alexametrics

Besarkan Industri Petrokimia Lewat Konversi Utang TubanPetro

loading...
Besarkan Industri Petrokimia Lewat Konversi Utang TubanPetro
Konversi utang PT Tuban Petrochemical Industries (TubanPetro) kepada pemerintah menjadi saham dari kepemilikan 70% menjadi 96% diklaim sebagai upaya membesarkan industri petrokimia. Foto/Rina Anggraeni
A+ A-
JAKARTA - Konversi utang PT Tuban Petrochemical Industries (TubanPetro) kepada pemerintah menjadi saham dari kepemilikan 70% menjadi 96% sebagai upaya untuk membesarkan industri petrokimia nasional. Kebijakan konversi yang diambil diterangkan bakal dilakukan dengan transparan dan akuntabel.

"Karena itu, jika ingin membesarkan kemampuan dari sisi petrokimia, persoalan di TubanPetro harus diselesaikan. Kebijakan pemerintah yang menyelesaikan utang MYB TubanPetro Rp3,3 triliun melalui konversi sudah tepat. Hal ini akan memberi ruang kepada TubanPetro, untuk mengembangkan bisnis," ujar Direktur Industri Kimia Hulu Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Fridy Juwono di Jakarta, Kamis (12/9/2019).

Lebih lanjut Ia mengaku, optimistis pengembangan TubanPetro akan berkontribusi bagi industri nasional. Salah satunya pasokan petrokimia bagi industri di dalam negeri bakal lebih terjamin. Karena itu menurutnya langkah pengembangan TubanPetro harus didukung oleh semua pihak.



Pasalnya, ke depan, kapasitas produksi di anak usaha TubanPetro, khususnya PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) yang selama ini hanya difungsikan pengolah BBM, bisa ditingkatkan lagi. "Karena itu peran TubanPetro sangat besar mendukung industri, sekaligus dalam jangka panjang membantu menekan defisit," paparnya.

Langkah pertama terang dia dibuat masterplant integrated petrochemical cluster, dimana dalam masterplan tersebut direncanakan TPPI yang merupakan anak usaha TubanPetro akan dibangun aromatic centre dan olefin centre.

"Saat ini, baru terbangun aromatic plant yang menghasilkan benzene toluene dan xylene (BTX), satu-satunya yang dimiliki Indonesia. Karena produk-produk tersebut masih diimpor, sehingga bisa dijadikan substitusi impor untuk menghemat devisa," katanya
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak