Efek Perang di Gaza: Tenaga Kerja Susut, Ekonomi Israel Terancam
Senin, 27 November 2023 - 14:41 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Sombongnya PM Israel Netanyahu Sambangi Gaza: Tak Ada yang Bisa Hentikan Kami!
Penurunan konsumsi ini diperburuk oleh tekanan inflasi yang terus-menerus di Israel dan diperkuat oleh percepatan depresiasi nilai tukar shekel terhadap dolar AS yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak tanggal 9 Oktober.
Pada akhir Oktober, shekel mencapai titik terendah dalam 14 tahun.
Pada saat yang sama, Fitch Ratings, Moody’s Investors Service, dan S&P memperingatkan bahwa eskalasi konflik apa pun dapat mengakibatkan penurunan peringkat utang Israel. Terlebih lagi, premi risiko yang melekat pada suku bunga di pasar obligasi mulai mencerminkan iklim ketidakpastian yang terjadi di kawasan ini. Hal ini dinilai dapat menyebabkan stagnasi investasi, terutama karena peningkatan biaya modal, penurunan produktivitas, dan gangguan rantai pasokan.
Selain kekurangan tenaga kerja dan penurunan layanan dan konsumsi, sektor teknologi Israel juga terkena dampak besar. Menurut para ekonom, 10% pekerja Israel bekerja di sektor teknologi tinggi namun mereka bertanggung jawab atas 50% ekspor negara tersebut. Banyak dari pasukan cadangan yang dipanggil untuk bertugas adalah kaum muda, terpelajar, dan produktif.
Di sisi lain, kemungkinan melonjaknya anggaran militer turut membebani anggaran negara zionis tersebut. Pemerintah Israel pun harus merogoh kocek untuk rehabilitasi, bantuan, dan subsidi kepada perusahaan dan rumah tangga secara keseluruhan. Dengan kemungkinan adanya ruang fiskal yang diberikan untuk perang Israel, utang publik Israel bisa saja membengkak.
Guncangan ekonomi ganda pada sisi penawaran dan permintaan ini diperkirakan bisa menjadi krisis makroekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi Israel. Sementara, para pemimpin politik Israel masih belum jelas mengenai tujuan atau lamanya konflik, sehingga dampak ekonomi yang ditimbulkan dinilai dapat menimbulkan dampak serius, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Penurunan konsumsi ini diperburuk oleh tekanan inflasi yang terus-menerus di Israel dan diperkuat oleh percepatan depresiasi nilai tukar shekel terhadap dolar AS yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak tanggal 9 Oktober.
Pada akhir Oktober, shekel mencapai titik terendah dalam 14 tahun.
Pada saat yang sama, Fitch Ratings, Moody’s Investors Service, dan S&P memperingatkan bahwa eskalasi konflik apa pun dapat mengakibatkan penurunan peringkat utang Israel. Terlebih lagi, premi risiko yang melekat pada suku bunga di pasar obligasi mulai mencerminkan iklim ketidakpastian yang terjadi di kawasan ini. Hal ini dinilai dapat menyebabkan stagnasi investasi, terutama karena peningkatan biaya modal, penurunan produktivitas, dan gangguan rantai pasokan.
Selain kekurangan tenaga kerja dan penurunan layanan dan konsumsi, sektor teknologi Israel juga terkena dampak besar. Menurut para ekonom, 10% pekerja Israel bekerja di sektor teknologi tinggi namun mereka bertanggung jawab atas 50% ekspor negara tersebut. Banyak dari pasukan cadangan yang dipanggil untuk bertugas adalah kaum muda, terpelajar, dan produktif.
Di sisi lain, kemungkinan melonjaknya anggaran militer turut membebani anggaran negara zionis tersebut. Pemerintah Israel pun harus merogoh kocek untuk rehabilitasi, bantuan, dan subsidi kepada perusahaan dan rumah tangga secara keseluruhan. Dengan kemungkinan adanya ruang fiskal yang diberikan untuk perang Israel, utang publik Israel bisa saja membengkak.
Guncangan ekonomi ganda pada sisi penawaran dan permintaan ini diperkirakan bisa menjadi krisis makroekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi Israel. Sementara, para pemimpin politik Israel masih belum jelas mengenai tujuan atau lamanya konflik, sehingga dampak ekonomi yang ditimbulkan dinilai dapat menimbulkan dampak serius, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
(fjo)
Lihat Juga :