Putin Serang Balik Barat, G7 Hadapi Kesulitan Besar Gunakan Aset-aset Rusia

Minggu, 26 Mei 2024 - 09:46 WIB
loading...
Putin Serang Balik Barat,...
Presiden Rusia Vladimir Putin memberi isyarat saat berbicara dalam sebuah wawancara dengan mantan pembawa acara Fox News Tucker Carlson di Kremlin di Moskow, Rusia, Selasa, 6 Februari 2024. FOTO/Sputnik
A A A
JAKARTA - G7 belum mencapai konsensus mengenai bagaimana menggunakan pendapatan yang dihasilkan oleh aset-aset bank sentral Rusia yang dibekukan di luar negeri untuk membantu Ukraina. Hal itu diungkapkan Menteri Ekonomi Italia Giancarlo Giorgetti dalam rangkaian pertemuan dua hari para menteri keuangan G7 di Kota Stresa, Sabtu (25/5).

Giorgetti mengungkapkan para menteri keuangan G7 telah membuat kemajuan dalam masalah aset Rusia. Namun, belum menyelesaikan prosesnya karena tersandung masalah teknis dan hukum.

Dia menambahkan bahwa kedua belah pihak sedang mencoba untuk mencapai solusi yang diinginkan secara politis yang tidak dapat dibantah dari sudut pandang hukum dengan konsekwensi membutuhkan waktu.

Giorgetti mencatat bahwa keputusan akhir untuk langkah ini kemungkinan akan dibuat pada pertemuan para pemimpin G7 bulan Juni di Puglia. Italia menjadi ketua kelompok tersebut tahun ini.

Baca Juga: Perintah Baru ICJ Buat Israel dan Para Pendukung Baratnya Hampir Tak Berkutik

Menyusul konflik Ukraina pada awal 2022, negara-negara Barat memblokir sekitar USD300 miliar aset milik bank sentral Rusia sebagai bagian dari sanksi terhadap Moskow. Menyitir Russia Today, sekitar dua pertiga dari dana ini disimpan di lembaga kliring Uni Eropa, Euroclear dan sisanya sebagian besar menganggur di negara-negara Uni Eropa lainnya dengan sekitar USD5 miliar di AS.

Meskipun Washington sangat ingin menyita aset-aset tersebut secara langsung, G7 dilaporkan tidak mempertimbangkan opsi ini karena kekhawatiran anggota-anggota Eropa bahwa hal ini akan merusak kredibilitas keuangan mereka dan membuat negara-negara lain enggan untuk menyimpan aset-aset mereka di blok tersebut.

Sebaliknya, kelompok ini berfokus pada cara-cara untuk memanfaatkan keuntungan yang dihasilkan oleh aset-aset tersebut hingga bagaimana menggunakannya. Menurut laporan-laporan yang mengutip para peserta Konferensi Tingkat Tinggi (KTT), salah satu opsi yang paling banyak dibahas adalah menggunakan keuntungan di masa depan dari dana-dana yang dibekukan sebagai jaminan untuk pinjaman miliaran dolar ke Kiev.

Namun, Menteri Keuangan Jerman Christian Lindner mengatakan masih harus dilihat apakah mungkin untuk memperkenalkan instrumen semacam itu karena dampak hukum yang mungkin ditimbulkan.

Baca Juga: Senator AS Cibir Sanksi Barat, Gagal Hancurkan Rusia, China dan Iran

Opsi lain yang dilaporkan telah didiskusikan adalah mengalokasikan hasil dari aset-aset yang dibekukan secara langsung kepada pemimpin Ukraina Vladimir Zelensky dengan 90% dari jumlah tersebut akan digunakan untuk pembelian senjata, sementara 10% sisanya akan digunakan untuk rekonstruksi negara.

Serangan Balik Rusia

Presiden Rusia Vladimir Putin telah memperingatkan tindakan apa pun yang menargetkan aset-asetnya dengan mengatakan bahwa hal itu sama saja dengan pencurian dan bersumpah akan melakukan pembalasan.

Putin awal pekan ini telah menandatangani dekrit yang menguraikan sebuah mekanisme yang memungkinkan Moskow untuk menyita properti yang dimiliki oleh entitas dan warga negara yang terkait dengan AS melalui pengadilan jika Washington berusaha menyita aset Rusia yang disimpan di luar negeri.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
Bos Raksasa Minyak Rusia:...
Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz
Daftar Negara Pengguna...
Daftar Negara Pengguna Energi Nuklir Terbesar di Dunia, Siapa Juaranya?
Rubel Jadi Mata Uang...
Rubel Jadi Mata Uang Terkuat di Dunia, Sanksi Barat ke Rusia Tak Mempan
10 Negara dengan Ketergantungan...
10 Negara dengan Ketergantungan Sumber Daya Alam Tertinggi di Dunia, Ada Indonesia?
Ini Keunggulan Pesawat...
Ini Keunggulan Pesawat Pengebom B-52 vs Tu-22M3 yang Jatuh pada Hari yang Sama
G7 Kini Fokus Memusuhi...
G7 Kini Fokus Memusuhi Rusia, Trump: Ini Perang yang Mudah Diselesaikan
Fregat Rusia Tembaki...
Fregat Rusia Tembaki Kapal Pesiar Inggris, Starmer: Tindakan Sembrono
Rekomendasi
Kisah Yoane Wissa: Hampir...
Kisah Yoane Wissa: Hampir Buta dan Gol Bersejarah di Piala Dunia 2026
Pemerintah Bakal Data...
Pemerintah Bakal Data Barang-Karyawan Hotel Sultan, Wamensesneg: Tak Ada yang Dikorbankan
Jadwal Lengkap MotoGP...
Jadwal Lengkap MotoGP Grand Prix Ceko 2026, Tayang Live di VISION+
Berita Terkini
OveerPOS Dorong Efisiensi...
OveerPOS Dorong Efisiensi Bisnis lewat Integrasi Transaksi dan Pajak
Bukan Sekadar Listrik,...
Bukan Sekadar Listrik, Panas Bumi Jadi Katalis Ekonomi dan Ketahanan Pangan
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp30.000 per Gram, Cek Daftar Lengkapnya
Penunjukan Luke Thomas...
Penunjukan Luke Thomas Dinilai Mencerminkan Meritokrasi di DSI
Bukan Rp16.250, Harga...
Bukan Rp16.250, Harga Asli Pertamax Seharusnya Rp20.200 per Liter
Terbitkan Panda Bond,...
Terbitkan Panda Bond, Menkeu Purbaya Kantongi Dukungan China
Infografis
5 Kapal Selam Serang...
5 Kapal Selam Serang Terbaik, AS dan Rusia Mendominasi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved