Investasi Migas AS Lesu, Nilai Transaksi Anjlok Rp156 Triliun
Kamis, 30 Januari 2025 - 07:23 WIB
loading...
Dongkrak pompa beroperasi di depan rig pengeboran di ladang minyak di Midland, Texas, AS, 22 Agustus 2018. FOTO/Reuters
A
A
A
JAKARTA - Transaksi industri hulu minyak dan gas Amerika Serikat (AS) mencapai USD105 miliar pada 2024 dengan aktivitas melambat di paruh kedua tahun lalu akibat minimnya minat akuisisi.
Menurut Enverus, total nilai kesepakatan tahun lalu turun tajam di belakang nilai merger dan akuisisi sebesar USD192 miliar yang dilakukan pada 2023 mencakup kombinasi USD60 miliar dari Exxon Mobil dan Pioneer Natural Resources. Permian tetap menjadi target akuisisi yang paling diminati.
"Kita akan mendapatkan beberapa kejutan menarik tahun ini karena operator-operator melirik wilayah-wilayah dan permainan-permainan yang tidak kita duga sebelumnya," ujar analis utama Enverus, Andrew Dittmar dalam sebuah wawancara dilansir dari Reuters, Kamis (30/1/2025).
Baca Juga: Cadangan Migas Menipis dan Rumitnya Izin Bikin Investor Ogah Masuk ke Indonesia
"Bagi pembeli yang mempertimbangkan untuk mengakuisisi salah satu target Permian yang tersisa, pertanyaannya adalah apakah kualitas dan perluasan sumber daya sepadan dengan harga yang harus dibayar," kata Dittmar.
Bagi banyak perusahaan E&P yang lebih kecil, keputusannya kemungkinan besar adalah mencari di luar Permian. Lapangan serpih yang sudah matang seperti Williston Basin di North Dakota dan Eagle Ford di Texas Selatan menawarkan alternatif dan mendapatkan peningkatan karena pembeli mengunjungi kembali aset yang telah dikembangkan dengan peluang untuk melakukan pengurasan ulang.
Mengebor ulang sumur tua menawarkan peningkatan produksi yang cepat dengan investasi yang lebih kecil lebih diminati ketimbang mengebor sumur baru. Nilai transaksi migas di AS merosot menjelang akhir tahun mecapai USD9,6 miliar atau setera Rp156 triliun yang dibukukan pada kuartal IV 2024 karena pembeli menemukan lebih sedikit target M&A yang dapat dikejar.
Menurut Enverus, total nilai kesepakatan tahun lalu turun tajam di belakang nilai merger dan akuisisi sebesar USD192 miliar yang dilakukan pada 2023 mencakup kombinasi USD60 miliar dari Exxon Mobil dan Pioneer Natural Resources. Permian tetap menjadi target akuisisi yang paling diminati.
"Kita akan mendapatkan beberapa kejutan menarik tahun ini karena operator-operator melirik wilayah-wilayah dan permainan-permainan yang tidak kita duga sebelumnya," ujar analis utama Enverus, Andrew Dittmar dalam sebuah wawancara dilansir dari Reuters, Kamis (30/1/2025).
Baca Juga: Cadangan Migas Menipis dan Rumitnya Izin Bikin Investor Ogah Masuk ke Indonesia
"Bagi pembeli yang mempertimbangkan untuk mengakuisisi salah satu target Permian yang tersisa, pertanyaannya adalah apakah kualitas dan perluasan sumber daya sepadan dengan harga yang harus dibayar," kata Dittmar.
Bagi banyak perusahaan E&P yang lebih kecil, keputusannya kemungkinan besar adalah mencari di luar Permian. Lapangan serpih yang sudah matang seperti Williston Basin di North Dakota dan Eagle Ford di Texas Selatan menawarkan alternatif dan mendapatkan peningkatan karena pembeli mengunjungi kembali aset yang telah dikembangkan dengan peluang untuk melakukan pengurasan ulang.
Mengebor ulang sumur tua menawarkan peningkatan produksi yang cepat dengan investasi yang lebih kecil lebih diminati ketimbang mengebor sumur baru. Nilai transaksi migas di AS merosot menjelang akhir tahun mecapai USD9,6 miliar atau setera Rp156 triliun yang dibukukan pada kuartal IV 2024 karena pembeli menemukan lebih sedikit target M&A yang dapat dikejar.
Lihat Juga :