Sanksi Anti-Rusia Membabi Buta, Kepatuhan Bekas Negara Soviet Ini Mulai Tergerus

Minggu, 18 Agustus 2024 - 14:43 WIB
loading...
Sanksi Anti-Rusia Membabi...
Negara bekas Soviet ini bersumpah untuk mengutamakan kepentingan ekonomi nasional mereka sendiri, dibandingkan harus secara membabi buta mengikuti sanksi anti-Rusia. Foto/Dok
A A A
ASTANA - Kazakhstan bersumpah untuk mengutamakan kepentingan ekonomi nasional mereka sendiri, dibandingkan harus secara membabi buta mengikuti sanksi anti-Rusia . Hal ini ditegaskan oleh Wakil Perdana Menteri dan Menteri Perdagangan, Serik Zhumangarin kepada Bloomberg.

Baca Juga: Sanksi Barat Bikin Aset Rp693 Triliun Milik Perusahaan Rusia Tertahan di Luar Negeri

Pejabat negara tersebut menyoroti bahwa Kazakhstan sudah memilih untuk tidak menerapkan larangan ekspor ball bearings ke Rusia, meski termasuk di antara apa yang disebut bahan dan komponen penggunaan ganda. Disebutkan bahwa ball bearings bisa juga digunakan untuk tujuan militer dan sipil.

"Kami tidak akan membiarkan produsen kami sendiri dilarang dari perdagangan," kata Zhumangarin.

Ia juga menambahkan, ada pabrik lokal asal Kazakhstan yang memproduksi ball bearings dengan spesifikasi yang biasanya hanya digunakan di Eropa timur dan negara-negara bekas Soviet.

Baca Juga: Negara Ini Tak Akan Pernah Jatuhkan Sanksi ke Rusia meski Ditekan UE

Di sisi lain Kazakhstan disebutkan tetap mematuhi sebagian besar pembatasan dalam sanksi Barat . Alasannya karena negara bekas republik Soviet itu tidak akan tahan menjadi sasaran sanksi sekunder.

Zhumangarin juga mengungkapkan, bahwa perusahaan di negara itu yang masuk daftar hitam Departemen Keuangan AS saat ini sudah ditutup.

Ditekankan oleh pejabat tinggi itu bahwa beberapa sanksi yang bertujuan memotong akses Rusia ke produk 'penggunaan ganda' telah merugikan Kazakhstan secara tidak proporsional. Sementara pemerintah Barat tidak berbuat banyak untuk memberi kompensasi kepada negara Asia Tengah, yang berbagi perbatasan terpanjang kedua di dunia dengan Rusia.

Menurut menteri perdagangan, Eurasian Resources Group yang 40% dimiliki oleh Kazakhstan, telah mengalami kerugian besar sejak sanksi memaksa perusahaan berhenti menjual bijih besi ke Rusia dan beralih ke pasar domestik.

Dengan tidak adanya pembatasan, "keuntungan akan tetap berada di Kazakhstan," kata Zhumangarin.

Kazakhstan belum menerapkan sanksi internasional yang diperkenalkan terhadap Rusia oleh AS dan sekutunya menyusul eskalasi konflik Ukraina pada Februari 2022. Namun, Presiden Kazakhstan, Kassym-Jomart Tokayev secara berulang kali mengatakan, Astana akan mematuhi pembatasan perdagangan terkait Rusia.

Mulai bulan April, Kazakhstan mulai memantau barang-barang yang melewati negara tersebut untuk diekspor kembali, melacaknya hingga mencapai tujuan akhir. FT telah melaporkan bahwa langkah tersebut diadopsi untuk mencegah perusahaan dan individu asing membantu Rusia menghindari sanksi.

Tahun lalu, Rusia menyandang label sebagai mitra dagang terbesar kedua Kazakhstan setelah China, menurut kementerian perdagangan negara Asia Tengah itu. Bahkan sebelum konflik, Rusia bertengger di posisi teratas.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
Bos Raksasa Minyak Rusia:...
Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz
Daftar Negara Pengguna...
Daftar Negara Pengguna Energi Nuklir Terbesar di Dunia, Siapa Juaranya?
Rubel Jadi Mata Uang...
Rubel Jadi Mata Uang Terkuat di Dunia, Sanksi Barat ke Rusia Tak Mempan
10 Negara dengan Ketergantungan...
10 Negara dengan Ketergantungan Sumber Daya Alam Tertinggi di Dunia, Ada Indonesia?
Ini Keunggulan Pesawat...
Ini Keunggulan Pesawat Pengebom B-52 vs Tu-22M3 yang Jatuh pada Hari yang Sama
G7 Kini Fokus Memusuhi...
G7 Kini Fokus Memusuhi Rusia, Trump: Ini Perang yang Mudah Diselesaikan
Fregat Rusia Tembaki...
Fregat Rusia Tembaki Kapal Pesiar Inggris, Starmer: Tindakan Sembrono
Rekomendasi
Israel Marah setelah...
Israel Marah setelah Presiden Belarusia Samakan Pembantaian Gaza dengan Holocaust Nazi
3.161 Personel Gabungan...
3.161 Personel Gabungan Disiagakan Jelang Eksekusi Hotel Sultan Hari Ini
7 Fakta Menarik Inggris...
7 Fakta Menarik Inggris Hancurkan Kroasia di Piala Dunia 2026
Berita Terkini
Bukan Rp16.250, Harga...
Bukan Rp16.250, Harga Asli Pertamax Seharusnya Rp20.200 per Liter
Terbitkan Panda Bond,...
Terbitkan Panda Bond, Menkeu Purbaya Kantongi Dukungan China
Indonesia Raih Komitmen...
Indonesia Raih Komitmen Pendanaan AIIB USD17 Miliar, Bukti Kepercayaan pada Fiskal RI
Maskapai China Spring...
Maskapai China Spring Airlines Resmi Mengudara di Indonesia, Buka Rute Seminggu 3 Kali
Indo Livestock 2026...
Indo Livestock 2026 Satukan Pelaku Industri dari 30 Negara, Perkuat Daya Saing Industri Peternakan RI
Indonesia-Australia...
Indonesia-Australia Kolaborasi Cetak Tenaga Ahli Butchery dan Food Safety
Infografis
Negara-negara Ini Melakukan...
Negara-negara Ini Melakukan PHK Massal PNS, Indonesia Menyusul?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved