Pasokan Gas Rusia via Ukraina Berakhir, Apa Dampaknya bagi Eropa?

Kamis, 02 Januari 2025 - 07:38 WIB
loading...
Pasokan Gas Rusia via...
Pasokan gas melalui jaringan pipa era Soviet yang melintasi Ukraina dihentikan. Jalur pipa era Soviet memasuki Ukraina di dekat desa Sudzha, Rusia. FOTO/Reuters
A A A
JAKARTA - Pasokan gas melalui jaringan pipa era Soviet yang melintasi Ukraina dihentikan menandai berakhirnya dominasi Rusia selama beberapa dekade pasokan di pasar energi Eropa, demikian laporan Reuters. Meskipun hampir tiga tahun perang, pasokan gas terus berlanjut tetapi Ukraina menghentikan transit pada 1 Januari pukul 7:00 GMT.

Namun, penghentian ini diperkirakan tidak akan berdampak pada harga konsumen di Uni Eropa, tidak seperti pada tahun 2022, ketika pengurangan pasokan gas Rusia menyebabkan lonjakan harga, memperburuk krisis biaya hidup dan merusak daya saing Uni Eropa.

Pembeli gas Rusia yang tersisa di Uni Eropa melalui Ukraina, seperti Slovakia dan Austria telah mengatur pasokan alternatif. Hongaria akan terus menerima gas Rusia melalui TurkStream, yang mengalir melalui dua jaringan pipa di bawah Laut Hitam.

Baca Juga: AS Perketat Sanksi, India Temukan Alternatif Pengganti Minyak Rusia

Terputusnya pasokan gas juga mempengaruhi wilayah Transnistria yang diduduki Rusia di Moldova telah memutus aliran listrik dan air panas ke rumah-rumah tangga karena ketergantungan pada rute transit gas yang sama. Komisi Eropa menyatakan bahwa Uni Eropa telah mempersiapkan diri untuk menghadapi pemutusan tersebut.

"Infrastruktur gas Eropa cukup fleksibel untuk menyediakan gas yang berasal dari non-Rusia. Hal ini telah diperkuat dengan kapasitas impor LNG baru yang signifikan sejak 2022," ujar Juru Bicara Komisi Eropa.

Ukraina, yang memutuskan untuk tidak memperbarui perjanjian transit, menekankan bahwa Eropa telah membuat keputusan strategis untuk beralih dari gas Rusia.

"Kami menghentikan transit gas Rusia. Ini adalah peristiwa bersejarah. Rusia kehilangan pasarnya; Rusia akan mengalami kerugian finansial," kata Menteri Energi Ukraina, German Galushchenko.

Kerugian bagi Kedua Belah Pihak

Ukraina akan kehilangan sekitar USD800 juta per tahun dalam biaya transit sementara Gazprom akan kehilangan sekitar USD5 miliar dalam penjualan gas.

Rusia dan bekas Uni Soviet menghabiskan setengah abad untuk membangun pangsa pasar gas Eropa yang signifikan, yang pada puncaknya mencapai sekitar 35%. Namun, perang telah menghancurkan bisnis Gazprom di area ini.

Baca Juga: Pemimpin Komunis AS Ungkap Barat Gunakan Ukraina untuk Sebarkan Terorisme

Jalur pipa Yamal-Eropa, yang membentang melalui Belarus, juga ditutup, dan pada tahun 2022, rute Nord Stream melintasi Laut Baltik ke Jerman diledakkan.

Secara keseluruhan, jumlah gas yang dikirim ke Eropa melalui berbagai rute pada 2018 mencapai 201 miliar meter kubik. Pada 2023, Rusia mengirimkan sekitar 15 miliar meter kubik gas melalui Ukraina, yang lebih kecil dari 65 miliar meter kubik ketika kontrak lima tahun terakhir mulai berlaku pada tahun 2020.

Seperti yang ditunjukkan oleh berbagai laporan, kontrak lima tahun Naftogaz dengan Gazprom berakhir pada 1 Januari 2025. Ukraina menutup katup gas pada tanggal 1 Januari pukul 7:00 GMT, membuat Moskow kehilangan pendapatan tahunan sekitar $5-7 miliar.

Seperti yang dikatakan oleh Menteri Energi Ukraina, German Galushchenko, "warga negara tidak akan merasakan kejadian ini sama sekali karena kami akan menyediakan gas, dan dengan demikian panas, ke rumah-rumah setiap warga Ukraina."
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Janji Manis Investasi...
Janji Manis Investasi Rp5.323 Triliun di Balik Kesepakatan Damai AS-Iran
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Krisis LNG Timur Tengah,...
Krisis LNG Timur Tengah, Permintaan Batu Bara di Asia Melonjak
Sambut Kabar Damai AS-Iran,...
Sambut Kabar Damai AS-Iran, Harga Bitcoin Melesat Tembus USD65.900
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
20 Negara Pengimpor...
20 Negara Pengimpor Terbesar Produk China, Indonesia Peringkat Berapa?
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
Gelombang Panas Sengat...
Gelombang Panas Sengat Eropa, 18 Orang Tewas di Prancis
Wanita Ini Dihujat karena...
Wanita Ini Dihujat karena Sebut Islam Organisasi Teroris, Sekarang Malah Dapat Donasi Rp2,5 Miliar
Rekomendasi
Saat Prancis Hujan Rekor...
Saat Prancis Hujan Rekor di Laga Kedua Grup I Piala Dunia 2026
Amalan Hari Asyura 10...
Amalan Hari Asyura 10 Muharram: Puasa Asyura, Sedekah, dan Meluaskan Rezeki Keluarga
Tingkatkan Layanan Kesehatan...
Tingkatkan Layanan Kesehatan di Rumah Sakit, RS Pelni Gelar Pelatihan AI
Berita Terkini
IHSG Siang Anjlok 1,29%...
IHSG Siang Anjlok 1,29% ke 6.037, Sektor Keuangan dan Energi Jadi Pemberat
Komut Pertamina Mochamad...
Komut Pertamina Mochamad Iriawan: Investasi Terbaik Bangsa pada Manusia
Uang Beredar di Mei...
Uang Beredar di Mei 2026 Capai Rp10.415,9 Triliun, BI: Tumbuh 10,8 Persen
Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan...
Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan Baju Bekas Ilegal Senilai Rp37,4 Miliar
Bangun SDM Unggul, Pertamina...
Bangun SDM Unggul, Pertamina Gandeng Kemnaker Perkuat Kompetensi dan Budaya K3
Kebijakan Ekspor Satu...
Kebijakan Ekspor Satu Pintu, Reform Syndicate Sodorkan 5 Rekomendasi Taktis
Infografis
3 Alasan Ukraina Selalu...
3 Alasan Ukraina Selalu Didukung Barat dalam Melawan Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved