Tenaga Ahli Menteri ESDM: Indonesia Harus Bisa Beralih dari Energi Fosil ke EBT
Selasa, 28 Januari 2025 - 23:31 WIB
loading...
A
A
A
Dengan adanya Keppres Satgas Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional yang dipimpin langsung oleh Pak Menteri, Hangga berharap ini bisa meningkatkan investasi, hilirisasi dan menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan nilai tambah pada komoditas Indonesia.
“Indonesia harus bisa beralih dari bahan bakar fosil ke EBT untuk mencapai Paris Agreement tahun 2030 dan juga NZE di tahun 2060. Coal phase down menjadi penting namun harus ada solusi," tegasnya.
Menurut alumnus Michigan State University dan New York University ini, PLTU akan dipensiunkan tetapi harus ada penggantinya. Sumber energi yang bisa menjadi base load, yang murah, dan dapat diakses oleh masyarakat baik itu co-firing dengan biomassa, gas, maupun EBT.
“Menteri ESDM sudah mengeluarkan Kepmen B40 dan kami berharap Kepmen tersebut dapat dilaksanakan dengan baik. Tahun depan targetnya akan meningkat ke B50 dan seterusnya sampai B100," ujarnya.
Menurut Hangga, pihaknya juga berkoordinasi dengan Komisi XII DPR-RI dan DEN dalam penyusunan Kebijakan Energi Nasional yang selaras dengan Visi dan Misi Presiden dan Wakil Presiden RI. "Turunan dari KEN ada RUKN yang saat ini sedang dibahas dan RUPTL di sisi kanan. Di sisi kiri ada RUEN dan juga RUED," jelasnya.
Ditambahkan Hangga, di Kementerian ESDM juga sedang membahas RUU Minerba, Migas, dan EBT. "Juga mengaktifkan sumur idle dan menggunakan teknologi IOR/EOR agar dapat meningkatkan lifting migas menjadi salah satu program prioritas," ujar mantan Senior Analyst Gas Market Research pada PT Pertamina International Shipping ini.
“Indonesia harus bisa beralih dari bahan bakar fosil ke EBT untuk mencapai Paris Agreement tahun 2030 dan juga NZE di tahun 2060. Coal phase down menjadi penting namun harus ada solusi," tegasnya.
Menurut alumnus Michigan State University dan New York University ini, PLTU akan dipensiunkan tetapi harus ada penggantinya. Sumber energi yang bisa menjadi base load, yang murah, dan dapat diakses oleh masyarakat baik itu co-firing dengan biomassa, gas, maupun EBT.
“Menteri ESDM sudah mengeluarkan Kepmen B40 dan kami berharap Kepmen tersebut dapat dilaksanakan dengan baik. Tahun depan targetnya akan meningkat ke B50 dan seterusnya sampai B100," ujarnya.
Migas
Terkait tata kelola migas dari segi transportasi FAME, kata Hangga juga penting dan harus ada perusahaan yang bisa diandalkan untuk mengangkut FAME. “Untuk subsidi BBM, listrik, dan LPG harus tepat sasaran dan skemanya akan disampaikan oleh Presiden dan Menteri ESDM," ujarnya.Menurut Hangga, pihaknya juga berkoordinasi dengan Komisi XII DPR-RI dan DEN dalam penyusunan Kebijakan Energi Nasional yang selaras dengan Visi dan Misi Presiden dan Wakil Presiden RI. "Turunan dari KEN ada RUKN yang saat ini sedang dibahas dan RUPTL di sisi kanan. Di sisi kiri ada RUEN dan juga RUED," jelasnya.
Ditambahkan Hangga, di Kementerian ESDM juga sedang membahas RUU Minerba, Migas, dan EBT. "Juga mengaktifkan sumur idle dan menggunakan teknologi IOR/EOR agar dapat meningkatkan lifting migas menjadi salah satu program prioritas," ujar mantan Senior Analyst Gas Market Research pada PT Pertamina International Shipping ini.
Lihat Juga :