Rusia Balas Dendam ke Barat, Tarif Impor Barang-barang Konsumen Dikerek Naik
Senin, 22 Juli 2024 - 09:39 WIB
loading...
A
A
A
Menurut perintah tersebut, tarif untuk parfum, kosmetik, dan sampo dari Polandia, misalnya, akan meningkat 35% dari nilai bea cukai sebelumnya. Selanjutnya bea impor untuk wallpaper dari Lithuania, Latvia, dan Estonia akan naik menjadi 50%.
Sedangkan bea masuk untuk anggur akan dinaikkan menjadi 20%. Tarif baru impor Rusia itu akan berlaku hingga 31 Desember 2024 dan berlaku tujuh hari setelah publikasi.
PDB Rusia tumbuh 5,5% secara year over year (YoY) pada kuartal ketiga tahun 2023, menurut data dari pemerintah Rusia. Akan tetapi menurut Renaud Foucart, seorang dosen ekonomi senior di Universitas Lancaster menerangkan, pertumbuhan tersebut didorong oleh pengeluaran militer, ketika Kremlin menghabiskan 36,6 triliun rubel atau USD386 miliar untuk sektor pertahanan tahun ini.
Sementara itu sebelumnya dilaporkan lebih dari setengah perusahaan asing yang mengumumkan rencana untuk meninggalkan Rusia setelah dimulainya perang Ukraina, masih tetap berada di negara tersebut hingga hari ini. Rebound dalam aktivitas konsumen dan hambatan birokrasi membuat perusahaan tetap tinggal, seperti dilaporkan Financial Times.
Sedangkan bea masuk untuk anggur akan dinaikkan menjadi 20%. Tarif baru impor Rusia itu akan berlaku hingga 31 Desember 2024 dan berlaku tujuh hari setelah publikasi.
Ekonomi Perang Rusia
Ekonomi Rusia ditopang oleh perang di Ukraina , sehingga menang atau kalah bukan pilihan buat Moskow. Hal ini diungkapkan oleh seorang ekonom Eropa seperti dilansir Bussiner Insider.PDB Rusia tumbuh 5,5% secara year over year (YoY) pada kuartal ketiga tahun 2023, menurut data dari pemerintah Rusia. Akan tetapi menurut Renaud Foucart, seorang dosen ekonomi senior di Universitas Lancaster menerangkan, pertumbuhan tersebut didorong oleh pengeluaran militer, ketika Kremlin menghabiskan 36,6 triliun rubel atau USD386 miliar untuk sektor pertahanan tahun ini.
Sementara itu sebelumnya dilaporkan lebih dari setengah perusahaan asing yang mengumumkan rencana untuk meninggalkan Rusia setelah dimulainya perang Ukraina, masih tetap berada di negara tersebut hingga hari ini. Rebound dalam aktivitas konsumen dan hambatan birokrasi membuat perusahaan tetap tinggal, seperti dilaporkan Financial Times.
(akr)
Lihat Juga :