Dolar AS Tetap Eksis, Ini Bukti Dedolarisasi BRICS Jalan di Tempat
Selasa, 25 Juni 2024 - 18:20 WIB
loading...
A
A
A
BRICS adalah sebuah organisasi yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Iran, Mesir, Ethiopia, dan Uni Emirat Arab (UEA). Dewan tersebut mengatakan bahwa Sistem Pembayaran Antar Bank Lintas Batas (CIPS) China menambahkan 62 peserta langsung dalam 12 bulan hingga Mei 2024, meningkat 78%, sehingga totalnya menjadi 142 peserta langsung dan 1.394 peserta tidak langsung.
Baca Juga: Ukraina Serang Crimea dengan Rudal ATACMS Tewaskan 4 Orang, Rusia Salahkan AS
Negosiasi seputar sistem pembayaran intra-BRICS masih dalam tahap awal, tetapi perjanjian bilateral dan multilateral dalam kelompok ini dapat membentuk dasar untuk platform pertukaran mata uang dari waktu ke waktu. Namun, perjanjian-perjanjian ini tidak mudah diukur karena dinegosiasikan secara individual.
Laporan tersebut mencatat bahwa China telah secara aktif mendukung likuiditas renminbi melalui jalur swap dengan mitra dagangnya, tetapi pangsa renminbi dalam cadangan mata uang asing global turun menjadi 2,3% dari puncaknya 2,8% pada 2022.
"Ini mungkin karena kekhawatiran para manajer cadangan tentang ekonomi China, posisi Beijing dalam perang Rusia-Ukraina, dan potensi invasi China ke Taiwan yang berkontribusi pada persepsi renminbi sebagai mata uang cadangan yang berisiko secara geopolitik," kata laporan itu dikutip dari Reuters, Senin (25/6/2024).
Baca Juga: Ukraina Serang Crimea dengan Rudal ATACMS Tewaskan 4 Orang, Rusia Salahkan AS
Negosiasi seputar sistem pembayaran intra-BRICS masih dalam tahap awal, tetapi perjanjian bilateral dan multilateral dalam kelompok ini dapat membentuk dasar untuk platform pertukaran mata uang dari waktu ke waktu. Namun, perjanjian-perjanjian ini tidak mudah diukur karena dinegosiasikan secara individual.
Laporan tersebut mencatat bahwa China telah secara aktif mendukung likuiditas renminbi melalui jalur swap dengan mitra dagangnya, tetapi pangsa renminbi dalam cadangan mata uang asing global turun menjadi 2,3% dari puncaknya 2,8% pada 2022.
"Ini mungkin karena kekhawatiran para manajer cadangan tentang ekonomi China, posisi Beijing dalam perang Rusia-Ukraina, dan potensi invasi China ke Taiwan yang berkontribusi pada persepsi renminbi sebagai mata uang cadangan yang berisiko secara geopolitik," kata laporan itu dikutip dari Reuters, Senin (25/6/2024).
(nng)
Lihat Juga :