Bom Waktu di Jantung Ekonomi Rusia Diramal Bakal Meledak
Senin, 07 Oktober 2024 - 19:24 WIB
loading...
Ekonom top asal Barat mengatakan, Rusia saat ini sedang mencoba menjinakkan bom waktu di jantung ekonominya. Foto/Dok
A
A
A
MOSKOW - Ekonom top asal Barat mengatakan, Rusia saat ini sedang mencoba menjinakkan 'bom waktu' di jantung ekonominya. Profesor di University of Chicago Harris School of Public Policy, Konstantin Sonin meramalkan masa depan ekonomi Rusia bakal suram ke depannya.
Proyeksi Sonin didasarkan, karena perang di Ukraina telah menempatkan Moskow dalam posisi dimana perlu mengerahkan lebih banyak kendali atas ekonomi. Ia menyoroti, beberapa langkah yang sudah diambil Rusia untuk menopang ekonominya, termasuk menerapkan pembatasan ekspor pada komoditas utama untuk melawan sanksi Barat.
Baca Juga: China Penyelamat Ekonomi Rusia, Perdagangan Capai Rp2,1 Kuadriliun
Perubahan tersebut telah mendorong beberapa perusahaan memilih menaikkan harga, yang menurut Sonin, menjadi tanda bahwa pasar mulai rusak. Rusia juga memblokir perusahaan Barat yang ingin meninggalkan negara itu, dengan beberapa syarat.
Hasilnya beberapa perusahaan seperti Heineken, terpaksa menjual operasi mereka di Rusia hanya dengan satu euro. Kremlin juga membiayai perang dengan "meminjam," kata Sonin, yang merujuk pada pemotongan program belanja publik saat pengeluaran militer melonjak.
Baca Juga: 4 Fakta Ekonomi Rusia Dihujani Sanksi Barat, Justru Berkembang
Selain itu Kremlin masih berencana belanja lebih banyak lagi untuk pertahanan nasional daripada perawatan kesehatan atau pendidikan selama dua tahun ke depan, menurut rencana yang diterbitkan kementerian keuangan Rusia pada tahun 2023.
Proyeksi Sonin didasarkan, karena perang di Ukraina telah menempatkan Moskow dalam posisi dimana perlu mengerahkan lebih banyak kendali atas ekonomi. Ia menyoroti, beberapa langkah yang sudah diambil Rusia untuk menopang ekonominya, termasuk menerapkan pembatasan ekspor pada komoditas utama untuk melawan sanksi Barat.
Baca Juga: China Penyelamat Ekonomi Rusia, Perdagangan Capai Rp2,1 Kuadriliun
Perubahan tersebut telah mendorong beberapa perusahaan memilih menaikkan harga, yang menurut Sonin, menjadi tanda bahwa pasar mulai rusak. Rusia juga memblokir perusahaan Barat yang ingin meninggalkan negara itu, dengan beberapa syarat.
Hasilnya beberapa perusahaan seperti Heineken, terpaksa menjual operasi mereka di Rusia hanya dengan satu euro. Kremlin juga membiayai perang dengan "meminjam," kata Sonin, yang merujuk pada pemotongan program belanja publik saat pengeluaran militer melonjak.
Baca Juga: 4 Fakta Ekonomi Rusia Dihujani Sanksi Barat, Justru Berkembang
Selain itu Kremlin masih berencana belanja lebih banyak lagi untuk pertahanan nasional daripada perawatan kesehatan atau pendidikan selama dua tahun ke depan, menurut rencana yang diterbitkan kementerian keuangan Rusia pada tahun 2023.
Lihat Juga :