Forum Ekonom Minta Kembalikan Program Pembangunan Ekonomi Rasional, Realistis, Berkelanjutan

Selasa, 06 Februari 2024 - 12:25 WIB
loading...
A A A
Umar mengungkapkan perlunya fokus dan target yang jelas dalam reindustrialisasi, dengan melarang ekspor bahan mentah untuk mendorong proses industrialisasi lebih lanjut. Selain itu, ia menyoroti keberlanjutan sebagai aspek krusial, termasuk dalam hal keseimbangan cost and benefit serta dampak terhadap manusia dan alam. Reindustrialisasi, baginya, merupakan bagian integral dari transformasi ekonomi dan meningkatkan daya saing industri.

Dr. Didin S. Damanhuri (Ekonom Senior), membahas kontroversi seputar Food Estate, menyatakan, "Food Estate adalah program yang tidak tepat dan tidak dikaji secara mendalam sehingga mengalami kegagalan dan menimbulkan kerusakan lingkungan." Beliau menekankan pentingnya meningkatkan ketahanan pangan melalui cooperative farming.

Terkait dengan proyek IKN, Fadhil Hasan (Ekonom Senior) menambahkan agar pembangunan IKN dievaluasi secara menyeluruh berdasarkan prinsip keadilan, partisipasi publik, prioritas pembangunan dan kapasitas anggaran. Dia menilai bahwa pembangunan IKN tidak sejalan dengan tujuannya yaitu untuk pemerataan ekonomi mengingat ketimpangan tidak terjadi hanya di satu wilayah melainkan di semua wilayah di Indonesia.

Untuk itu sebagai bentuk pembangunan ekonomi yang berkeadilan maka pembangunan yang lebih rasional yang harus dilakukan adalah dengan melaksanakan pembangunan ekonomi secara merata di kota-kota diseluruh wilayah Indonesia, sehingga masyarakat di berbagai provinsi bisa menikmati hasil pembangunan ekonomi seperti halnya kota besar lainnya seperti Jakarta.

Ekonom Senior, Abdul Malik mengatakan, Investasi besar-besaran di Infrastruktur dan Hilirisasi minerba seperti saat ini tanpa dilengkapi penyiapan tenaga terampil akan kecil kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi. Negara harus menyiapkan strategi menarik investasi dilengkapi dengan informasi kebutuhan tenaga kerja terampil.

Informasi kebutuhan tenaga kerja tersebut merupakan proses implementasi investasi yang tidak bisa ditinggalkan. FEI merangkum hasil diskusi ini sebagai pandangan kritis terhadap kondisi perekonomian dan isu-isu kebijakan saat ini.

"Langkah-langkah ini diperlukan untuk menciptakan ekosistem yang seimbang antara ekonomi dan politik, mendukung perekonomian nasional tanpa campur tangan budaya politik uang," tambah pernyataan FEI.

Forum Ekonom Indonesia (FEI) memandang perlunya ekosistem keseimbangan ekonomi dan politik yang kondusif terhadap perekonomian nasional yang dapat menghilangkan seminimal mungkin budaya politik uang (money politics) dan transaksional dengan menghindari para pelaku ekonomi dijadikan sumber pendanaan politik disatu pihak, dipihak lain para pelaku ekonomi didorong menjadi pelaku industri yang efisien dan inovatif.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Purbaya Cerita Momen...
Purbaya Cerita Momen Bertemu S&P untuk Pertahankan Peringkat Utang RI
Sensus Ekonomi Tak Hanya...
Sensus Ekonomi Tak Hanya Dilakukan Indonesia: Gerakan Global yang Diikuti Malaysia hingga Zimbabwe
Rupiah Tembus Rp18.000...
Rupiah Tembus Rp18.000 Lagi, Airlangga Tegaskan Fundamental Ekonomi Masih Kuat
BPS Canangkan Sensus...
BPS Canangkan Sensus Ekonomi 2026 di Kalimantan Timur: Perkuat Kompas Pembangunan Daerah
Purbaya Targetkan Ekonomi...
Purbaya Targetkan Ekonomi Indonesia Tumbuh 6,5% di 2027
Dirut Perkebunan Nusantara...
Dirut Perkebunan Nusantara III Dorong Pemuda Jadi Motor Transformasi Perkebunan
Prabowo Panggil Luhut...
Prabowo Panggil Luhut hingga Chatib Basri di Hambalang, Bahas Apa?
Kemensos Tindak Lanjuti...
Kemensos Tindak Lanjuti Temuan BPK atas 1.747 Pendamping PKH, Rp7,9 Miliar Harus Dikembalikan ke Negara
Fokus Belanja Negara
Fokus Belanja Negara
Rekomendasi
Pemkab Bogor Tegaskan...
Pemkab Bogor Tegaskan Komitmen Jalankan Putusan PTUN Bandung Terkait Sentul City
Lisa BLACKPINK Raup...
Lisa BLACKPINK Raup Nilai Komersial Rp198 Miliar usai Tampil di Piala Dunia 2026
Laut Merah Memanas,...
Laut Merah Memanas, Houthi Yaman Serang 2 Kapal Tanker Minyak Arab Saudi
Berita Terkini
Mengapa Didimax Menjadi...
Mengapa Didimax Menjadi Pilihan Banyak Trader? Ternyata ini Alasannya
Kunjungi Rest Area Cipularang,...
Kunjungi Rest Area Cipularang, COO Danantara Puji Transformasi Layanan Tol Jasa Marga
Harga Emas Naik 5 Ribu...
Harga Emas Naik 5 Ribu Hari Ini, Termurah Dijual Rp1.370.000
Lippoland Kembangkan...
Lippoland Kembangkan OAZE sebagai Pusat Kehidupan Baru di Cikarang
Kuasai 25% Kekayaan...
Kuasai 25% Kekayaan Miliarder AS: 144 Imigran Terkaya Pecahkan Rekor Rp39.261 Triliun
Jelang Mandatori SAF...
Jelang Mandatori SAF 1% di 2027, Pertamina Patra Niaga Percepat Ekosistem
Infografis
Ancaman Perang Kian...
Ancaman Perang Kian Nyata, 8 Negara Minta Warganya Tinggalkan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved