Bea Cukai Kantongi Rp77,5 Triliun di Kuartal I 2025, Setara 25,7% dari Target
Rabu, 07 Mei 2025 - 20:45 WIB
loading...
A
A
A
Askolani mengungkapkan, dua faktor utama penyebab kontraksi penerimaan Bea Masuk. Pertama, tidak adanya lagi kuota impor beras untuk Bulog pada tahun 2025. Pada tahun sebelumnya, impor beras oleh Bulog masih dilakukan, sehingga berkontribusi pada penerimaan Bea Masuk.
Kedua, kebijakan pemerintah yang memberikan insentif Bea Masuk nol persen untuk kendaraan bermotor listrik (EV) menyebabkan penurunan signifikan pada penerimaan Bea Masuk dari sektor otomotif, meskipun volume impor EV meningkat.
Sementara itu, Bea Keluar menunjukkan fluktuasi yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, dengan puncaknya pada tahun 2021 dan 2022 yang mencapai Rp34-39 triliun.
Pada Kuartal I 2025, penerimaan Bea Keluar tercatat sebesar Rp8,8 triliun, dipengaruhi oleh kenaikan harga Crude Palm Oil (CPO) yang tumbuh 1.145,7 persen dan penurunan ekspor tembaga sebesar 76,6%.
Dari sektor Cukai, penerimaan Cukai Hasil Tembakau (CHT) mencapai Rp55,7 triliun pada Kuartal I 2025, tumbuh 5,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ini dipengaruhi oleh pergeseran pelunasan menjelang Lebaran, meskipun produksi rokok mengalami penurunan sebesar 4,2%.
Kedua, kebijakan pemerintah yang memberikan insentif Bea Masuk nol persen untuk kendaraan bermotor listrik (EV) menyebabkan penurunan signifikan pada penerimaan Bea Masuk dari sektor otomotif, meskipun volume impor EV meningkat.
Sementara itu, Bea Keluar menunjukkan fluktuasi yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, dengan puncaknya pada tahun 2021 dan 2022 yang mencapai Rp34-39 triliun.
Pada Kuartal I 2025, penerimaan Bea Keluar tercatat sebesar Rp8,8 triliun, dipengaruhi oleh kenaikan harga Crude Palm Oil (CPO) yang tumbuh 1.145,7 persen dan penurunan ekspor tembaga sebesar 76,6%.
Dari sektor Cukai, penerimaan Cukai Hasil Tembakau (CHT) mencapai Rp55,7 triliun pada Kuartal I 2025, tumbuh 5,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ini dipengaruhi oleh pergeseran pelunasan menjelang Lebaran, meskipun produksi rokok mengalami penurunan sebesar 4,2%.
Lihat Juga :