Merek Wadah Makanan Legendaris Tupperware Akhirnya Bangkrut
Kamis, 19 September 2024 - 16:50 WIB
loading...
Produsen wadah makanan legendaris Tupperware akhirnya mengajukan kebangkrutan. FOTO/Ilustrasi
A
A
A
JAKARTA - Produsen wadah makanan legendaris - Tupperware Brands, mengajukan perlindungan kebangkrutan pada Selasa malam. Tupperware mengalami kerugian yang terus meningkat seiring makin turunnya permintaan untuk wadah penyimpanan makanan berwarna-warni yang dulu sangat populer tersebut.
Kepopuleran Tupperware meledak pada tahun 1950-an ketika para wanita dari generasi pascaperang kerap mengadakan "pesta Tupperware" di rumah mereka untuk menjual wadah makanan tersebut. Namun, penjualannya terus merosot, dan dalam beberapa tahun terakhir produknya semakin sulit ditemukan di toko ritel dan platform penjualan daring.
Baca Juga: Profil Pendiri Tupperware dan Sejarah Berdirinya
Tupperware secara historis mengandalkan perwakilan penjualan independen untuk memasarkan produknya. Akan tetapi, seiring perubahan zaman, strategi itu gagal menjangkau konsumen modern.Tupperware bulan lalu menyatakan keraguan atas kemampuannya untuk tetap menjalankan bisnis setelah beberapa kali mengisyaratkan risiko kebangkrutan karena kendala likuiditas.
"Hampir semua orang sekarang tahu apa itu Tupperware, tetapi lebih sedikit orang yang tahu di mana menemukannya," ungkap Kepala Restrukturisasi Tupperware Brian Fox dalam pengajuan pengadilan di Pengadilan Kepailitan AS untuk Distrik Delaware, seperti dilansir Reuters, Kamis (19/9/2024).
Perusahaan memiliki utang sebesar USD812 juta, yang sebagian besar dibeli oleh investor utang yang tertekan dengan diskon besar pada bulan Juli, menurut berkas pengadilan. Para pemberi pinjaman baru tersebut telah berupaya menggunakan posisi utang mereka untuk menyita aset Tupperware termasuk kekayaan intelektualnya seperti mereknya, yang mendorong perusahaan untuk mencari perlindungan kebangkrutan.
Perusahaan bermaksud untuk melanjutkan operasi dan melakukan proses penawaran selama 30 hari untuk menemukan pembeli bagi seluruh perusahaan. Namun, hal itu dinilai akan sulit untuk terealisasi dengan kondisi perusahaan saat ini.
Kepopuleran Tupperware meledak pada tahun 1950-an ketika para wanita dari generasi pascaperang kerap mengadakan "pesta Tupperware" di rumah mereka untuk menjual wadah makanan tersebut. Namun, penjualannya terus merosot, dan dalam beberapa tahun terakhir produknya semakin sulit ditemukan di toko ritel dan platform penjualan daring.
Baca Juga: Profil Pendiri Tupperware dan Sejarah Berdirinya
Tupperware secara historis mengandalkan perwakilan penjualan independen untuk memasarkan produknya. Akan tetapi, seiring perubahan zaman, strategi itu gagal menjangkau konsumen modern.Tupperware bulan lalu menyatakan keraguan atas kemampuannya untuk tetap menjalankan bisnis setelah beberapa kali mengisyaratkan risiko kebangkrutan karena kendala likuiditas.
"Hampir semua orang sekarang tahu apa itu Tupperware, tetapi lebih sedikit orang yang tahu di mana menemukannya," ungkap Kepala Restrukturisasi Tupperware Brian Fox dalam pengajuan pengadilan di Pengadilan Kepailitan AS untuk Distrik Delaware, seperti dilansir Reuters, Kamis (19/9/2024).
Perusahaan memiliki utang sebesar USD812 juta, yang sebagian besar dibeli oleh investor utang yang tertekan dengan diskon besar pada bulan Juli, menurut berkas pengadilan. Para pemberi pinjaman baru tersebut telah berupaya menggunakan posisi utang mereka untuk menyita aset Tupperware termasuk kekayaan intelektualnya seperti mereknya, yang mendorong perusahaan untuk mencari perlindungan kebangkrutan.
Perusahaan bermaksud untuk melanjutkan operasi dan melakukan proses penawaran selama 30 hari untuk menemukan pembeli bagi seluruh perusahaan. Namun, hal itu dinilai akan sulit untuk terealisasi dengan kondisi perusahaan saat ini.
Lihat Juga :