Uni Eropa Jatuhkan Sanksi Pertama terhadap LNG Rusia

Selasa, 25 Juni 2024 - 03:56 WIB
loading...
Uni Eropa Jatuhkan Sanksi...
Dewan Eropa mengadopsi sanksi ekonomi dan individu terhadap Rusia atas konflik Ukraina, sebagai bagian dari paket sanksi terbaru yang sudah memasuki putaran ke-14. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Dewan Eropa mengadopsi sanksi ekonomi dan individu terhadap Rusia atas konflik Ukraina, sebagai bagian dari paket sanksi terbaru yang sudah memasuki putaran ke-14. Sanksi Eropa tersebut menargetkan sektor-sektor bernilai tinggi dari ekonomi Rusia , seperti energi, keuangan, dan perdagangan.

Baca Juga: Uni Eropa Siapkan Sanksi Baru Batasi Ekspor LNG Rusia, Moskow Meradang

Blok Eropa juga berusaha mencegah Moskow dan mitra dagangnya mengakali sanksi Uni Eropa. Dalam kebijakan terbaru ini, Uni Eropa (UE) untuk pertama kalinya menargetkan gas alam cair (LNG) asal Rusia .

Sanksi-sanksi tersebut menyasar pada perusahaan pelayaran milik negara Rusia, Sovcomflot, CEO-nya, dan berbagai perusahaan di China, Kazakhstan, Kirgistan, Turki, dan Uni Emirat Arab. Uni Eropa telah memberlakukan larangan penggunaan pelabuhan-pelabuhannya untuk trans-pengiriman gas alam cair (LNG) Rusia setelah masa transisi selama sembilan bulan.

Selain itu, sanksi tersebut melarang investasi baru dan penyediaan barang, teknologi, dan layanan oleh operator Uni Eropa untuk penyelesaian proyek-proyek LNG yang sedang dibangun, termasuk LNG Arktik 2 dan LNG Murmansk.

Baca Juga: China Ketar-ketir Imbas Sanksi AS Soal Kilang LNG Rusia

Operasi pemuatan ulang, transfer kapal-ke-kapal, dan transfer kapal-ke-kilang dengan tujuan mengekspor kembali ke negara ketiga melalui UE telah dilarang. Namun pembatasan tidak mempengaruhi impor LNG Rusia untuk digunakan di dalam blok, bunyi pernyataan resmi.

Rusia seperti diketahui merupakan pemasok utama LNG ke blok tersebut setelah aliran gas pipa anjlok pada tahun 2022 akibat gelombang sanksi dan sabotase pipa Nord Stream, yang sebelumnya menjadi saluran utama gas Rusia ke UE.

Di antara langkah-langkah lain dalam paket sanksi ke-14, ada juga pembatasan ekspor barang yang diyakini Uni Eropa berkontribusi pada peningkatan kemampuan industri Rusia, seperti bahan kimia, termasuk bijih mangan dan mineral tanah jarang, plastik, mesin penggali, monitor, dan peralatan listrik.

Uni Eropa juga memperketat pembatasan ekspor pada puluhan entitas di negara ketiga seperti China, Kazakhstan, Kirgistan, Türkiye, dan Uni Emirat Arab atas dugaan pasokan barang dan teknologi penggunaan ganda ke Rusia.

Larangan impor juga dijatuhkan pada helium Rusia - komponen penting dalam banyak proses industri seperti pembuatan serat optik dan semikonduktor.

Di sektor keuangan, Dewan Eropa bergerak untuk melarang sistem perbankan yang setara SWIFT milik Rusia. Sistem untuk Transfer Pesan Keuangan (SPFS) didirikan oleh bank sentral Rusia setelah negara itu terputus dari SWIFT sebagai bagian dari sanksi sebelumnya.

Pembatasan juga telah ditempatkan pada 116 individu dan entitas yang dianggap terlibat dalam situasi mengenai Ukraina. Sedangkan Moskow menganggap sanksi itu ilegal.

Presiden Vladimir Putin mengatakan, pada pekan lalu bahwa negara-negara Barat "berusaha untuk melemahkan ekonomi Rusia" dan "memprovokasi untuk meningkatkan ketegangan sosial dan politik".

Ketika diumumkan pada bulan April bahwa sanksi putaran ke-14 akan menargetkan LNG Rusia, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menanggapi dengan mengatakan negara-negara Barat menembak kaki mereka sendiri. "Rusia akan mencoba meminimalkan konsekuensinya dan melindungi kepentingan nasionalnya," tambahnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
Bos Raksasa Minyak Rusia:...
Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz
Daftar Negara Pengguna...
Daftar Negara Pengguna Energi Nuklir Terbesar di Dunia, Siapa Juaranya?
Badai PHK Guncang Inggris...
Badai PHK Guncang Inggris di Tengah Perang AS-Iran, Tembus Rekor Tertinggi 5 Tahun
Rubel Jadi Mata Uang...
Rubel Jadi Mata Uang Terkuat di Dunia, Sanksi Barat ke Rusia Tak Mempan
10 Negara dengan Ketergantungan...
10 Negara dengan Ketergantungan Sumber Daya Alam Tertinggi di Dunia, Ada Indonesia?
Perseteruan Memanas,...
Perseteruan Memanas, Jet Tempur Swedia Cegat Pesawat Militer Rusia
Jenderal Jerman Duga...
Jenderal Jerman Duga Rusia Bakal Kerahkan Senjata Nuklir ke Luar Angkasa, Bisa Picu Kiamat Satelit
Swedia: Konflik Rusia-NATO...
Swedia: Konflik Rusia-NATO Bisa Pecah dalam Waktu Dekat
Rekomendasi
Miss Indonesia 2026...
Miss Indonesia 2026 Sambangi Yogyakarta, Cari Perempuan Berbakat dengan Kepedulian Sosial Tinggi
BMW Bedah M Concept...
BMW Bedah M Concept Neue Klasse, Sedan Listrik Tulen Berdesain Agresif
Pemimpin Oposisi Zionis:...
Pemimpin Oposisi Zionis: Kesepakatan Damai AS-Iran Berarti Tak Satu Pun Tujuan Perang Israel Tercapai
Berita Terkini
Pendaftaran Program...
Pendaftaran Program Magang ke Jepang Dibuka Kemnaker, Begini Caranya
Perkuat Rupiah, BI dan...
Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
Anomali Tiket Pesawat:...
Anomali Tiket Pesawat: Penerbangan Domestik Dipungut PPN, ke Luar Negeri Bebas Pajak
Menakar Efek Domino...
Menakar Efek Domino Pertamax Rp16.250: Waspada Ancaman Inflasi
Asprindo Dorong Skema...
Asprindo Dorong Skema Hybrid Pengelolaan Blok Andaman
20 Negara Pengimpor...
20 Negara Pengimpor Terbesar Produk China, Indonesia Peringkat Berapa?
Infografis
Bersiap Perang, 450...
Bersiap Perang, 450 Juta Warga Uni Eropa Diminta Timbun Makanan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved