar menilai bahwa kunci dari pendapatan negara ada pada pajak. Apabila wajib pajak enggan bayar pajak maka pendapatan negara dapat terpengaruh.

"Berbicara tentang pendapatan negara, maka kita bicara tentang pajak.” ujar Ganjar.

Baca Juga: Ngidam Bertemu Ganjar, Ibu Hamil Ini Semringah saat Dipertemukan di Warung Kopi

Revisi regulasi menjadi saran Ganjar Pranowo agar sistem bayar pajak dapat dipermudah. Ia menekankan pentingnya penyuluhan pajak yang dapat dipahami dengan baik agar masyarakat tidak merasa takut membayar pajak.

Menurutnya, kewajiban warga negara untuk bayar pajak adalah suatu hal yang pasti, tetapi perlu dipemudah melalui peningkatan regulasi, sistem, dan lembaga terkait.

“Maka penataan mulai dari regulasinya sistem dan kelembagaannya," lanjutnya.

Dirinya bahkan menggarisbawahi bahwa Direktorat Jenderal Pajak harus diisi oleh individu yang memiliki integritas dan dedikasi penuh, sehingga pelayanan kepada wajib pajak dapat ditingkatkan.

Ia menyoroti perlunya tindakan tegas terhadap petugas yang berusaha mencari cara-cara tidak sah untuk memperoleh uang. Revisi regulasi dan birokrasi harus cepat dilakukan oleh DJP agar pendapatan negara tidak berkurang setiap harinya.

“Saya kira harus cepat diganti, jangan ragu-ragu. Kalau ada keraguan maka tidak akan pernah tercapai” tegasnya.

Ganjar juga menyoroti perilaku pemerintah yang menggunakan intimidasi untuk bayar pajak. Dia menyarankan bahwa harus adanya panel khusus untuk mengawasi pendapatan negara khususnya dalam konteks rasio pajak.

Rasio pajak juga menjadi isu menurut Ganjar. Pasalnya, saat ini rasio pajak di Indonesia masih dibawah rata-rata global. Melanisir dari salah satu laman berita nasional, Pada tahun 2022, data menunjukkan bahwa rasio pajak Indonesia hanya mencapai 10,4 persen, angka yang berada di bawah rata-rata global sekitar 13,5 persen. Dalam konteks regional ASEAN, Indonesia juga tertinggal dalam hal rasio pajak.

Baca Juga: Siti Atikoh Ganjar Beberkan Tips Mengasuh dan Membentuk Karakteristik Anak

Sementara itu, Ganjar juga menekankan pentingnya potensi pendapatan dari sektor usaha Badan Usaha Milik Negara (BUMN), baik perusahaan dalam negeri maupun asing. Ia menegaskan, pengendalian kegiatan ilegal, mengedepankan nilai-nilai antikorupsi, dan meningkatkan integritas adalah kuncinya.

"BUMN dan sebagainya, lalu kemudian yang illegal itu dilegalkan dalam arti ditertibkan. Jadi, kalau nilai antikorupsinya harus tinggi, integritasnya harus tinggi, dan pendekatan hukumnya harus tinggi,” kata Ganjar.

Melalui upaya sistem bayar pajak yang dipermudah dan penertiban aktivitas ilegal, Ganjar berharap dapat membantu peningkatan penerimaan negara secara signifikan di masa depan.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Atasi Kebocoran Data...
Atasi Kebocoran Data Ekspor, Mahfud MD Dorong Penguatan PT DSI
Terungkap Alasan Purbaya...
Terungkap Alasan Purbaya Alergi Tax Amnesty: Sebut Berbahaya Bagi Pegawai Pajak
Pengusaha Diminta Tak...
Pengusaha Diminta Tak Usah Was-was Soal Pemeriksaan WP Tax Amnesty Jilid II
Batas Restitusi Pajak...
Batas Restitusi Pajak Dipangkas, Purbaya Sempat Tombok Rp25 Triliun
Purbaya Bakal Copot...
Purbaya Bakal Copot 2 Pejabat Kemenkeu Gara-gara Ledakan Restitusi Pajak
Dorong Digitalisasi...
Dorong Digitalisasi Pajak: Permudah Kelola Potongan PPh Unifikasi secara Terintegrasi
Tiyo Eks Ketua BEM UGM...
Tiyo Eks Ketua BEM UGM Mengaku Ditawari Miliaran Rupiah dari Lembaga Berbintang, Ini Respons TNI
PDIP Sudah Siap, Ganjar...
PDIP Sudah Siap, Ganjar Minta Percepat Pembahasan RUU Pemilu
Mahfud MD Usul Ambang...
Mahfud MD Usul Ambang Batas Parlemen Nol Persen atau Pemberlakuan Fraksi Threshold
Rekomendasi
Situ Rompong Tangsel...
Situ Rompong Tangsel Menyusut Tinggal 1,7 Hektare, Warga Duga Ada Maladminsitrasi
Kejagung: Tersangka...
Kejagung: Tersangka Andri Mulyono Mark up Pengadaan Motor Listrik BGN
Apa yang Ada dan Tidak...
Apa yang Ada dan Tidak Ada dalam Draf Kesepakatan Damai AS-Iran?
Berita Terkini
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan...
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan China, Ekspor Minyak Iran Merosot 80%
SIG Resmikan Fasilitas...
SIG Resmikan Fasilitas Ekspor Tuban, Bidik 450.000 Ton Semen ke AS
Penguatan IHSG dan Rupiah...
Penguatan IHSG dan Rupiah Berlanjut, Pasar Respons Positif Kepastian Posisi Menkeu
Perdana, Danantara Terbitkan...
Perdana, Danantara Terbitkan Obligasi Global Senilai USD1,5 Miliar
Sucofindo Gelar ENSIA...
Sucofindo Gelar ENSIA 2026, Dorong Inovasi Berkelanjutan
Kajian 13 Proyek Hilirisasi...
Kajian 13 Proyek Hilirisasi Rampung Juli, Nilainya Ditaksir Capai Rp239 Triliun
Infografis
Tidak Gratis! Ukraina...
Tidak Gratis! Ukraina Harus Bayar Senjata dari Barat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved