Gegara Resesi, Singapura Mulai 'Tak Ramah' pada TKA
Senin, 07 September 2020 - 10:52 WIB
loading...
A
A
A
Namun, menambah rasa ketidakpastian, Perdana Menteri Lee Hsien Loong pada pelan lalu memperingatkan bahwa berfokus ke dalam justru akan menjadi pukulan bagi negara selama resesi.
Calvin Cheng, seorang pengusaha Singapura, mengatakan negaranya menghadapi keseimbangan yang sangat rumit dalam jangka pendek. "Anda harus memastikan bahwa sambil menjaga warga negara Anda sendiri, perusahaan juga perlu memiliki akses ke talenta terbaik untuk bertahan dari resesi. Kebutuhan ini bahkan lebih akut bagi Singapura mengingat kami adalah ekonomi paling terbuka di dunia," ujarnya.
Philippe May, direktur pelaksana Arton Capital, sebuah firma penasihat keuangan, mengatakan lingkungan sosial saat ini dan tingkat pengangguran yang meningkat membuat perusahaan lebih enggan untuk merekrut dari luar negeri. "Akseptabilitas orang asing, apalagi pendatang baru mungkin tidak akan sama seperti dulu," tuturnya.
"Pemerintah Singapura berkomitmen untuk menjaga agar negaranya tetap relevan secara internasional dan keterbukaan tertentu terhadap imigrasi diperlukan untuk itu, tetapi mereka sadar bahwa musim penghujan telah tiba dan bahwa umumnya warga Singapura harus didahulukan sehingga mereka kesulitan," tambahnya.
Andrew Zee, pemimpin tim untuk layanan keuangan di Selby Jennings, mengatakan undang-undang upah minimum yang baru lebih mungkin berdampak pada perekrutan tingkat junior. Sementara, bulan-bulan berikutnya meski akan "menantang," perusahaan masih mencari talenta terbaik. "Kami melihat minat perekrutan kembali lagi, wawancara sedang berlangsung," katanya.
Tetapi tekanan finansial dari pandemi telah menyebabkan ketegangan mendasar antara penduduk lokal dan komunitas ekspatriat muncul ke permukaan.
Calvin Cheng, seorang pengusaha Singapura, mengatakan negaranya menghadapi keseimbangan yang sangat rumit dalam jangka pendek. "Anda harus memastikan bahwa sambil menjaga warga negara Anda sendiri, perusahaan juga perlu memiliki akses ke talenta terbaik untuk bertahan dari resesi. Kebutuhan ini bahkan lebih akut bagi Singapura mengingat kami adalah ekonomi paling terbuka di dunia," ujarnya.
Philippe May, direktur pelaksana Arton Capital, sebuah firma penasihat keuangan, mengatakan lingkungan sosial saat ini dan tingkat pengangguran yang meningkat membuat perusahaan lebih enggan untuk merekrut dari luar negeri. "Akseptabilitas orang asing, apalagi pendatang baru mungkin tidak akan sama seperti dulu," tuturnya.
"Pemerintah Singapura berkomitmen untuk menjaga agar negaranya tetap relevan secara internasional dan keterbukaan tertentu terhadap imigrasi diperlukan untuk itu, tetapi mereka sadar bahwa musim penghujan telah tiba dan bahwa umumnya warga Singapura harus didahulukan sehingga mereka kesulitan," tambahnya.
Andrew Zee, pemimpin tim untuk layanan keuangan di Selby Jennings, mengatakan undang-undang upah minimum yang baru lebih mungkin berdampak pada perekrutan tingkat junior. Sementara, bulan-bulan berikutnya meski akan "menantang," perusahaan masih mencari talenta terbaik. "Kami melihat minat perekrutan kembali lagi, wawancara sedang berlangsung," katanya.
Tetapi tekanan finansial dari pandemi telah menyebabkan ketegangan mendasar antara penduduk lokal dan komunitas ekspatriat muncul ke permukaan.
Lihat Juga :