Gerogoti Aset Rusia yang Dibekukan, Eropa Sepakat Beri Pinjaman ke Ukraina Rp589,7 T

Kamis, 24 Oktober 2024 - 16:17 WIB
loading...
Gerogoti Aset Rusia...
Parlemen Eropa telah menyetujui pinjaman USD38 miliar atau setara Rp589,7 triliun ke Ukraina, yang dibayar dari aset Rusia yang dibekukan. Foto/Dok
A A A
BRUSSELS - Parlemen Eropa telah menyetujui pinjaman USD38 miliar atau setara Rp589,7 triliun (kurs Rp15,519 per USD) ke Ukraina, yang dibayar dari aset Rusia yang dibekukan. Kepastian pinjaman ke Ukraina dari UE (Uni Eropa), berdasarkan pernyataan resmi seperti dilansir RT.

Uni Eropa diketahui membekukan aset Bank Sentral Rusia sekitar USD227 miliar setelah dimulainya perang Ukraina pada Februari 2022. Rusia mengecam kebijakan itu sebagai sebuah "pencurian."

Baca Juga: Pakai Aset Beku Rusia, Pinjaman Rp769,5 Triliun ke Ukraina Tersendat

Pinjaman tersebut untuk memenuhi bagian Uni Eropa dari paket bantuan USD50 miliar kepada Kiev yang disepakati oleh negara-negara G7 pada bulan Juni. Anggota parlemen menyetujui langkah itu dengan 518 suara mendukung, 56 menentang dan 61 abstain, saat diumum parlemen.

Diterangkan juga bahwa dana tersebut akan ditransfer hingga akhir tahun depan. Pendapatan selanjutnya dari aset Bank Sentral Rusia yang dibekukan akan tersedia bagi Ukraina untuk memenuhi pinjaman Uni Eropa dan mitra G7 lainnya.

Dalam pernyataan itu juga ditambahkan, bahwa Kiev juga dapat mengalokasikan dana "sesuai keinginannya."

Proposal tersebut didukung awal bulan ini oleh pemerintah anggota Uni Eropa. Dewan Eropa saat ini berencana untuk mengadopsinya sebagai peraturan, dan akan mulai berlaku setelah dipublikasikan di Jurnal Resmi Uni Eropa, kata pernyataan itu.

Aset milik Rusia yang tidak bergerak telah menghasilkan USD3,7 miliar dalam bunga pada pertengahan Juli, menurut penyimpanan sekuritas pusat yang berbasis di Brussels, Euroclear, yang memegang sebagian besar dana Rusia.

Pada bulan Juli, transfer USD1,6 miliar dari uang itu disetujui oleh Komisi Eropa untuk mendukung "kemampuan militer" Ukraina.

AS dilaporkan berencana berkontribusi hingga USD20 miliar dalam paket G7, juga dengan syarat bahwa dana tersebut dilunasi menggunakan hasil yang dihasilkan oleh aset Rusia yang tidak bergerak.

Disebutkan, AS sebelumnya menyatakan keprihatinannya bahwa kebijakan Uni Eropa untuk meninjau sanksi Rusia setiap enam bulan membuat pembayaran kembali pinjaman tidak pasti karena dapat mengakibatkan penyimpangan.

Sebagai tanggapan, Brussels mengusulkan perpanjangan jangka waktu menjadi tiga tahun. Hongaria menentang gagasan itu dan mengatakan akan menunda keputusan sampai setelah pemilihan presiden AS pada 5 November.

Baca Juga: Aset Rusia Dipakai Beri Pinjaman ke Ukraina Rp807,3 Triliun, Yellen Pede G7 Beri Restu

Pendukung Barat di Kiev telah mencoba untuk mempercepat negosiasi atas pinjaman karena meningkatnya kekhawatiran bahwa bantuan Washington ke negara itu dapat terputus jika Donald Trump kembali ke Gedung Putih, seperti dilaporkan Financial Times pada pekan lalu. Mantan presiden AS itu telah berulang kali mengancam akan mengurangi bantuan jika dia terpilih.

Moskow berpendapat, bahwa setiap penyitaan dananya adalah tindakan ilegal di bawah hukum internasional dan selanjutnya akan merusak kepercayaan global pada sistem keuangan Barat.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
Bos Raksasa Minyak Rusia:...
Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz
Daftar Negara Pengguna...
Daftar Negara Pengguna Energi Nuklir Terbesar di Dunia, Siapa Juaranya?
Badai PHK Guncang Inggris...
Badai PHK Guncang Inggris di Tengah Perang AS-Iran, Tembus Rekor Tertinggi 5 Tahun
Rubel Jadi Mata Uang...
Rubel Jadi Mata Uang Terkuat di Dunia, Sanksi Barat ke Rusia Tak Mempan
10 Tahun Brexit, Mayoritas...
10 Tahun Brexit, Mayoritas Rakyat Inggris Menyesal!
Tiru Strategi Iran,...
Tiru Strategi Iran, Ukraina Tembakkan 323 Drone ke Wilayah Rusia pada Malam Hari
Teken Kerja Sama Hukum,...
Teken Kerja Sama Hukum, Indonesia dan Rusia Perkuat Mutual Legal Assistance
Rekomendasi
Blusukan ke Lampung,...
Blusukan ke Lampung, Jokowi: Saya Hadir untuk PSI
Tingkatkan Kualitas...
Tingkatkan Kualitas Layanan, ShopeeFood Fokus Dorong Pengembangan Kompetensi Mitra Pengemudi
21 Titik Kantong Parkir...
21 Titik Kantong Parkir Disiapkan untuk Malam Puncak HUT ke-499 Jakarta, Ini Lokasinya
Berita Terkini
Dataran Tinggi Tak Lagi...
Dataran Tinggi Tak Lagi Area Pinggiran, UPLAND Jadikannya Pilar Kedaulatan Pangan
Ekonom Bank Mandiri...
Ekonom Bank Mandiri Ungkap Kunci Penguatan Rupiah dan Rebound IHSG, Fundamental Ekonomi Solid
Modernland Realty Catat...
Modernland Realty Catat Laba Bersih Rp241,12 Miliar di 2025
Lusi Tak Menyangka Dapat...
Lusi Tak Menyangka Dapat Hadiah Mobil dari Tabungan Dahsyat Arisan MNC Bank
Bank Mandiri Taspen...
Bank Mandiri Taspen Buka 3 Posko Bantu Korban Penipuan Investasi
Emas Now Tawarkan Investasi...
Emas Now Tawarkan Investasi Logam Mulia Lebih Inklusif
Infografis
32 Negara yang Sudah...
32 Negara yang Sudah Lolos ke Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved