Tarif Impor Terbaru Trump Hantam Negara-negara Termiskin, Bagaimana Nasibnya
Jum'at, 04 April 2025 - 14:20 WIB
loading...
A
A
A
"Bangladesh sedang meninjau tarifnya pada produk yang diimpor dari Amerika Serikat," kata Shafiqul Alam, sekretaris pers.
"Dewan Pendapatan Nasional sedang mengidentifikasi opsi untuk merasionalisasi tarif dengan cepat," bebernya.
Sementara itu bagi Sri Lanka yang baru saja dihantam krisis ekonomi terburuk dalam sejarah akibat gagal bayar utang negara pada awal 2022, bakal kesulitan mengelola tarif 44% yang dikenakan AS. Seperti diketahui AS merupakan pasar terbesar Sri Lanka, dengan menyumbang 23% dari total ekspor pada tahun 2024.
Di sisi lain, analis mempertanyakan keadilan perhitungan tarif AS, mengingat dampaknya yang terlalu besar terhadap negara-negara termiskin.
"Secara khusus, hal ini menghukum negara-negara berkembang kecil seperti Kamboja yang tidak memiliki kapasitas untuk membeli banyak dari AS," tulis Tommy Xie, kepala riset makro Asia di Oversea-Chinese Banking Corp.
Ini juga dapat membahayakan pendanaan dari Dana Moneter Internasional (IMF) untuk Sri Lanka, Pakistan dan Bangladesh karena akan mempersulit mereka untuk mencapai target yang ditetapkan dalam program bailout, kata Ankur Shukla, seorang ekonom yang berbasis di Mumbai untuk Bloomberg Economics, dalam sebuah laporan terbarunya.
Negara-negara Asia juga wajib mewaspadai terhadap banjir barang-barang China yang lebih murah di pasar mereka sebagai akibat dari efek domino dari bea masuk AS yang lebih tinggi. China sendiri juga dikenakan tarif timbal balik 34% – ditumpuk di atas bea 20% yang telah diberlakukan Trump tahun ini.
Baca Juga: Daftar 75 Negara yang Kena Tarif Impor Trump: Indonesia 32%, Vietnam 46%
"Upaya China untuk menemukan pasar baru untuk barang-barang yang sebelumnya ditujukan ke AS harus pergi ke suatu tempat setidaknya dalam jangka pendek," kata Elms dari Hinrich Foundation.
"Ini akan menimbulkan ketegangan baru dengan tetangga," paparnya.
"Dewan Pendapatan Nasional sedang mengidentifikasi opsi untuk merasionalisasi tarif dengan cepat," bebernya.
Sementara itu bagi Sri Lanka yang baru saja dihantam krisis ekonomi terburuk dalam sejarah akibat gagal bayar utang negara pada awal 2022, bakal kesulitan mengelola tarif 44% yang dikenakan AS. Seperti diketahui AS merupakan pasar terbesar Sri Lanka, dengan menyumbang 23% dari total ekspor pada tahun 2024.
Di sisi lain, analis mempertanyakan keadilan perhitungan tarif AS, mengingat dampaknya yang terlalu besar terhadap negara-negara termiskin.
"Secara khusus, hal ini menghukum negara-negara berkembang kecil seperti Kamboja yang tidak memiliki kapasitas untuk membeli banyak dari AS," tulis Tommy Xie, kepala riset makro Asia di Oversea-Chinese Banking Corp.
Ini juga dapat membahayakan pendanaan dari Dana Moneter Internasional (IMF) untuk Sri Lanka, Pakistan dan Bangladesh karena akan mempersulit mereka untuk mencapai target yang ditetapkan dalam program bailout, kata Ankur Shukla, seorang ekonom yang berbasis di Mumbai untuk Bloomberg Economics, dalam sebuah laporan terbarunya.
Negara-negara Asia juga wajib mewaspadai terhadap banjir barang-barang China yang lebih murah di pasar mereka sebagai akibat dari efek domino dari bea masuk AS yang lebih tinggi. China sendiri juga dikenakan tarif timbal balik 34% – ditumpuk di atas bea 20% yang telah diberlakukan Trump tahun ini.
Baca Juga: Daftar 75 Negara yang Kena Tarif Impor Trump: Indonesia 32%, Vietnam 46%
"Upaya China untuk menemukan pasar baru untuk barang-barang yang sebelumnya ditujukan ke AS harus pergi ke suatu tempat setidaknya dalam jangka pendek," kata Elms dari Hinrich Foundation.
"Ini akan menimbulkan ketegangan baru dengan tetangga," paparnya.
(akr)
Lihat Juga :