Menkeu Rusia: Sanksi Ekonomi Jadi Pertanda Kelemahan Barat

Kamis, 09 November 2023 - 08:38 WIB
loading...
Menkeu Rusia: Sanksi...
Menteri Keuangan Rusia, Anton Siluanov mengatakan, negara-negara Barat telah kehilangan keuntungan ekonomi dari Timur, lantaran itu sanksi ekonomi dipakai untuk menghentikan pembangunan dari rival mereka. Foto/Ilustrasi
A A A
MOSKOW - Menteri Keuangan Rusia , Anton Siluanov mengatakan, negara- negara Barat telah kehilangan keuntungan ekonomi dari Timur, lantaran itu sanksi ekonomi dipakai untuk menghentikan pembangunan dari rival mereka. Hal ini disampaikan saat Pameran dan Forum Internasional Rusia di Moskow akhir pekan lalu.

Baca Juga: Asosiasi Industri: Sanksi Barat Gagal Membuat Rusia Bertekuk Lutut

Menurut Siluanov, proses redistribusi kekuasaan global sudah berlangsung. "Sistem lama menjadi usang, kekuatan baru datang, ekonomi baru muncul – China, Rusia, India. Timur secara aktif berkembang, dan ekonomi lama yang sebelumnya mendominasi, baik secara ekonomi maupun politik, secara bertahap mengempis," katanya.

Ia juga memberikan, catatan bahwa "perubahan seperti itu selalu terjadi dengan menyakitkan."

Menkeu Rusia itu juga berpendapat bahwa Barat "berpegang teguh pada metode, seperti menggunakan mata uang mereka sebagai senjata untuk menahan ekonomi lain," terangnya.

Baca Juga: Uni Eropa Rugi Rp2.250 Triliun Akibat Terapkan Sanksi ke Rusia

Akibatnya untuk melestarikan tatanan lama, negara Barat menggunakan sanksi yang justru membahayakan ekonomi mereka sendiri. "Sementara ekonomi baru tumbuh lebih cepat, kekuatan dan otot baru negara-negara meningkat dan secara politik mereka menjadi lebih kuat," ungkap Siluanov.

Menurut Siluanov, negara-negara berkembang diprediksi ingin mempengaruhi proses ekonomi global tanpa harus mematuhi negara-negara Barat, atau 'miliaran emas'. BRICS, diungkapkan juga olehnya adalah alternatif yang layak untuk sistem ekonomi Barat yang ada.

Blok tersebut saat ini mencakup Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan. Akan tetapi BRICS bakal makin luas mulai tahun depan, dimana ada 6 negara baru yang akan bergabung yakni Argentina, Mesir, Ethiopia, Iran, Arab Saudi, dan UEA pada Januari. BRICS yang diperbesar akan mewakili 37% dari PDB global, lebih dari G7 yang hanya mencapai 29,9%.

Rusia telah berulang kali menyerukan tatanan dunia multilateral, dimana Presiden Vladimir Putin menuduh Barat mengejar "pendekatan kolonial" dan membengkokkan aturan internasional sesuai keinginannya.

Pernyataannya mulai terdengar lebih keras selama beberapa bulan terakhir, karena Rusia menghadapi sanksi ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya dari Barat atas konfliknya dengan Ukraina.

Karena pembatasan ini, Rusia secara efektif telah kehilangan kemampuan untuk melakukan transaksi internasional dalam dolar dan euro, dan telah kehilangan akses ke sistem perbankan Barat.

Namun terlepas dari penurunan ekonomi Rusia karena pembatasan tahun lalu, sekarang sebagian besar diklaim telah pulih berkat pengalihan perdagangan ke Timur dan meningkatkan pangsa mata uang nasional secara lintas batas.

Sementara itu negara-negara Eropa terus berjuang dengan lonjakan inflasi, krisis biaya hidup, dan penurunan produksi industri - masalah ini semakin berat dengan adanya sanksi terhadap Moskow yang merampas pasokan energi Rusia. Banyak politisi Barat telah menyerukan diakhirinya sanksi, dengan alasan bahwa telah menjadi bumerang.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
Bos Raksasa Minyak Rusia:...
Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz
Daftar Negara Pengguna...
Daftar Negara Pengguna Energi Nuklir Terbesar di Dunia, Siapa Juaranya?
Rubel Jadi Mata Uang...
Rubel Jadi Mata Uang Terkuat di Dunia, Sanksi Barat ke Rusia Tak Mempan
10 Negara dengan Ketergantungan...
10 Negara dengan Ketergantungan Sumber Daya Alam Tertinggi di Dunia, Ada Indonesia?
Warga Moskow Sudah Merasakan...
Warga Moskow Sudah Merasakan Perang Ukraina di Depan Halaman Rumah
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
Penampakan Mengerikan...
Penampakan Mengerikan 'Hujan Minyak Hitam' di Langit Moskow akibat Serangan Terbesar Ukraina
Rekomendasi
Swiss: Perundingan AS...
Swiss: Perundingan AS dan Iran Berlanjut di Burgenstock
Euforia Suporter Memuncak,...
Euforia Suporter Memuncak, Meksiko Siap Rem Penjualan Alkohol
Libatkan Mahasiswa saat...
Libatkan Mahasiswa saat Kunker, Gibran Dinilai Perkuat Dialog dan Partisipasi Publik
Berita Terkini
Diskon Tarif Transportasi...
Diskon Tarif Transportasi hingga 30% Kembali Menyapa Selama Periode Libur Sekolah 2026
Dorong Ekonomi Hijau,...
Dorong Ekonomi Hijau, Kapal Api Group Rehabilitasi Mangrove di Semarang
Ini Daftar PLTU Terdampak...
Ini Daftar PLTU Terdampak Krisis Pasokan Batu Bara di Pulau Jawa
Dorong Kesejahteraan...
Dorong Kesejahteraan Petani, Inovasi Fungisida Syngenta Hadir di Jember
Lewat Platform Digital...
Lewat Platform Digital Elevate, SIG Perkuat Pengelolaan SDM dan Budaya Inovasi
Daftar Saham Paling...
Daftar Saham Paling Cuan hingga Boncos Sepanjang IHSG Sepekan
Infografis
Profil Letjen TNI Robi...
Profil Letjen TNI Robi Herbawan, Ajudan Prabowo yang Jadi Kabais TNI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved