Dunia Kacau Balau, Sri Mulyani Pede Ekonomi Indonesia Tumbuh 5%
Kamis, 24 April 2025 - 11:18 WIB
loading...
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 tetap tumbuh di kisaran 5% di tengah ketidakpastian global yang terus meningkat.
"Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025 diperkirakan tetap akan mencapai 5%," ujar Sri Mulyani, kapasitas sebagai Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dalam konferensi pers virtual hasil Rapat Berkala KSSK, Kamis (24/4/2025).
Baca Juga: IMF Pangkas Proyeksi PDB 3 Negara Ekonomi Utama Asia
Dia juga menyatakan, nilai tukar rupiah masih terjaga stabil berkat langkah-langkah stabilisasi yang diambil oleh Bank Indonesia (BI). Pada 27 Maret 2025, nilai tukar Rupiah tercatat sebesar Rp16.560 per dolar AS, atau menguat 0,12% secara point-to-point dibandingkan akhir Februari 2025.
Namun, ia mengakui tekanan sempat terjadi di pasar offshore non-delivery forward (NDF) terutama saat Indonesia memasuki masa libur panjang dan pasar domestik tidak aktif.
"Tekanan terhadap nilai tukar rupiah terjadi di pasar offshore NDF saat Indonesia mengalami libur panjang, sementara pasar domestik tidak terbuka," jelasnya.
Menurut dia ketegangan di pasar NDF dipicu oleh pengumuman tarif resiprokal oleh Amerika Serikat. Menanggapi hal itu, Bank Indonesia melakukan intervensi secara berkesinambungan sejak 7 April 2025 di pasar Asia, Eropa, hingga New York.
"Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025 diperkirakan tetap akan mencapai 5%," ujar Sri Mulyani, kapasitas sebagai Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dalam konferensi pers virtual hasil Rapat Berkala KSSK, Kamis (24/4/2025).
Baca Juga: IMF Pangkas Proyeksi PDB 3 Negara Ekonomi Utama Asia
Dia juga menyatakan, nilai tukar rupiah masih terjaga stabil berkat langkah-langkah stabilisasi yang diambil oleh Bank Indonesia (BI). Pada 27 Maret 2025, nilai tukar Rupiah tercatat sebesar Rp16.560 per dolar AS, atau menguat 0,12% secara point-to-point dibandingkan akhir Februari 2025.
Namun, ia mengakui tekanan sempat terjadi di pasar offshore non-delivery forward (NDF) terutama saat Indonesia memasuki masa libur panjang dan pasar domestik tidak aktif.
"Tekanan terhadap nilai tukar rupiah terjadi di pasar offshore NDF saat Indonesia mengalami libur panjang, sementara pasar domestik tidak terbuka," jelasnya.
Menurut dia ketegangan di pasar NDF dipicu oleh pengumuman tarif resiprokal oleh Amerika Serikat. Menanggapi hal itu, Bank Indonesia melakukan intervensi secara berkesinambungan sejak 7 April 2025 di pasar Asia, Eropa, hingga New York.
Lihat Juga :