Investor China Berharap Stimulus Baru Rp4.378 Triliun Cair Pekan Ini
Rabu, 16 Oktober 2024 - 11:47 WIB
loading...
Investor dan analis memperkirakan China bakal mengucurkan stimulus fiskal terbaru Rp4.378 triliun, ketika Beijing sedang berusaha menopang ekonomi terbesar kedua di dunia. Foto/Dok
A
A
A
BEIJING - Investor dan analis memperkirakan China bakal mengucurkan stimulus fiskal terbaru senilai USD283 miliar atau setara Rp4.378 triliun (kurs Rp15.470 per USD), ketika Beijing sedang berusaha menopang ekonomi terbesar kedua di dunia dan meningkatkan kepercayaan.
Mayoritas dari 23 pelaku pasar yang disurvei oleh Bloomberg, menyakini Menteri Keuangan China bakal mengumumkan stimulus jumbo tersebut pada akhir pekan ini. Sebagian besar responden mengharapkan pendanaan dalam bentuk obligasi pemerintah.
Baca Juga: Menyelamatkan Ekonomi China dari Kejatuhan, Bank Sentral Siapkan Stimulus Jumbo
Di luar jumlah paket fiskal apapun, target dukungan akan menunjukkan di mana pemerintah ingin mengarahkan ekonominya setelah bertahun-tahun ekspansi yang didorong oleh utang melalui investasi, terutama di real estate dan infrastruktur.
"Stimulus harus multi-tahunan dan ditargetkan menyasar rumah tangga dan tidak memulai kembali kisah pertumbuhan yang dipimpin oleh investasi real estate," kata Pushan Dutt, profesor ekonomi di INSEAD.
"Ini membuat fokus stimulus lebih penting daripada ukuran," ungkapnya.
Mayoritas dari 23 pelaku pasar yang disurvei oleh Bloomberg, menyakini Menteri Keuangan China bakal mengumumkan stimulus jumbo tersebut pada akhir pekan ini. Sebagian besar responden mengharapkan pendanaan dalam bentuk obligasi pemerintah.
Baca Juga: Menyelamatkan Ekonomi China dari Kejatuhan, Bank Sentral Siapkan Stimulus Jumbo
Di luar jumlah paket fiskal apapun, target dukungan akan menunjukkan di mana pemerintah ingin mengarahkan ekonominya setelah bertahun-tahun ekspansi yang didorong oleh utang melalui investasi, terutama di real estate dan infrastruktur.
"Stimulus harus multi-tahunan dan ditargetkan menyasar rumah tangga dan tidak memulai kembali kisah pertumbuhan yang dipimpin oleh investasi real estate," kata Pushan Dutt, profesor ekonomi di INSEAD.
"Ini membuat fokus stimulus lebih penting daripada ukuran," ungkapnya.
Lihat Juga :