Yellen Sepakat, Sanksi Barat Bisa Meruntuhkan Dolar AS

Senin, 15 Juli 2024 - 07:45 WIB
loading...
A A A
VOA kemudian melaporkan bahwa Yellen dengan cepat mencatat dampak buruk dari AS yang terus menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah negara. Ia menegaskan, negara-negara tersebut akan terus memilih alternatif mata uang jika AS tetap melanjutkan gagasan untuk mengenakan sanksi terhadap negara-negara tersebut. Sebuah laporan dari Global Times menunjukkan bahwa dedolarisasi bukan hanya sebuah fase yang berlalu, namun kini menjadi kenyataan.

Baca Juga: 3 Cara BRICS Melakukan Proses Dedolarisasi, Lepas dari Kungkungan Dolar AS

Tindakan konsisten AS dalam memberikan sanksi terhadap sebuah negara mendorong mereka untuk mencari narasi mata uang lokal untuk menyelesaikan hasil perdagangan. Menurut seorang ahli keuangan veteran yang berbasis di Beijing, Zhao Qingming praktik sanksi mampu melemahkan dolar AS secara signifikan. Dengan aliansi BRICS yang mendapatkan momentum, upaya untuk menggagalkan dolar AS sudah mulai terbentuk.

China dan Rusia sekarang memilih untuk melakukan transaksi mata uang lokal daripada menggunakan dolar AS untuk melakukan perdagangan internasional. Demikian pula, jaringan ASEAN, yang merupakan jaringan sepuluh blok terkemuka juga mempersiapkan sistem mata uangnya untuk menyaingi prestise dan reputasi dolar AS.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pasar Cemas Tarif Baru...
Pasar Cemas Tarif Baru AS, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.963
EskaIasi Laut Merah...
EskaIasi Laut Merah Tekan Rupiah, Dolar AS Ditutup ke Rp17.936 Sore Ini
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
Rupiah Tertekan Sore...
Rupiah Tertekan Sore Ini, Dolar AS Menguat Tembus Rp17.930
Dolar AS Makin Ganas...
Dolar AS Makin Ganas di Tengah Perang, Harga Minyak Tembus USD90 per Barel
Bukan Cuma Harga Minyak,...
Bukan Cuma Harga Minyak, Tata Kelola APBN yang Buruk Jadi Biang Kerok Lemahnya Rupiah
Jenderal Tertinggi Ukraina...
Jenderal Tertinggi Ukraina Sebut Rusia Tidak Berhak untuk Eksis, Moskow Marah
Jet Tempur Siluman Su-57...
Jet Tempur Siluman Su-57 Rusia Seharga Rp2 Triliun Jatuh, Bukan akibat Ditembak Ukraina
Jenderal Tertinggi AS...
Jenderal Tertinggi AS Ungkap Jet Tempur F-16 Ukraina Tembak Jatuh Su-35 Rusia dalam Duel Langit
Rekomendasi
Febrie Adriansyah Jadi...
Febrie Adriansyah Jadi Tersangka TPPU, Kejagung Paparkan Modusnya
Penyesuaian Tarif PNBP...
Penyesuaian Tarif PNBP Berkeadilan, Tarif Merek UMKM Tetap dan Pendaftaran Hak Cipta Lagu Gratis
Jumhur Dapat Wisdom...
Jumhur Dapat Wisdom dari Sri Sultan HB X: Kita Harus Mengayomi Alam Lingkungan
Berita Terkini
BRI Life Hadirkan Solusi...
BRI Life Hadirkan Solusi Perlindungan Kesehatan dan Finansial
IHSG Naik 0,34% dalam...
IHSG Naik 0,34% dalam Sepekan, Ini Daftar Saham Cuan dan Rugi Terbesar
Perkuat Ekonomi Daerah,...
Perkuat Ekonomi Daerah, Dana Bagi Hasil Tambang Perlu Dievaluasi
Perpres Operasional...
Perpres Operasional Koperasi Desa Merah Putih Ditargetkan Terbit Pekan Depan, Atur Penyaluran Subsidi hingga Bansos
OJK Catat Transaksi...
OJK Catat Transaksi Kripto Rp23,01 Triliun, Pasar Futures Dinilai Kian Prospektif
Harga Emas Antam Naik...
Harga Emas Antam Naik Rp7.000 Jadi Rp2,61 Juta per Gram, Ini Rinciannya
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved