Rubel Rusia Berbalik Pukul KO Dolar AS, Ini Penopangnya

Jum'at, 30 Mei 2025 - 11:53 WIB
loading...
Rubel Rusia Berbalik...
Rubel Rusia melonjak ke level tertinggi dua tahun terhadap dolar AS dalam perdagangan forex. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Rubel Rusia melonjak ke level tertinggi dua tahun terhadap dolar AS dalam perdagangan forex pada hari Kamis (29/5) waktu setempat. Lompatan mata uang Rusia itu, menurut para analis didukung oleh perkembangan geopolitik yang positif dan kondisi menguntungkan di pasar minyak global

Mata uang Rubel Rusia telah menguat selama beberapa bulan terakhir, dengan diperdagangkan di bawah 78 terhadap dolar pada Kamis sore, untuk menjadi level terkuatnya sejak pertengahan Mei 2023.

"Kenaikan mata uang Rusia didorong oleh meningkatnya harga minyak dan optimisme terkait pembicaraan perdamaian Ukraina," kata para analis seperti dilansir RT.

Baca Juga: Krisis Kepercayaan Global, Ini Bukti Nyata Dunia Mulai Tinggalkan Dolar AS

Sebelumnya Rusia mengumumkan bahwa mereka telah menyusun memorandum perdamaian, ditambah kenaikan harga minyak telah berkontribusi pada kekuatan rubel, seperti disampaikan Yevgeny Loktyukhov dari Promsvyazbank kepada harian bisnis RBK.

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov mengusulkan, adanya pembicaraan lanjutan terkait negosiasi perdamaian Ukraina di Istanbul pada 2 Juni 2025. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menegaskan kembali bahwa ia tidak akan memberlakukan sanksi anti-Rusia, sambil mengungkapkan harapannya dalam penyelesaian konflik tersebut.

Sebagai informasi harga minyak mentah Brent, yang menjadi patokan global untuk ekspor utama Rusia, terpantau naik 1,2% menjadi USD65,68 per barel. "Latar belakang geopolitik yang membaik dan kondisi pasar minyak yang menguntungkan diharapkan dapat mengimbangi penurunan di akhir bulan terkait pasokan mata uang asing setelah pembayaran pajak," kata Loktyukhov.

Eksportir minyak biasanya mengonversi pendapatan dalam mata uang asing menjadi rubel pada akhir setiap bulan untuk menyelesaikan kewajiban lokal, memberikan dukungan kepada mata uang Rusia.

"Dukungan tambahan untuk rubel datang dari likuiditas valuta asing yang melimpah di pasar dan melemahnya permintaan untuk mata uang asing," menurut Natalia Pyryeva, analis utama di perusahaan investasi Tsifra Broker.

Beberapa analis melihat potensi terjadinya kenaikan lebih lanjut, memperkirakan rubel dapat menguat menjadi 75 per dolar bulan ini jika momentum geopolitik berlanjut. Namun, mereka telah memperingatkan bahwa reli ini mungkin tidak akan bertahan lama tanpa kemajuan yang nyata dalam negosiasi perdamaian.

Moskow dan Washington telah melanjutkan keterlibatan diplomatik tingkat tinggi setelah kembalinya Presiden AS Donald Trump ke Gedung Putih untuk kedua kalinya. Ia telah berulang kali menyerukan penyelesaian cepat atas konflik tersebut dan perubahan hubungan bilateral.

Minggu lalu, Trump dan Presiden Rusia, Vladimir Putin melakukan percakapan melalui telepon selama dua setengah jam, yang dianggap produktif oleh kedua pemimpin. Pada awal bulan ini, delegasi Rusia dan Ukraina bertemu di Istanbul untuk pembicaraan langsung pertama mereka sejak Kiev secara sepihak menarik diri dari proses perdamaian pada tahun 2022.

Baca Juga: Daya Tarik Dolar AS Meredup, Ternyata Ini Sebabnya

Sebagai hasil dari pembicaraan tersebut, kedua belah pihak melakukan pertukaran tahanan terbesar sejauh ini, dengan masing-masing negara membebaskan 1.000 individu.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dolar AS Makin Ganas...
Dolar AS Makin Ganas di Tengah Perang, Harga Minyak Tembus USD90 per Barel
Rupiah Semringah Sambut...
Rupiah Semringah Sambut Akhir Pekan, Menjauh dari Level Rp18 Ribu per Dolar AS
Bukan Cuma Harga Minyak,...
Bukan Cuma Harga Minyak, Tata Kelola APBN yang Buruk Jadi Biang Kerok Lemahnya Rupiah
Rupiah Ditutup Menguat...
Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.986 per Dolar AS, Apa Saja Penyebabnya?
Rupiah Belum Menjauh...
Rupiah Belum Menjauh dari Level Rp18.068 per USD, Intip 2 Sentimen Penyebabnya
Rupiah Ambruk Diterpa...
Rupiah Ambruk Diterpa Mega Korupsi hingga Konflik AS-Iran, Hari ini Tembus Rp18.109 per USD
Jenderal Ini Klaim Ukraina...
Jenderal Ini Klaim Ukraina Akan Mengalami Kekalahan, Ini 4 Pemicunya
Meski Dihujani Puluhan...
Meski Dihujani Puluhan Rudal Rusia, Kenapa Jumlah Korban Tewas di Ukraina Tidak Banyak?
39 Rudal Rusia Hujani...
39 Rudal Rusia Hujani Ibu Kota Ukraina, Warga Sipil Ketakutan
Rekomendasi
Dokter Ungkap Penentu...
Dokter Ungkap Penentu Jenis Kelamin Bayi Bukan dari Ibu, tapi Ayah
Kisah Ghetto Kids: Dari...
Kisah Ghetto Kids: Dari Gang Sempit Kampala ke Panggung Piala Dunia dan Berduet dengan Shakira
Piala Dunia 2026: Netanyahu...
Piala Dunia 2026: Netanyahu Dukung Argentina karena Pro-Israel, tapi Justru Dikalahkan Spanyol
Berita Terkini
IHSG Pekan Ini Berpeluang...
IHSG Pekan Ini Berpeluang ke Level 6.380, Musim Laporan Keuangan Emiten Jadi Motor Penggerak
Dolar AS Makin Ganas...
Dolar AS Makin Ganas di Tengah Perang, Harga Minyak Tembus USD90 per Barel
MengEmaskan Indonesia,...
MengEmaskan Indonesia, Wamenaker Jadi Saksi Keunggulan Manajerial Pegadaian
Produksi CPO RI Capai...
Produksi CPO RI Capai 53 Juta Ton, Hilirisasi Sawit Perlu Dipercepat
Tinggalkan Jas dan Dasi,...
Tinggalkan Jas dan Dasi, Pekerja Kantoran di Jepang Boleh Pakai Celana Pendek dan Kaus Oblong
BI: Penyerapan Tenaga...
BI: Penyerapan Tenaga Kerja RI Melambat di Triwulan II 2026
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved