Tinggalkan Era Buruh Murah, Vietnam Targetkan Jadi Macan Asia Baru di 2045

Rabu, 20 Agustus 2025 - 20:10 WIB
loading...
Tinggalkan Era Buruh...
Presiden Vietnam To Lam saat bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing pada 19 Agustus 2024. Keduanya menyaksikan upacara penghormatan. FOTO/AP
A A A
JAKARTA - Vietnam mencanangkan ambisi besar untuk menjadi negara makmur menjelma menjadi macan Asia baru pada 2045. Demi mewujudkan target tersebut, pemerintah melakukan perombakan ekonomi menyeluruh guna menghadapi berbagai tantangan, mulai dari tekanan perdagangan, jebakan pendapatan menengah, hingga ancaman perubahan iklim.

Ambisi Vietnam ini mengikuti kesuksesan negara-negara seperti Korea Selatan dan Taiwan yang sebelumnya dijuluki "Macan Asia". Transformasi Vietnam telah luar biasa, pendapatan per kapita atau kesejahteraan berdasarkan keseimbangan kemampuan berbelanja (PPP) melonjak lebih dari 13 kali lipat dari USD 1.200 pada 1990 menjadi USD 16.385 tahun ini.

Baca Juga: Langkah Strategis Vietnam Gabung BRICS, Perkuat Posisi Asia Tenggara di Panggung Global

Meski telah menjadi pusat manufaktur global dengan infrastruktur modern dan kelas menengah yang tumbuh pesat, model pertumbuhan berbasis ekspor dan tenaga kerja murah mulai menunjukkan kelemahan. Pemerintah menyadari perlunya lompatan besar untuk menghindari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap), di mana pertumbuhan ekonomi mandek tanpa reformasi struktural.

Tekanan eksternal juga datang dari Presiden AS Donald Trump, yang marah atas surplus perdagangan Vietnam-AS yang mencapai USD 123,5 miliar pada 2024. Trump sempat mengancam tarif impor hingga 46%, yang akhirnya dinegosiasikan menjadi tingkat yang lebih rendah meski dengan kekhawatiran atas muatan produk China yang disalurkan melalui Vietnam (transshipment).

Menyadari model lama tak lagi sustainable, Vietnam kini berfokus pada sektor-sektor berteknologi tinggi seperti chip komputer, kecerdasan artifisial (AI), dan energi terbarukan, mengikuti jejak China. Investasi infrastruktur masif juga digenjot, termasuk pembangunan jalur kereta api cepat Utara-Selatan senilai USD 67 miliar yang akan memangkas perjalanan Hanoi-Ho Chi Minh City menjadi hanya delapan jam.

Adapun yang paling mencolok adalah perubahan paradigma politik. Partai Komunis Vietnam melalui Resolusi 68 secara resmi menetapkan sektor swasta sebagai "kekuatan terpenting" dalam perekonomian, sebuah pergeseran seismik dari dominasi sebelumnya oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan perusahaan asing.

Kebijakan baru ini bertujuan menciptakan "juara nasional" dengan memberikan kemudahan akses pendanaan, prioritas dalam tender pemerintah, dan dukungan ekspansi ke pasar global. Proyek strategis seperti kereta cepat pun kini terbuka untuk swasta.

Namun, pakar memperingatkan hambatan dari kalangan konservatif dalam partai dan mereka yang diuntungkan dari sistem BUMN. "Sektor swasta masih sangat dibatasi," ujar Nguyen Khac Giang dari ISEAS–Yusof Ishak Institute, Singapura dikutip dari AP, Rabu (20/8).

Baca Juga: Seberapa Luas Wilayah Ukraina yang Dicaplok Rusia?

Ancaman perubahan iklim juga sangat nyata. Bank Dunia memperkirakan Vietnam bisa kehilangan 12-14,5% PDB per tahun pada 2050 dan satu juta orang jatuh miskin pada 2030 jika tidak ada aksi adaptasi yang kuat. Risiko ini memaksa dunia usaha berinovasi, seperti yang dilakukan kawasan industri DEEP C yang membenahi sistem mitigasi banjirnya.

Tantangan demografi juga mengintai. Jendela bonus demografi Vietnam, dimana penduduk usia kerja lebih banyak, akan menutup pada 2039. Tenaga kerja diproyeksikan memuncak tak lama setelahnya, berpotensi menurunkan produktivitas dan membebani jaminan sosial.

Untuk mengantisipasinya, Vietnam berupaya memperluas akses kesehatan preventif, menaikkan usia pensiun secara bertahap, dan mendorong lebih banyak perempuan masuk ke dalam angkatan kerja formal guna mengompensasi kekurangan tenaga kerja dan mendukung "penuaan yang sehat". Percepatan reformasi menjadi kunci sebelum semua jendela kesempatan tertutup.

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS Terapkan Blokade...
AS Terapkan Blokade Baru di Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Melonjak 9%
AS-Iran Kembali Saling...
AS-Iran Kembali Saling Serang, Harga Minyak Dunia Melesat Lebih 3%
Teluk Kembali Memanas,...
Teluk Kembali Memanas, China Siaga Jaga Produksi BBM Tetap Tinggi
Permintaan Minyak Global...
Permintaan Minyak Global Diramal Turun Tajam di 2026, Terburuk sejak Pandemi Covid-19
Industri Plastik Tertekan...
Industri Plastik Tertekan Impor Murah China, Pabrik Mulai Pangkas Jam Kerja
Rahasia Industri Logam...
Rahasia Industri Logam Tanah Jarang China Dibongkar Ilmuwan, AS-Jepang Pegang Kunci Mineral Langka!
TV Iran Rayakan Kematian...
TV Iran Rayakan Kematian Mendadak Senator AS Pro-Israel: 'Dikirim ke Neraka'
Perang AS dan Iran Ternyata...
Perang AS dan Iran Ternyata Tak Menguntungkan Pihak yang Bertikai, Ini 4 Alasannya
Trump Lontarkan Klaim...
Trump Lontarkan Klaim Mengejutkan: 90% Mojtaba Khamenei Telah Tewas
Rekomendasi
Truk Crane Tabrak JPO...
Truk Crane Tabrak JPO di Tendean, Lalu Lintas Menuju Blok M Macet Parah
Trump Lontarkan Klaim...
Trump Lontarkan Klaim Mengejutkan: 90% Mojtaba Khamenei Telah Tewas
Kemendikdasmen Terbitkan...
Kemendikdasmen Terbitkan SE Pembatasan Penggunaan Gawai di Sekolah
Berita Terkini
Kilau Emas Antam Meredup,...
Kilau Emas Antam Meredup, Hari Ini Turun Lagi Rp20.000 per Gram
TikTok Tingkatkan Transparansi...
TikTok Tingkatkan Transparansi AI, Alokasikan USD4 Juta untuk Program Edukasi
Dibuka Menguat 0,33%,...
Dibuka Menguat 0,33%, IHSG Berbalik Melemah di Menit Pertama
Cara Mengajukan Pembetulan...
Cara Mengajukan Pembetulan Data PBB-P2 secara Online, Simak Syarat dan Tahapannya
AS Terapkan Blokade...
AS Terapkan Blokade Baru di Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Melonjak 9%
Trump Raih Cuan Jumbo...
Trump Raih Cuan Jumbo dari Kripto, Mayoritas Dialihkan ke Saham dan Obligasi
Infografis
26 Perwira Dimutasi...
26 Perwira Dimutasi Jadi Kapolres di Pulau Jawa pada Mutasi Juni 2025
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved