BYD Bangun Pabrik Mobil Listrik di Turki, Tarif Eropa Bakal Sia-sia?
Selasa, 09 Juli 2024 - 16:25 WIB
loading...
Pabrikan mobil listrik China, BYD, membuka pabrik manufaktur di Turki yang merupakan bagian dari Serikat Pabean Uni Eropa. FOTO/Ilustrasi
A
A
A
JAKARTA - Pabrikan mobil listrik terbesar di China, BYD, telah menyetujui kesepakatan senilai USD1 miliar, sekitar Rp16 triliun (kurs Rp16.000 per USD) untuk mendirikan pabrik manufaktur di Turki. Pabrik baru tersebut akan mampu memproduksi hingga 150.000 kendaraan per tahun.
Mengutip BBC, Selasa (9/7/2024), fasilitas tersebut diharapkan dapat menciptakan sekitar 5.000 lapangan pekerjaan dan memulai produksi pada akhir tahun 2026. Kesepakatan tersebut ditandatangani di sebuah acara di Istanbul yang dihadiri oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan dan Chief Executive BYD Wang Chuanfu.
Baca Juga: Ditampar Tarif Anti-subsidi, Industri Otomotif China Kecam UE
Pengumuman tersebut muncul saat produsen kendaraan listrik China menghadapi tekanan dari Uni Eropa (UE) dan AS. Minggu lalu, UE menaikkan tarif impor untuk kendaraan listrik China. Keputusan tersebut membuat BYD dikenai tarif tambahan sebesar 17,4% atas kendaraan yang dikirimnya dari China ke UE, yang merupakan tambahan dari bea masuk sebesar 10%.
Sementara itu, Turki adalah bagian dari Serikat Pabean UE. Hal itu berarti kendaraan yang dibuat di negara tersebut dan diekspor ke Eropa dapat terhindar dari tarif tambahan. Untuk diketahui, Pemerintah Turki sebelumnya juga telah mengambil tindakan untuk mendukung produsen mobil lokal dengan mengenakan tarif tambahan sebesar 40% atas impor kendaraan China. Belum ada tanggapan dari BYD terkait hal itu.
Mengutip BBC, Selasa (9/7/2024), fasilitas tersebut diharapkan dapat menciptakan sekitar 5.000 lapangan pekerjaan dan memulai produksi pada akhir tahun 2026. Kesepakatan tersebut ditandatangani di sebuah acara di Istanbul yang dihadiri oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan dan Chief Executive BYD Wang Chuanfu.
Baca Juga: Ditampar Tarif Anti-subsidi, Industri Otomotif China Kecam UE
Pengumuman tersebut muncul saat produsen kendaraan listrik China menghadapi tekanan dari Uni Eropa (UE) dan AS. Minggu lalu, UE menaikkan tarif impor untuk kendaraan listrik China. Keputusan tersebut membuat BYD dikenai tarif tambahan sebesar 17,4% atas kendaraan yang dikirimnya dari China ke UE, yang merupakan tambahan dari bea masuk sebesar 10%.
Sementara itu, Turki adalah bagian dari Serikat Pabean UE. Hal itu berarti kendaraan yang dibuat di negara tersebut dan diekspor ke Eropa dapat terhindar dari tarif tambahan. Untuk diketahui, Pemerintah Turki sebelumnya juga telah mengambil tindakan untuk mendukung produsen mobil lokal dengan mengenakan tarif tambahan sebesar 40% atas impor kendaraan China. Belum ada tanggapan dari BYD terkait hal itu.
Lihat Juga :