IMF Merevisi Perkiraan Pertumbuhan Ekonomi China di 2023 dan 2024

Rabu, 08 November 2023 - 11:42 WIB
loading...
IMF Merevisi Perkiraan...
Dana Moneter Internasional atau IMF merevisi proyeksi ekonomi China pada tahun 2023 menjadi lebih baik, seiring pemulihan pasca Covid yang terus berjalan. Foto/Dok Reuters
A A A
BEIJING - Dana Moneter Internasional atau IMF memperkirakan, ekonomi China pada tahun 2023 akan tumbuh 5,4% seiring pemulihan pasca Covid-19 yang terus berjalan. Angka tersebut merupakan revisi dari proyeksi IMF yang sebelumnya sebesar pertumbuhan 5% dan tahun depan bakal sedikit lebih lamban.

Baca Juga: Ekonomi China Masih Rapuh Meski Perdagangan Surplus Rp884 Triliun

IMF mengatakan, berlanjutnya pelemahan di sektor properti dan permintaan eksternal yang lemah dapat membatasi pertumbuhan produk domestik bruto menjadi 4,6% pada 2024, yang masih lebih baik dari perkiraan 4,2% sebelumnya dalam World Economic Outlook (WEO), yang diterbitkan pada Oktober, lalu.

Revisi ke atas ini, mengikuti keputusan China untuk menyetujui penerbitan obligasi negara 1 triliun yuan (USD137 miliar) dan memungkinkan pemerintah daerah untuk memuat sebagian dari kuota obligasi 2024 mereka, dalam sebuah langkah untuk mendukung ekonomi.

"Kami telah merevisi pertumbuhan sebesar 0,4 poin persentase, relatif naik terhadap proyeksi WEO Oktober kami, mencerminkan pertumbuhan yang lebih kuat dari perkiraan pada kuartal ketiga dan dukungan kebijakan baru yang belum lama diumumkan," kata Wakil Direktur Pelaksana Pertama IMF, Gita Gopinath di Beijing.

Baca Juga: IMF: Ekonomi China Kehilangan Momentum, Pemulihan Rusia Semakin Cepat

Dalam jangka menengah, pertumbuhan diproyeksikan secara bertahap melambat menjadi sekitar 3,5% pada tahun 2028 di tengah hambatan dari lemahnya produktivitas dan populasi China yang mulai menua. Gopinath mengatakan, pada konferensi pers untuk menandai rilis tinjauan "Pasal IV" dana tersebut terhadap kebijakan ekonomi China.

China telah memperkenalkan banyak kebijakan untuk mendukung pasar properti, tetapi dibutuhkan lebih banyak untuk mengamankan pemulihan yang lebih cepat dan biaya ekonomi yang lebih rendah untuk menurunkannya ke ukuran yang lebih berkelanjutan.

"Untuk sektor real estat, paket kebijakan semacam itu akan membutuhkan percepatan keluarnya pengembang properti yang tidak layak, menghilangkan hambatan untuk penyesuaian harga perumahan, dan meningkatkan pendanaan pemerintah pusat untuk penyelesaian permasalahan sektor perumahan, di antara langkah-langkah lainnya," kata Gopinath.

Sementara itu menurut para ekonom, kombinasi penurunan di sektor properti dan krisis utang pemerintah daerah dapat menghapus sebagian besar potensi pertumbuhan jangka panjang China.

Utang lokal telah mencapai 92 triliun yuan (USD12,6 triliun) atau 76% dari output ekonomi China pada 2022, naik dari 62,2% pada 2019. Politbiro China, badan pembuat keputusan utama Partai Komunis yang berkuasa, mengatakan pada akhir Juli akan mengumumkan langkah-langkah untuk mengurangi risiko utang pemerintah daerah.

"Pemerintah pusat harus menerapkan reformasi kerangka fiskal yang terkoordinasi dan restrukturisasi neraca untuk mengatasi tekanan utang pemerintah daerah, termasuk menutup kesenjangan fiskal pemerintah daerah dan mengendalikan aliran utang," kata Gopinath.

"China juga harus mengembangkan strategi restrukturisasi yang komprehensif untuk mengurangi tingkat utang pembiayaan pemerintah daerah (LGFV)," tambahnya.

LGFV didirikan oleh pemerintah daerah untuk mendanai investasi infrastruktur, tetapi sekarang menjadi risiko besar bagi ekonomi China yang melambat, dengan utang gabungan mereka membengkak menjadi sekitar USD9 triliun.

Gopinath memperingatkan, perbaikan transparansi fiskal pemerintah daerah dan pemantauan risiko diperlukan untuk mencegah munculnya kerentanan baru. Ia juga memberikan catatan "risiko stabilitas keuangan stabil dan masih meningkat."
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran Beri Ancaman Ekstrem...
Iran Beri Ancaman Ekstrem Soal Energi Global: Minyak untuk Semua atau Tidak Sama Sekali
Ekonomi China Kuartal...
Ekonomi China Kuartal II Tumbuh 4,3%, Terendah dalam 3 Tahun Terakhir
Krisis Selat Hormuz,...
Krisis Selat Hormuz, Bos IEA Wanti-wanti Ekonomi Global dalam Bahaya
Dunia Tak Lagi Takut...
Dunia Tak Lagi Takut Ancaman Gejolak Selat Hormuz imbas Perang AS-Iran, Apa Rahasianya?
Perang Bikin Jalur Suku...
Perang Bikin Jalur Suku Bunga Bank Sentral Terkunci di Level Tertinggi, Era Pinjaman Murah Berakhir
AllianzGI Sebut Pasar...
AllianzGI Sebut Pasar Global Masih Resilien, Seleksi Aset Jadi Kunci di Tengah Ketidakpastian
PKS Sebut Sinergi Pemerintah,...
PKS Sebut Sinergi Pemerintah, Dunia Usaha, hingga Masyarakat Kunci Jaga Stabilitas
Pertumbuhan 5,6%, tetapi...
Pertumbuhan 5,6%, tetapi Mengapa Investor Masih Gelisah?
Peran Yuan China Dalam...
Peran Yuan China Dalam Tata Keuangan Dunia Baru
Rekomendasi
Penegasan sebagai Negara...
Penegasan sebagai Negara Yahudi, Bahasa Arab Dilarang Digunakan Warga Palestina di Israel
Omoda O4 Punya 10 Otak...
Omoda O4 Punya 10 Otak AI Sekaligus, Indonesia Jadi Negara Pertama di Dunia
Eks Kasi Intelijen Cukai...
Eks Kasi Intelijen Cukai Didakwa Terima Gratifikasi Rp7,6 Miliar dari John Field hingga Pengusaha Rokok
Berita Terkini
BBT Perkuat Ekosistem...
BBT Perkuat Ekosistem Industri Batam lewat Ekspansi Fiber dan 5G
Rupiah Keok Sentuh Rp18.080...
Rupiah Keok Sentuh Rp18.080 per Dolar AS, Catat Kinerja Terburuk di Asia
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp9.000, Kini Dibanderol Rp2,61 Juta per Gram
Rupiah Hari Ini Dibuka...
Rupiah Hari Ini Dibuka Melemah ke Rp18.068, Tersengat Kabar Independensi BI
OSL Indonesia Bidik...
OSL Indonesia Bidik Antusiasme Investor Melalui Kompetisi Trading
IHSG Hari Ini Lanjutkan...
IHSG Hari Ini Lanjutkan Penurunan, Dibuka Melemah ke 6.175
Infografis
Joao Pinheiro, Wasit...
Joao Pinheiro, Wasit Kontroversial di Laga Argentina vs Swiss
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved