alexametrics

Orang Kaya Makin Banyak, Sri Mulyani: Ini Peluang Tingkatkan Produksi

loading...
Orang Kaya Makin Banyak, Sri Mulyani: Ini Peluang Tingkatkan Produksi
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan, jumlah orang kaya yang terus meningkat di seluruh dunia seharusnya menjadi peluang untuk meningkatkan produksi. Foto/Rina Anggraeni
A+ A-
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan, jumlah orang kaya yang terus meningkat di seluruh dunia seharusnya menjadi peluang untuk meningkatkan produksi. Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menjelaskan, bahwa masyarakat kelas atas cenderung memiliki sifat konsumtif yang lebih tinggi.

"Jumlah penduruk dunia mendekati tujuh miliar orang, tidak hanya populasi, jumlah orang kaya juga makin banyak. Orang kaya itu, yang digambarkan crazy rich (film), dia engga mikir konsumsinya. Poin saya, pasar itu tumbuh dengan cepat. Siapa yang mau memenuhi permintaan itu," tutur Menkeu Sri Mulyani di Jakarta, Rabu (27/2/2019).

Oleh karenanya, Ia mendorong berbagai pihak yang berhubungan dengan ekspor nasional untuk lebih memahami apa kebutuhan pasar global saat ini. Menurutnya, saat ini masih banyak orang yang tidak memahami kondisi pasar global saat ini.



"Saya ingin sampaikan, potensi market itu unlimited kalau kita memahami geografi global. (Saat ini) Jangan kan seluruh global, kenal Indonesia seluruhnya aja ngga. Kalau ngga ngerti, gimana punya pemahaman orang butuh apa," tuturnya.

Wanita yang akrab disapa Ani itu kemudian menyambut baik sistem akses data ekspor nasional (National Export Dashboard/NED), yang diluncurkan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Menurutnya, sistem ini mampu mempermudah berbagai pelaku ekspor, untuk memahami kebutuhan pasar global. "Ini (Peluncuran NED) adalah awalan yang bagus. Baca datanya aja, ngga usah pergi, sudah tahu (kebutuhan pasar)," jelasnya.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak